Blusukan ke Lereng Gunung, Aksi Sosial Aisyiyah Bedah Realitas dan Potensi Ranting Baru Desa Nglurah
Tawangmangu, muhammadiyahsemarangkota.org — Keluar dari zona nyaman perkotaan demi menyerap langsung denyut nadi kehidupan masyarakat pedesaan membutuhkan komitmen yang luar biasa. Langkah konkret inilah yang melatari pergerakan puluhan perempuan paruh baya dari Kota Atlas di lereng Gunung Lawu. Mereka mengubah ruang hangat hotel menjadi ruang riset sosiologis yang penuh dengan tantangan fisik.
Agenda blusukan ilmiah ini menandai hari kedua rangkaian Jambore Kemanusiaan Aisyiyah Jawa Tengah pada Ahad (28/6/2026) kemarin. Rombongan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Semarang kebagian mandat penting untuk menyisir wilayah Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Nglurah. Mereka bertugas sebagai tim surveyor khusus yang berfokus pada pendataan kader serta statistik desa.
Di bawah pendampingan langsung dari jajaran Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah, Ketua PDA Kota Semarang, Aminah Kurniasih, S.Pd., M.Pd., bersama sekretaris daerahnya memimpin pergerakan taktis tim surveyor di lapangan. Mereka bersama-sama mengorek banyak informasi penting seputar peta monografi desa, jadwal (Musyawarah Rencana Pembangunan Desa) Musrenbangdes, hingga keterbukaan anggaran dana desa. Langkah strategis dalam aksi sosial Aisyiyah Kota Semarang ini bertujuan melahirkan rekomendasi pembangunan berbasis data akurat.
Gali Data Statistik Lapangan
Proses wawancara dengan pengurus lokal menguak fakta bahwa mayoritas mata pencaharian warga Desa Nglurah bertumpu pada sektor pertanian. Pihak ranting membeberkan angka sekitar 80 persen penduduk lokal menggantungkan hidup dari hasil bumi. Meski berada di pelosok, desa ini rupanya sudah memiliki pusat data monografi fisik yang cukup terbuka dan mutakhir.
Tim surveyor juga mengendus peluang kolaborasi yang sangat besar terkait kebijakan anggaran pemerintah desa setempat. Pihak ranting menjelaskan bahwa birokrasi desa selalu membuka pintu kemitraan dan bersedia membagi anggaran dengan organisasi perempuan. Momentum perencanaan program tersebut biasanya terpusat pada setiap bulan Oktober melalui forum musyawarah desa.
“Kami dari Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Semarang, alhamdulillah pada hari ini kami bisa mengikuti kegiatan jambore di Tawangmangu. Kami menanyakan bagaimana data statistik yang ada di desa Nglurah tersebut untuk mendukung program integrasi ke depan,” ungkap Aminah Kurniasih saat membeberkan fokus risetnya.
Jaga Kepedulian Sesama Perempuan
Melangkah lebih dalam, tim surveyor menemui realitas unik mengenai kondisi internal PRA Nglurah yang ternyata baru berusia beberapa bulan. Ranting pemula ini baru memiliki anggota aktif sekitar 5 hingga 10 orang saja, sehingga aktivitasnya masih menempel pada cabang. Namun, keterbatasan modal dan fasilitas tersebut sama sekali tidak menyurutkan nyali mereka untuk menebar manfaat sosial.
Ketua PRA Nglurah, Warsiem, menceritakan kehadiran tim khusus yang menangani pemulasaran jenazah bagi warga perempuan di wilayah setempat. Warsiem mengaku skuadnya selalu menjadi garda terdepan yang turun langsung mengurus seluruh prosesi pensucian saat ada warga wanita yang meninggal dunia. Di luar aksi sosial tersebut, mereka juga aktif menggerakkan pengajian umum berkala setiap hari Senin untuk merangkul jamaah baru.
“Kami membentuk tim khusus untuk membantu mengurus jenazah Ibu-ibu atau perempuan. Jadi setiap ada warga perempuan yang meninggal dunia, tim kami yang langsung terjun ke lapangan. Harapannya kunjungan ini memberi tambahan motivasi untuk kami, supaya kami juga berkembang lebih pesat dan lebih maju dari sebelumnya,” tutur Warsiem dengan penuh harap.
Sentuhan emosional melalui aksi sosial Aisyiyah Kota Semarang ini membawa angin segar bagi penguatan ideologi di akar rumput. Hasil olahan data statistik dari lapangan ini nantinya akan bermuara pada penyusunan dokumen ilmiah komprehensif. Melalui jalinan persaudaraan yang erat, ibu-ibu Aisyiyah optimis mampu menuntun ranting-ranting kecil di pelosok agar bisa mandiri secara ekonomi dan organisasi.