Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Lama Dinanti, Rindu Belajar Mengaji Warga Akhirnya Terobati

29 Juni 2026, 18:46 WIB • 2 menit baca
Ustadz Ananto sedang memegang buku metode Fashahatul Lisan saat memberikan materi belajar mengaji tajwid kepada warga di Musholla At-Tauhid Semarang.
Ustadz Ananto saat menjelaskan rumus tajwid praktis kepada komunitas mengaji dewasa di Perumahan Aira, Ngaliyan, Semarang, Ahad (28/6/2026).

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Para warga Perumahan Permata Puri dan sekitarnya di Bringin Ngaliyan akhirnya menuntaskan rasa rindu belajar mengaji. Saat ini, majelis perbaikan bacaan Al-Qur’an kembali berdenyut aktif. Secara nyata, kegiatan ini sukses mengobati dahaga spiritual masyarakat setempat.

Sesuai jadwal, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Bringin menyelenggarakan program Tahsinul Qira’ah. Kegiatan ini berlangsung pada Ahad (28/06/26). Adapun pembinaan rutin ini berlokasi di Musholla At-Tauhid, Kota Semarang. Selanjutnya, pengurus membuka kelas ini untuk seluruh lapisan masyarakat.

Rumus Praktis Ustadz Ananto

Dalam sesi tersebut, Ustadz Ananto memperkenalkan sebuah pendekatan praktis. Secara khusus, ia membagikan rumus “Masiteti Konbi” kepada para peserta. Oleh karena itu, komunitas mengaji dewasa merasa sangat terbantu.

“Secara detail, rumus ini mencakup Makharijul Huruf dan Sifatul Huruf. Selain itu, rumus ini memuat kaidah Tebal-Tipis Huruf serta Konsisten-Biasa. Pastinya, pendekatan ini sangat membantu peserta mengingat kaidah tajwid,” jelas Ustadz Ananto.

Menghindari Perubahan Makna

Lebih lanjut, sang instruktur menyoroti pentingnya keakuratan pelafalan huruf hijaiyah. Bahkan, ia menegaskan dampak fatal dari sebuah kesalahan kecil. Akibatnya, pemahaman ini memacu jamaah mencari cara memperbaiki bacaan Quran.

“Faktanya, kesalahan pada makhraj huruf dapat mengubah lafaz dan makna. Oleh sebab itu, ketepatan pelafalan wajib menjadi prioritas utama kita,” tegasnya.

Metode Pembelajaran Sistematis

Selain rumus praktis, pengurus turut mengadopsi metode Fashahatul Lisan. Sebagai informasi, Syaikh Khanova Maulana, Lc., M.Pd.I., merancang metode monumental ini. Selanjutnya, pendekatan terstruktur ini menjadikan Matan Al-Jazariyyah sebagai rujukan utama. Hasilnya, peserta mampu mempraktikkan teori dengan sangat sistematis.

“Meskipun demikian, kesalahan sifat huruf tergolong lebih ringan daripada makhraj. Namun, kita wajib memperbaiki kekurangan tersebut secara perlahan. Tentunya, kita harus melewati proses belajar yang konsisten,” ungkap Ustadz Ananto.

Pada akhirnya, program Tahsin Al-Qur’an gratis ini menjelma menjadi oase. Terlebih lagi, semangat warga membuktikan antusiasme belajar menembus batas usia. Alhasil, jamaah sukses mewujudkan impian mereka untuk meluruskan lisan.

Kontributor: Tim Media PRM
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: