Cara Unimus Cetak Guru Berkarakter, Bukti Keunggulan Pendidikan Muhammadiyah
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Pendidikan profesi guru masa kini memerlukan terobosan nyata agar melahirkan pendidik yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Universitas Muhammadiyah Semarang secara nyata menguji kedisiplinan fisik para mahasiswa PPG demi mencetak pendidik yang tangguh pada Jumat (12/06/26).
Terobosan berani ini menjadi bukti nyata bagaimana keunggulan pendidikan Muhammadiyah dalam melahirkan generasi guru masa depan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas moral yang kokoh.
Matahari Jumat pagi itu menyengat Lapangan Tembak Kodam IV/Diponegoro, Semarang. Meskipun demikian, ratusan mahasiswa PPG Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026 tetap bergeming dalam barisan yang rapi.
Deru angin lapangan dan aba-aba tegas dari instruktur TNI memecah kesunyian pagi. Momentum tersebut menandai dimulainya gemblengan fisik dan mental selama tiga hari berturut-turut. Di tempat inilah, atmosfer disiplin tinggi khas militer melebur secara harmonis dengan kelembutan nilai-nilai kemanusiaan.
Implementasi Kurikulum Pendidikan Karakter Melalui Sinergi Militer
Latihan intensif ini bukan sekadar simulasi fisik yang melelahkan. Sebaliknya, kegiatan ini merupakan bagian integral dari kurikulum pendidikan karakter yang diterapkan secara ketat oleh pihak kampus. Oleh karena itu, Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) secara sengaja merancang program ini untuk melahirkan pendidik yang adaptif terhadap tantangan zaman. Calon-calon guru tidak hanya belajar cara menguasai kelas, melainkan juga cara menaklukkan ego serta rasa lelah mereka sendiri.
Melalui kolaborasi erat bersama Kodim 0733/Kota Semarang, setiap peserta ditempa untuk menginternalisasi rasa tanggung jawab yang tinggi. Selain itu, mereka juga dilatih untuk memupuk semangat nasionalisme yang kuat.
Dekan FIPH Unimus, Prof. Dr. Dodi Mulyadi, M.Pd., ikut mengawasi jalannya kegiatan secara langsung dari pinggir lapangan. Ia menegaskan bahwa profesionalisme seorang pendidik menuntut keseimbangan yang utuh antara kecerdasan otak dan ketahanan mental.
Karakter yang kuat menjadi fondasi utama sebelum seorang guru mentransfer ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya. Oleh sebab itu, Unimus memandang serius aspek pembentukan mental ini.
“Menjadi guru profesional tidak cukup hanya menguasai materi di kelas. Calon guru harus memiliki ketangguhan mental, kedisiplinan, dan rasa cinta tanah air yang kuat,” tegas Ia saat memantau peserta di lapangan.
Pilar Utama Keunggulan Pendidikan Muhammadiyah dalam Menghadapi Zaman
Ketangguhan mental yang dibentuk di lapangan tembak ini menjadi bukti nyata bagaimana keunggulan pendidikan Muhammadiyah diimplementasikan secara konkret. Pihak kampus tidak ingin melahirkan lulusan yang bermental rapuh saat menghadapi realitas dunia pendidikan yang dinamis.
Oleh karena itu, atmosfer diklat dirancang sedemikian rupa guna memicu kerja sama kelompok dan kepemimpinan yang solid. Di bawah bimbingan para pelatih TNI, para mahasiswa belajar mengikis keraguan dan menumbuhkan rasa percaya diri yang kokoh. Program intensif pada PPG Unimus Semarang ini secara konsisten menyelaraskan antara ketajaman akademik dan kedalaman akhlak.
Ketegasan baris-berbaris di lapangan bermuara pada satu tujuan besar, yakni membentuk pendidik yang berwibawa namun tetap humanis. Selaras dengan hal tersebut, Wakil Rektor I Unimus, Prof. Dr. Budi Santosa, M.Si., Med., ikut memberikan pandangan strategisnya. Ia menegaskan bahwa esensi bela negara bagi seorang pendidik memiliki jalur yang berbeda.
“Guru harus memiliki kejujuran, ketangguhan, kedisiplinan, dan kasih sayang kepada peserta didik. Nilai-nilai inilah yang menjadi bekal penting dalam menjalankan profesi sebagai pendidik,” ujarnya dengan berwibawa.
Standardisasi Ketat Menuju Sertifikasi Guru Profesional yang Humanis
Selanjutnya, Ketua Program PPG Unimus, Dr. Siti Aimah, M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan Bela Negara merupakan bagian penting dari pembentukan kepribadian mahasiswa.
Melalui penataan mental yang terukur ini, proses meraih sertifikasi guru profesional di UNIMUS bertransformasi menjadi perjalanan spiritual yang mendalam. Pengalaman nyata menghadapi tekanan fisik di lapangan menjadi modal berharga bagi mereka saat harus mengelola kelas kelak.
Oleh karena itu, setiap materi latihan dirancang secara matang untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar. Ia menilai bahwa bekal kepemimpinan ini akan menjadi pembeda saat alumni mulai mengajar secara resmi.
“Mahasiswa PPG tidak hanya dituntut memiliki kompetensi pedagogik yang baik, tetapi juga karakter kebangsaan yang kuat sehingga mampu menjadi teladan bagi peserta didik,” ungkap Ia dengan penuh optimisme.
Pada akhirnya, gemblengan tiga hari di markas tentara ini mengirimkan pesan kuat tentang esensi sejati keunggulan pendidikan Muhammadiyah.