Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Tinggalkan Warisan Kebaikan Sebelum Waktu Berhenti

10 Oktober 2026, 14:58 WIB • 2 menit baca
Dua pasang tangan menyerahkan dan menerima kardus berisi bahan makanan pokok seperti air mineral, beras, makanan kaleng, dan pasta di sebuah aula kegiatan.
Ilustrasi penyerahan bantuan sembako dan bahan pangan tulus kepada sesama. Meneladani pesan khutbah Jumat Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M., kebaikan tulus sekecil apa pun merupakan bagian dari penerapan hukum tabur tuai kehidupan yang hasilnya akan kembali menyelamatkan diri sendiri di dunia dan akhirat.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Manusia sering kali keliru menakar nilai sebuah perbuatan. Kebaikan kerap dihitung dari seberapa besar keuntungan material yang lekat di depan mata, sementara keburukan kecil sering dianggap angin lalu.

Pesan menohok tersebut menggema kuat dalam khutbah Jumat di Masjid Al Kautsar, Semarang, Jumat (9/10/2026). Ketua Lembaga Dakwah Khusus (LDK) PWM Jawa Tengah, Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M., membedah hakikat hukum tabur tuai kehidupan berdasarkan QS Al-Isra’ ayat 7 tentang kepastian balasan amal.

Khatib menegaskan bahwa takwa sejati tidak sekadar diukur dari seberapa sering seseorang bersimpuh di masjid. Kualitas iman justru diuji melalui lisan, cara mencari rezeki, adab memperlakukan sesama, hingga integritas dalam memegang kekuasaan.

“Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat buruk, maka keburukan itu juga untuk dirimu sendiri,” tutur Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M., mengutip ayat suci di hadapan para jamaah.

Memaafkan Tanpa Dendam

Pola balasan alam semesta bekerja secara presisi bagaikan bumerang. Setiap fitnah, kebencian, atau kelicikan yang dilemparkan kepada orang lain suatu saat pasti kembali menghancurkan nama baik pelakunya sendiri.

Sebaliknya, kebaikan tulus sekecil apa pun tidak akan pernah sia-sia di hadapan Allah SWT. Wakil Ketua PDM Kota Semarang itu mencontohkan keagungan akhlak Nabi Yusuf AS yang memilih memaafkan saudara-saudaranya meski pernah dibuang dan dizalimi sedemikian rupa.

Kisah ampunan tersebut membuktikan bahwa dendam tidak menyelesaikan masalah. Bahkan dalam riwayat lain, ampunan Allah bisa turun kepada seseorang hanya lantaran ketulusan memberi minum seekor anjing yang kehausan.

“Keburukan itu sering seperti boomerang. Kita melemparkannya kepada orang lain, tetapi suatu saat ia kembali kepada diri kita,” tegas Ketua LDK PWM Jawa Tengah tersebut.

Mewariskan Jejak Kebaikan Sebelum Batas Waktu Berakhir

Ketika napas terhenti dan raga berkalang tanah, seluruh atribut duniawi seketika tanggal dari diri manusia. Hanya ada tiga peninggalan abadi yang menyelamatkan, yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta doa tulus dari anak saleh.

Umat Islam diajak untuk tidak menunggu kaya raya atau menanti pujian manusia tatkala hendak menanam kebajikan. Mulailah dari hal-hal sederhana di lingkungan terdekat demi meninggalkan jejak bermartabat.

“Lima pelajaran penting bisa kita petik: jangan menunggu kaya atau dipuji untuk berbuat baik, jangan balas keburukan dengan keburukan, jadilah manusia berdampak, dan tinggalkan jejak kebaikan,” pungkas Wakil Ketua PDM Kota Semarang tersebut menutup khutbah.

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: