Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 6 menit baca

Pendidikan Anak dalam Islam: Kewajiban Membentuk Generasi Saleh (Bagian 2)

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Komisi Dakwah MUI Kota Semarang, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Pendidikan Anak dalam Islam: Kewajiban Membentuk Generasi Saleh (Bagian 2)
Menanamkan kebiasaan berdoa dan beribadah bersama di rumah merupakan pilar fundamental dalam pendidikan anak dalam Islam guna menjaga keharmonisan dan membentengi keluarga dari fitnah. (Foto; Ilustrasi AI).

Pada bagian pertama sebelumnya, kita telah mendalami pentingnya pendidikan anak dalam Islam dengan fokus pada penanaman tauhid, pengajaran syariat salat sejak usia dini, serta hikmah memisahkan tempat tidur guna mencegah kemusyrikan dan penyimpangan akhlak. Kini, pada bagian kedua ini, pembahasan berlanjut mengupas kewajiban fundamental orang tua untuk mencetak generasi saleh, menjaga anggota keluarga dari ancaman api neraka, sekaligus membentengi tatanan rumah tangga dari berbagai fitnah kehidupan.

Tanggung Jawab Utama Kepala Keluarga

Bagi orang tua, keberadaan anak merupakan amanah yang wajib mereka pertanggungjawabkan di hadirat Allah kelak di akhirat. Orang tua menanggung kegagalan melaksanakan amanah manakala anak terjerumus menjadi penjahat molimo. Perilaku menyimpang ini mencakup tindakan main (judi), mendem (mabuk-mabukan karena minuman keras), madat (konsumsi narkoba), maling (mencuri), dan madon (berzina).

Syariat Islam menetapkan setiap orang tua sebagai penanggung jawab terhadap keluarganya. Nabi Muhammad SAW bersabda:

وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya – (HR Bukhari: 5188, Muslim:1829).

Kepala keluarga wajib memastikan diri, istri, dan anak terselamatkan dari siksa api neraka. Allah SWT memberikan peringatan tegas:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan – (QS at-Tahrim: 6).

Setiap orang tua harus berusaha sekuatnya agar anak tidak terjerumus ke dalam dunia fitnah. Jika orang tua berhasil mendidik mereka, pahala yang melimpah menanti di sisi Allah. Perintah Allah demikian:

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ

Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anak kamu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar – (QS. Al-Anfal: 27-28).

Kekuatan Doa dan Ridha Orang Tua

Anak sering kali menjadi cobaan berat bagi keluarga. Orang tua perlu memastikan sepak terjang anak senantiasa mendatangkan ridha.

رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ

Ridha Allah Swt bergantung dari ridha kedua orang tua dan kemurkaan Allah SWT bergantung dari kemurkaan orang tua – (HR at-Turmuzi: 1828, 3370).

Anak yang berilmu, saleh, serta sukses menjalani kehidupan pasti sangat menyenangkan hati orang tua. Orang tua sebaiknya merutinkan doa memohon penyejuk batin setiap hari. Tuntunan doa dari Alquran demikian:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa – ( QS al-Furqan: 74).

Doa orang tua kepada anaknya menempati posisi yang sangat mustajab. Rasulullah menyatakan bahwa doa orang tua terhadap anak itu maqbul:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Tiga doa yang akan dikabulkan, dan tidak diragukan padanya, yaitu: doa orang tua, doa orang yang bersafar, dan doa orang yang dizhalimi – (HR Abu Dawud: 1313, Ibnu Majah:3852, Ahmad: 7197, 8226, 9233, 10290, Ibnu Hibban: 10353, 2699).

Pondasi Kesalehan dan Ujian Keluarga

Kunci utama membentuk anak saleh terlihat manakala mereka tidak berani meninggalkan salat. Allah menuntun orang tua agar merutinkan doa berikut:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku – ( QS. Ibrahim: 40).

Doa tersebut wajib orang tua turuskan dengan permohonan penjagaan dari perilaku menyembah berhala:

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ

Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala – ( QS. Ibrahim: 35).

Keluarga yang kehilangan pondasi ini rentan terkena berbagai penyakit rumah tangga. Kurangnya pemahaman ilmu nikah dan kelemahan mengurus finansial sering memicu konflik internal. Masalah ini mudah menjurus pada ketidakpedulian antar anggota keluarga penyebab dominan broken home.

Allah memberikan peringatan jika anak menjadi penjahat, mereka sejatinya berubah menjadi musuh bagi orang tua. Ayat berikut patut keluarga renungkan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu maafkan, kamu santuni, dan kamu ampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang – ( QS Taghabun: 14).

Meskipun anak terlanjur durhaka dan gagal menjadi anak saleh, mereka tetaplah darah daging orang tuanya. Tindakan paling bijak adalah tetap menyantuni, memaafkan, dan mendoakan ampunan kepada Allah kendati menjadi derita batin. Kisah Nabi Nuh memberikan teladan berharga tentang kesabaran utuh menghadapi anggota keluarga yang menolak kebenaran ilahi.

Baca juga:

Pendidikan Anak dalam Islam: Penanaman Tauhid dan Syariat Salat (Bagian 1)

Pendidikan Anak dalam Islam: Pengasuhan Masa Kehamilan dan Aqiqah (Bagian 3)

Pendidikan Anak dalam Islam: Panduan ASI Eksklusif dan Cegah Stunting (Bagian 4)

Pendidikan Anak dalam Islam: Fikih Pengasuhan Masa Nifas (Bagian 5)

Pendidikan Anak dalam Islam: Kewajiban Berbakti Setelah Akil Balig (Bagian 6)

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: