Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Lupa Jumlah Rakaat Saat Salat? Waspada, Tumpukan Dosa Harian Jadi Penyebabnya

3 Agustus 2026, 20:38 WIB 3 menit baca
Ratusan ibu-ibu jamaah 'Aisyiyah dan warga Semarang Barat duduk rapi mendengarkan materi Kajian Ahad Pagi mengenai penyebab salat tidak khusyuk di dalam Masjid Al-Muhajirin.
Suasana antusias seratusan jamaah ibu-ibu 'Aisyiyah di Masjid Al-Muhajirin Semarang Barat saat menyimak materi kajian spiritual mengenai penyebab salat tidak khusyuk akibat noda dosa harian.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Banyak orang kerap mengeluhkan pikiran yang mendadak melayang jauh tatkala berdiri di atas sajadah. Tumpukan ingatan soal pekerjaan hingga barang yang hilang sering kali muncul dan merusak fokus ibadah.

Fenomena batin yang sering menimpa umat Islam tersebut menjadi pembahasan utama dalam Kajian Ahad Pagi. Agenda rutinitas Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Semarang Barat ini berlangsung meriah di Masjid Al-Muhajirin pada Ahad (2/8/2026). Forum ilmu tersebut membongkar penyebab salat tidak khusyuk akibat noda dosa harian.

Penceramah kajian tersebut, Drs. H. Danusiri, M.Ag., menegaskan bahwa kemaksiatan kecil yang terbiasa dilakukan sehari-hari sanggup mengikis kelezatan ibadah. Oleh karena itu, seseorang yang sulit menikmati salat hendaknya segera meluruskan niat dan memohon ampunan.

Sosok yang menjabat sebagai Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Anggota Komisi Dakwah MUI Kota Semarang ini membeberkan trik setan saat menggoda manusia. Setan memang akan lari terbirit-birit sewaktu adzan dan iqamah berkumandang. Namun, setan akan kembali mendekat tatkala takbiratul ihram bermula.

Pahami Makna Bacaan

Selanjutnya, penceramah Kajian PCA Semarang Barat tersebut mengimbau jamaah untuk tidak sekadar menghafal bacaan salat. Memahami arti dari setiap bait doa yang diucapkan menjadi benteng paling ampuh menghalau godaan pikiran duniawi.

Maka dari itu, kebiasaan mendidik anak untuk mendirikan salat sejak usia dini juga menjadi kunci pembentukan karakter. Orang tua wajib memberikan bimbingan serta ketegasan agar anak-anak terbiasa menjaga waktu salat sejak umur sepuluh tahun.

Selain itu, kesadaran memahami makna bacaan akan membuat seseorang merasakan kehadiran Allah SWT. Kebiasaan salat yang khusyuk secara otomatis sanggup mencegah diri dari perbuatan keji maupun munkar.

“Ketika salat kita belum mampu mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar, itu tanda kita belum merasakan kelezatan ibadah. Setan sengaja membisikkan urusan duniawi agar kita lupa jumlah rakaat,” tutur Danusiri di hadapan jamaah.

Bawa Pulang Santapan Rohani Sekaligus Paket Sembako Dapur

Di samping menyerap ilmu pencerah jiwa, sekitar 125 jamaah yang memadati Masjid Al-Muhajirin juga mendapat kejutan manis. Panitia pengajian PCA Semarang Barat membagikan paket sembako berupa mie instan dan minyak goreng kepada seluruh warga.

Anggota Komisi Dakwah MUI Kota Semarang ini menyambut baik langkah nyata panitia dalam memadukan dakwah rohani dengan kepedulian sosial. Ketersediaan sembako gratis tersebut menjadi bukti kehangatan ‘Aisyiyah dalam mengayomi masyarakat sekitar.

Guna menutup rangkaian kajian Ahad pertama di awal bulan ini, panitia berharap silaturahmi warga terus terjaga erat. Gerakan kepedulian sosial akan terus berjalan beriringan dengan upaya penguatan akidah umat.

“Salat itu benteng utama kehidupan kita. Mari perbaiki kualitas salat dengan memahami artinya, lalu imbangi dengan kepedulian nyata membantu sesama yang membutuhkan,” pangkas Drs. H. Danusiri, M.Ag. mengakhiri pesannya.

Kontributor: LPPA PCA Sembar
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: