Penawar Jiwa yang Kering, Merawat Hati Lewat Surat Ibrahim
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Hati manusia memerlukan siraman ilmu dan zikir secara berkala agar tidak mengering di tengah himpitan rutinitas duniawi. Pembinaan rohani yang konsisten menjadi benteng utama dalam menjaga kesucian batin seorang muslim.
Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pedurungan Kota Semarang kembali menyelenggarakan agenda rutin Kajian Ahad Pagi di Masjid Nurul Qomariyah, Pedurungan, pada Ahad (25/10/2026). Forum spiritual yang berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 09.00 WIB ini menghadirkan narasumber Prof. Ahwan Fanani.
Ahwan Fanani yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang Bidang LHKP dan Pengembangan Pesantren ini membedah tadabur Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 24. Ayat tersebut menguraikan perumpamaan kalimat thayyibah seperti sebatang pohon yang baik.
Dalam pemaparannya, Ahwan Fanani menganalogikan hati manusia bagaikan tanaman yang memiliki tiga kondisi pertumbuhan batin yang berbeda.
“Sejatinya pengajian kita setiap Ahad pagi ini adalah bagian dari proses penyiraman hati kita. Hati ini perlu terus disiram dengan ilmu dan mau’idhoh hasanah agar tidak kering dan mati, sehingga tetap menjadi Qolbun Salim,” ujar Ahwan Fanani di hadapan ratusan jemaah.
Mengenal Karakteristik Qolbun Salim dan Qolbun Maridh
Selanjutnya, Ahwan Fanani merinci kondisi pertama yakni Qolbun Salim atau hati yang selamat. Ia mengibaratkan kondisi ini seperti pohon subur berakar kuat, berbatang kokoh, serta berbuah ranum karena pemiliknya rajin menyiramnya dengan zikir dan amal saleh.
Kondisi kedua adalah Qolbun Maridh atau hati yang sedang sakit. Kondisi ini mirip dengan pohon layu yang kurang subur. Keimanan masih bersemayam di dalamnya, namun penyakit hasad, ria, dan cinta dunia berlebihan masih mengerogoti kesucian batin.
Pemahaman akan dua kondisi ini mendorong jemaah untuk terus melakukan introspeksi diri secara berkala. Kesadaran merawat keimanan menjadi prioritas utama agar penyakit batin tidak merusak amal kebaikan harian.
Mewaspadai Bahaya Qolbun Mayyit Demi Memakmurkan Masjid
Kondisi ketiga yang paling mengkhawatirkan adalah Qolbun Mayyit atau hati yang mati. Ahwan Fanani menggambarkan jiwa ini seperti pohon kering keropos yang tidak mampu lagi menyerap kebaikan dan peringatan dari Allah SWT.
Rangkaian kajian spiritual ini menyedot perhatian dan antusiasme tinggi dari jemaah Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) se-Cabang Pedurungan, jajaran Ortom, serta warga masyarakat umum.
Pengurus PCM Pedurungan berharap kegiatan rutin ini terus menjadi pusat pencerahan umat dan penguat pembinaan ideologi persyarikatan. Kehadiran jemaah yang memadati Masjid Nurul Qomariyah membuktikan komitmen bersama dalam memakmurkan rumah Allah demi meraih ketenangan jiwa.