Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 7 menit baca

Pendidikan Anak dalam Islam: Cara Berbakti kepada Orang Tua yang Telah Wafat (Bagian 8)

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Komisi Dakwah MUI Kota Semarang, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Pendidikan Anak dalam Islam: Cara Berbakti kepada Orang Tua yang Telah Wafat (Bagian 8)
Mengajarkan anak-anak sejak dini untuk senantiasa mendoakan kakek, nenek, beserta para leluhur merupakan amal jariah yang tak terputus, sekaligus wujud nyata berbakti kepada orang tua yang telah wafat.

Pada bagian ketujuh sebelumnya, kita telah menelaah tuntunan syariat saat orang tua menghadapi sakaratul maut hingga prosesi pengurusan jenazah yang bebas dari bidah. Pembahasan tersebut juga menggarisbawahi urgensi pelunasan utang sebelum pembagian warisan. Kini, sekuel kedelapan ini akan mengulas dimensi bakti lintas alam. Kita akan membedah kewajiban spiritual dan wujud berbakti kepada orang tua yang telah wafat, silaturahmi lintas generasi, hingga harapan mewujudkan reuni akbar di surga.

Konsep Bakti Lintas Generasi dalam Islam

Ketika orang tua telah wafat dan kembali ke pangkuan Illahi, anak-anak yang masih hidup tetap memegang kewajiban memuliakan mereka. Sebagai perwujudan berbakti kepada orang tua yang telah wafat, anak memanjatkan lantunan doa tanpa henti agar Allah memberikan kebaikan dan ampunan bagi mendiang di alam kelanggengan (pascakematian).

Secara konseptual, pendidikan anak dalam Islam menghendaki hubungan silaturahmi yang sangat luas. Islam tidak membatasi hubungan baik hanya antara dua generasi yang saling bertatap muka secara langsung. Lebih dari itu, syariat mewajibkan umat untuk menjalin hubungan spiritual yang mencakup bapak-ibu ke atas (kakek, buyut, dan leluhur) hingga keturunan ke bawah (cucu, cicit, dan generasi penerus).

Allah SWT memberikan pencerahan terkait konsep doa lintas generasi ini melalui firman-Nya:

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ إِحۡسَٰنًاۖ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ كُرۡهٗا وَوَضَعَتۡهُ كُرۡهٗاۖ وَحَمۡلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهۡرًاۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS al-Ahqaf: 15).

Menembus Batas Silsilah Menuju Reuni Surga

Dalam tradisi Jawa, masyarakat mengenal silsilah garis keturunan ke atas (leluhur) hingga 18 tingkat. Tingkatan tersebut meliputi: Simbah/Eyang, Buyut, Wareng, Udheg-udheg, Gantung Siwur, Gropak Senthe, Debog Bosok, Galih Asem, Gropak Waton, Cendheng, Giyeng, Cumpleng, Ampleng, Menyaman, Menya-menya, dan Trah Tumerah. Sementara itu, garis keturunan ke bawah mencapai tujuh tingkat: Anak, Putu, Buyut, Canggah, Wareng, Udheg-udheg, dan Gantung Siwur.

Apabila setiap generasi memiliki pemahaman agama yang lurus dan rutin memanjatkan doa “Rabbi awzi’nii” (QS al-Ahqaf: 15), niscaya umat akan menciptakan hubungan ukhrawi yang sangat agung. Masing-masing generasi akan saling memohonkan ampunan dari dosa dan mengharap curahan rahmat Allah yang tak terukur besarnya.

Allah semakin memperjelas keagungan hubungan ini melalui janji pertemuan kelak di akhirat:

وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّیَّتُهُم بِإِیمَـٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّیَّتَهُمۡ وَمَاۤ أَلَتۡنَـٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَیۡءࣲۚ

Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka di surga, dan Kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal mereka. (QS ath-Thur: 21).

Secara antropologis, seseorang sangat wajar kehilangan informasi mengenai nama lengkap apalagi lokasi makam kedelapan kakek buyutnya. Di sisi lain, banyak pula manusia yang wafat sebelum sempat menimang cucu.

Namun, generasi anak saleh mampu memangkas ketidaktahuan atas panjangnya garis keturunan tersebut. Kuncinya terletak pada keberadaan anak yang selalu mendoakan para pendahulunya. Kelak, seluruh generasi ini akan bertemu dalam satu halaqah (reuni kolosal) di surga, melampaui sekat 18 tingkat leluhur maupun 7 tingkat keturunan versi budaya manusia.

Panduan Sunah Menjalin Relasi Spiritual

Islam telah membentangkan pedoman yang sangat jelas untuk mengintensifkan relasi spiritual saat orang tua telah meninggal dunia. Bentuk relasi ini mencakup tanggung jawab kemasyarakatan dan urusan keakhiratan.

Nabi Muhammad SAW memberikan pencerahan komprehensif ketika seorang sahabat bertanya perihal amalan mulia bagi ayah dan ibu:

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِىَ مِنْ بِرِّ أَبَوَىَّ شَىْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمِ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا

Wahai Rasulullah, apa masih ada cara berbakti kepada orang tua setelah meninggal? Beliau menjawab, Ya, dengan mendoakan, meminta ampun untuknya, melaksanakan wasiatnya, menyambung silaturahmi yang tidak bisa disambung kecuali jalan mereka dan memuliakan teman-temannya. (HR Abu Dawud: 4476, Ibnu majah: 3654, Ibnu Haibban: 418). Abu Thahir Zubair Ali Zai mengatakan bahwa kualitas hadis ini hasan.

Sedangkan untuk urutan prioritas bakti saat orang tua masih hidup, Nabi SAW secara spesifik menegaskan posisi terhormat seorang ibu:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ

Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik? Beliau mengatakan, Ibumu. Dia berkata lagi, Kemudian siapa lagi? Beliau mengatakan, Ibumu. Dia berkata lagi, Kemudian siapa lagi? Beliau mengatakan, Ibumu. Dia berkata lagi, Kemudian siapa lagi? Beliau mengatakan, ‘Ayahmu. (HR Bukhari: 5514, Muslim: 4621).

Penegasan kemuliaan ibu sebanyak tiga kali dalam hadis tersebut bukan berarti anak boleh mengesampingkan sosok ayah. Syariat tetap melarang keras anak yang saleh meremehkan bapaknya walau sekecil apa pun. Mengamalkan wujud berbakti kepada orang tua yang telah wafat maupun mencurahkan kasih sayang semasa mereka hidup senantiasa menjadi esensi utama dan muara akhir dari penerapan pendidikan anak dalam Islam.

Baca juga:

Pendidikan Anak dalam Islam: Penanaman Tauhid dan Syariat Salat (Bagian 1)

Pendidikan Anak dalam Islam: Kewajiban Membentuk Generasi Saleh (Bagian 2)

Pendidikan Anak dalam Islam: Pengasuhan Masa Kehamilan dan Aqiqah (Bagian 3)

Pendidikan Anak dalam Islam: Panduan ASI Eksklusif dan Cegah Stunting (Bagian 4)

Pendidikan Anak dalam Islam: Fikih Pengasuhan Masa Nifas (Bagian 5)

Pendidikan Anak dalam Islam: Kewajiban Berbakti Setelah Akil Balig (Bagian 6)

Pendidikan Anak dalam Islam: Kewajiban Anak Setelah Orang Tua Meninggal (Bagian 7)

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: