Menyambung kajian sebelumnya yang membahas syafaat agung berupa mahkota kemuliaan, seri kelima ini mengajak kita menyelami makna ketaatan. Bagi kaum muslimin yang benar-benar beriman, memahami keutamaan Al-Qur’an secara utuh pasti melahirkan sikap sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat) terhadap seluruh petunjuk-Nya.
Kitab suci ini menyimpan kebijaksanaan yang mutlak tanpa tanding (wal qur’âil ĥaqīm, QS Yasin: 2). Bahkan, kebenaran firman Allah ini berlaku tegas terhadap Rasulullah SAW sendiri. Beliau pernah mendapat teguran keras dari Allah saat berdakwah menghadap seorang pemimpin umat dan mengabaikan orang buta (kisah dalam Surah ‘Abasa). Teguran lainnya turun saat beliau hendak menyalati jenazah Abdullah bin Ubay, tokoh munafik Madinah:
وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِّنْهُم مَّاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ
Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas quburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik – (QS at- Taubah: 84).
Kala itu, Umar bin Khathab berani menarik Rasulullah agar membatalkan salatnya. Rasulullah memilih menyalati jenazah tersebut hingga akhirnya Allah menegur beliau melalui ayat ini. Dari sisi kemanusiaan, Rasulullah adalah manusia paling sempurna (al-insan al-kamil) sekaligus utusan pilihan (al-Mushthafa) yang membawa rahmat bagi alam semesta. Beliau mendapat kebebasan untuk menetapkan syariat (Syari’). Meskipun demikian, karena beliau manusia, tetap ada kemungkinan tertimpa kesalahan yang pada akhirnya langsung diampuni (di-ma’fu) oleh Allah SWT.
Menjauhi Perkara Baru dalam Agama
Sebagai pemegang otoritas syariat, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya agar menaati Rasulullah SAW secara penuh (athi’ullâh waathi’urrasûl – QS Ali Imran: 32, 132). Apabila umat menolak percaya dan taat, kitab suci menantang mereka secara langsung:
فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ
Maka kepada perkataan apakah selain Alquran ini mereka akan beriman? – (QS al-Mursalat: 50, al-Jatsiyah:6).
Wujud ketaatan kepada Rasulullah SAW ini harus tertanam sekuat mungkin dalam aspek akidah, pemikiran, maupun perbuatan. Beliau menegaskan hal ini melalui sabdanya:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
Wajib atas kalian berpegang tegus dengan ajaranku dan juga ajaran khulafaur rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah kuat-kuat ajaran tersebut dengan gigi geraham kalian – (HR Turmuzi: 2676, Ibnu Majah: 42).
Dalam ungkapan yang jauh lebih tegas dan jelas mengenai kemurnian ibadah, beliau bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ اَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barang siapa mengerjakan sesuatu yang tidak ada di dalamnya perintahku, maka tertolak – (HR Bukhari: Muslim: 3243, Ahmad: 24298, Ahmad: 24840, 24995, 25124, Daruquthni: 2488, 4491).
Terdapat pula hadis semakna yang berbunyi:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهًوَ رَدٌّ
Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak – (HR Bukhari: 2499, Muslim: 3242, Abu Dawud: 3990, Ibnu Majah: 14, Ibnu Hibban: 26, 27).
Keistimewaan Jasad Para Nabi
Seorang muslim yang menaati Allah dan Rasul-Nya secara penuh dalam kapasitas kemanusiaannya layak menyandang predikat Ahlul Qur’an wa sunnah sejati. Nabi Muhammad SAW adalah contoh paripurna. Terkait manusia pilihan ini, banyak riwayat sahih menyebutkan bahwa jasad para nabi di alam kubur tetap utuh, tidak membusuk, dan tidak hancur. Beliau bersabda (dengan berbagai redaksi yang esensinya sama):
إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنْ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ» فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟ يَقُولُ: بَلِيتَ، قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ
Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca sholawat untukku pada hari itu, karena sesungguhnya bacaan sholawatmu itu ditampakkan kepadaku. Para sahabat bertanya, Ya Rasulullah, bagaimana bacaan shalawat kami diperlihatkan kepadamu sedangkan engkau telah hancur dalam tanah? Beliau bersabda, Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi (HR Abu Dawud: 883, 1308, Nasa’i:1357, Ibnu majah: 1075, 1626, 1627, Darimi: 1526, Ahmad: 15575, Ibnu Khuzaimah: 1731).
Fakta Tulang Ekor dan Alam Kubur
Beranjak dari dalil di atas, muncul pandangan di masyarakat bahwa banyak jenis manusia lain yang tubuhnya tidak hancur termakan bumi. Beberapa pihak meyakini jasad penghafal Al-Qur’an secara harfiah, para syuhada, muazin, hingga ulama yang ikhlas akan tetap utuh. Pandangan ini memang hidup di kalangan para ulama. Sayangnya, apabila kita melacak sumber hadis yang memvalidasi klaim tersebut, riwayatnya selalu berstatus lemah (dhaif).
Umat Islam sebaiknya berhati-hati agar tidak terjebak pada keyakinan buta tanpa dalil kuat. Menghafal firman Allah tentu sangat mulia dan menjadi bagian dari keutamaan Al-Qur’an. Namun, hafalan tersebut wajib beriringan dengan pemahaman akidah yang lurus (salimiah) agar kita tidak tergelincir pada akidah yang batal (bataliyah). Hadis riwayat Muslim berikut patut menjadi fondasi pemahaman kita tentang alam kubur:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ يَأْكُلُهُ التَّرَابُ إِلَّا عَجْبَ الذَّنَبِ مِنْهُ خُلِقَ وَفِيهِ يُرَكَّبُ
Semua anak Adam akan dimakan tanah, kecuali tulang ekornya (ajbudz dzanab). Dari tulang inilah dia diciptakan dan dari tulang ini pula jasadnya akan disusun kembali – (HR. Muslim: 5254, Nasa’i: 2050, Ahmad: 9163).
Berdasarkan dalil tersebut, keutuhan jasad para nabi merupakan pengecualian khusus (takhshish) dari takdir kehancuran fisik seluruh anak Adam. Kewajiban kita saat ini adalah menjaga kemurnian tauhid dan mendoakan hamba-hamba Allah yang saleh tersebut agar senantiasa mendapat rida-Nya.
Baca juga:
Keutamaan Al-Qur’an: Menjadikannya Sebagai Ideologi dan Pedoman Hidup (Bagian 1)
Keutamaan Al-Qur’an: Syafaat Penolong Sejati dan Ladang Pahala di Hari Kiamat (Bagian 2)
Keutamaan Al-Qur’an: Rahasia Konsisten Menjaga Kemurnian Tauhid (Bagian 3)
Keutamaan Al-Qur’an: Rahasia Meraih Rida Allah di Padang Mahsyar (Bagian 4)