Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 3 menit baca

Milad 63 Tapak Suci: Refleksi Sejarah dan Langkah Strategis Menyongsong Muktamar XVI Semarang

Drs. H. Nurbini, MSI

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo

Milad 63 Tapak Suci: Refleksi Sejarah dan Langkah Strategis Menyongsong Muktamar XVI Semarang
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Drs. H. Nurbini, MSI, mengajak umat Islam meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam interaksi sosial sehari-hari pada momentum peringatan Maulid Nabi 12 Rabiul Awal 1448 H. Nurbini saat ini juga aktif mengajar sebagai Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo.

Hari ini, tanggal 31 Juli 2026, Tapak Suci Putera Muhammadiyah resmi merayakan milad ke-63. Momentum Milad 63 Tapak Suci ini menandai perjalanan panjang yang penuh perjuangan. Perguruan ini lahir pada 31 Juli 1963 di Kauman, Yogyakarta.

Sejak berdiri, Tapak Suci terus berkembang pesat. Organisasi ini tidak sekadar menjadi perguruan pencak silat biasa. Lebih dari itu, Tapak Suci bertransformasi menjadi gerakan dakwah dan pendidikan karakter. Pembinaan generasi bangsa ini selalu berlandaskan nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Enam dekade bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah organisasi. Selama rentang waktu tersebut, Tapak Suci sukses melahirkan jutaan kader tangguh. Mereka terdiri dari atlet, pelatih, ulama, hingga tokoh masyarakat.

Para kader ini kini tersebar luas di berbagai daerah hingga mancanegara. Oleh karena itu, organisasi otonom Muhammadiyah ini terbukti sangat dinamis. Mereka memiliki daya jangkau luas dalam membina umat dan bangsa.

Keistimewaan utama perguruan ini terletak pada identitas bela diri Islam. Sejak awal kelahirannya, organisasi ini membawa semangat pembaruan atau tajdid. Mereka selalu menempatkan iman dan akhlak sebagai fondasi utama pembinaan.

Semangat ini jelas tercermin dalam semboyan kebanggaan kader. Semboyan tersebut berbunyi, “Dengan Iman dan Akhlak Saya Menjadi Kuat, Tanpa Iman dan Akhlak Saya Menjadi Lemah”. Melalui prinsip ini, Tapak Suci membentuk manusia yang disiplin, berani, dan bertanggung jawab.

Sumbangsih Tapak Suci Bagi Bangsa dan Muhammadiyah

Dalam perjalanannya, Tapak Suci memberikan kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia. Pertama, mereka aktif membina generasi muda di tengah tantangan globalisasi. Organisasi ini gigih menanamkan kedisiplinan untuk menangkal krisis moral dan kekerasan remaja.

Kedua, para atlet perguruan ini turut mengharumkan nama bangsa. Mereka rutin meraih prestasi pencak silat di tingkat daerah hingga internasional.

Ketiga, perguruan ini berkomitmen melestarikan pencak silat Indonesia sebagai warisan budaya. Mereka terus menjaga identitas budaya luhur bangsa dari arus pergaulan global.

Keempat, para kader juga selalu proaktif dalam berbagai kegiatan sosial. Mereka sering turun langsung dalam misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Fakta ini membuktikan bahwa pesilat Tapak Suci selalu peduli terhadap kondisi masyarakat.

Sebagai organisasi otonom, Tapak Suci memegang peran krusial dalam misi dakwah. Di berbagai daerah, perguruan ini menjadi pintu masuk dakwah Persyarikatan. Banyak anak muda mengenal Muhammadiyah pertama kali melalui latihan bela diri ini. Setelah itu, mereka mulai aktif berkontribusi dalam berbagai amal usaha organisasi.

Lebih dari itu perguruan silat ini juga memperkuat sistem kaderisasi Muhammadiyah. Proses latihan yang sistematis sukses mencetak kader-kader pemimpin militan.

Di lingkungan sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi, Tapak Suci menjadi media penanaman nilai. Mereka secara efektif menanamkan karakter Islam Berkemajuan yang menjadi ciri khas Muhammadiyah.

Memasuki usia ke-63, tantangan yang menghadang organisasi kini semakin kompleks. Era digital dengan cepat mengubah pola pendidikan dan komunikasi masyarakat. Persaingan di dunia olahraga pun kini terasa semakin ketat dan menantang. Oleh sebab itu, Tapak Suci tidak boleh hanya berpuas diri dengan sejarahnya. Mereka wajib bertransformasi menjadi organisasi yang lebih modern dan adaptif. Transformasi ini mencakup digitalisasi administrasi, pengembangan ilmu olahraga, dan penguatan jaringan internasional.

Tantangan Menyongsong Muktamar XVI Semarang

Refleksi Milad 63 Tapak Suci ini sangat relevan dengan agenda strategis ke depan. Organisasi segera menggelar Muktamar XVI di Semarang. Perhelatan akbar ini dijadwalkan berlangsung pada 6–9 Agustus 2026 mendatang dengan Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) sebagai tuan rumahnya. Muktamar ini bukan sekadar ajang rutin pergantian kepemimpinan. Forum ini menjadi momentum krusial untuk evaluasi, konsolidasi, dan perumusan strategi.

Tema besar Muktamar XVI Semarang ini berbunyi, “Berakar Tradisi Menuju Tapak Suci Modern, Mandiri, dan Mendunia”. Tema tersebut merefleksikan identitas perjalanan panjang organisasi secara tepat. Mereka ingin menjaga warisan tradisi sambil terus beradaptasi dengan kemajuan zaman. Momentum ini diharapkan mampu melahirkan gagasan besar dan kepemimpinan visioner.

Selamat merayakan Milad ke-63 Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Tetaplah berakar tradisi, menjadi modern, mandiri, dan mendunia.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: