Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 5 menit baca

Kecerdasan Artifisial dan Arti Penting Kemampuan Literasi

Burhanuddin Robbany

Wakil Sekretaris Bidang Hikmah dan Hubungan Antarlembaga PDPM Kota Semarang

Kecerdasan Artifisial dan Arti Penting Kemampuan Literasi

Perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI) kini telah merasuki setiap sendi kehidupan kita. Kehadirannya sering dianggap sebagai “monster” baru yang mengancam peran manusia, namun penulis berpendapat sebaliknya. Justru, di era AI inilah kemampuan dasar manusia harus semakin diperkuat, terutama dalam hal literasi.

Penegasan mengenai wajib membaca dan membuat resensi bagi murid sekolah, seperti yang sempat dilontarkan oleh tokoh pendidikan Abdul Mu’ti dalam Musyawarah Nasional ke-20 Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) di Jakarta, menjadi sangat relevan. Kebijakan ini menekankan bahwa setiap murid harus mampu memahami teks dan bahan bacaan yang mereka konsumsi.

Kebijakan membaca dan menulis resensi dari tokoh pendidikan tersebut sangat berkorelasi dengan kebutuhan kemampuan individu yang harus dimiliki di era digital saat ini. Salah satu kemampuan fundamental itu adalah berpikir kritis.

Modal utama manusia agar dapat berpikir kritis adalah membaca. Banyak membaca dan memahami sumber bacaan akan menjadikan kita kaya sudut pandang untuk menerima, memahami, dan mengkritisi sebuah fenomena.

Membaca juga menjadikan otak kita semakin berkembang, berbeda dengan sekadar menonton video. Kegiatan membaca akan menumbuhkan kreativitas otak karena memaksa kita untuk bermain “theater of mind”.

Otak akan bekerja keras menyusun setiap huruf, kata, dan kalimat untuk menjadi satu informasi yang utuh secara kreatif. Semakin sering kita melatih otak untuk membaca, maka akan semakin sering pula kita melatihnya untuk berpikir kreatif.

Membaca sebagai Nyawa dalam Memahami Kecerdasan Artifisial

Melihat manfaat membaca yang begitu besarnya bagi perkembangan otak, tulisan ini mencoba mengorelasikannya dengan manfaat kecerdasan artifisial yang sedang marak. Kehadiran platform daring AI seperti Perplexity, Gemini, dan ChatGPT dalam hidup kita saat ini terkadang masih dianggap sebagai monster yang menakutkan.

Oleh karena anggapan tersebut, produk-produk teknologi kecerdasan artifisial seringkali dijauhi penggunaannya oleh sebagian masyarakat.

Padahal, semakin kita menjauhi kemajuan teknologi seperti itu, akan semakin menjauhkan kita dari kualitas manusia yang unggul. Platform-platform tersebut sebenarnya adalah alat yang harus kita manfaatkan sebaik mungkin.

Bila ingin penggambaran ekstremnya, kecerdasan artifisial saat ini sama pentingnya seperti ketika manusia pertama kali menemukan teknologi perapian. Adanya teknologi perapian yang ditemukan manusia dulu dianggap benda asing dan berbahaya, namun nyatanya saat ini kita tidak bisa hidup tanpa adanya api.

Pada konteks kekinian, teknologi kecerdasan artifisial yang dikembangkan saat ini justru akan menjadi alat yang sangat penting untuk mendukung kehidupan manusia di masa depan. AI harus ditempatkan sebagai alat bantu manusia, bukan teknologi pengganti peradaban manusia.

Kecanggihan yang terus ditampilkan kecerdasan artifisial pada level tertentu memang terlihat menakutkan. Contohnya saja kemampuan menghafal, memahami, dan menciptakan ulang sebuah ide yang diyakini beberapa ilmuwan akan berkali-kali lipat lebih baik dari manusia dalam beberapa tahun ke depan.

Contoh kekhawatiran lain adalah anggapan bahwa kecerdasan artifisial akan membuat kita tidak berkembang. Sebab, mengandalkan kecerdasan artifisial dianggap sama dengan tidak menggunakan otak kita.

Pandangan semacam itu menurut saya keliru. Kecerdasan artifisial yang ada saat ini justru memaksa otak kita juga bekerja keras dengan membaca dan memahami sebuah bacaan.

Sebab, meskipun dijawab oleh sebuah mesin, seluruh informasi yang diberikan oleh kecerdasan artifisial harus kita baca dan pahami dengan baik. Di sinilah titik pentingnya kita mengandalkan kemampuan literasi dalam membaca dan memahami teks.

Ketika informasi berupa teks dari kecerdasan artifisial tidak dibaca secara utuh atau substansinya tidak dipahami akan membuat kita kalah dengan kecerdasan artifisial itu sendiri.

Sebaliknya, jika kita sudah memiliki kemampuan literasi dalam membaca dan memahami teks dengan baik, kekhawatiran otak kita akan tumpul karena kecerdasan artifisial dapat dihilangkan. Praktik yang salah dalam penggunaan AI, seperti asal menduplikasi jawaban tanpa membaca dan memahami, inilah yang menjadikan kita akan tertinggal oleh teknologi.

Teknologi untuk Masa Depan

Maka, untuk bisa memaksimalkan manfaat dari perkembangan teknologi kecerdasan artifisial, harus dimulai dari penguatan kemampuan literasi terlebih dahulu seperti yang dicanangkan Abdul Mu’ti. Jangan sampai karena kemampuan literasi kita yang masih belum baik, kita bisa dikalahkan oleh kecerdasan yang dibuat sendiri oleh manusia.

Praktik penggunaan kecerdasan artifisial dengan menduplikasi secara mentah-mentah bahan pustaka untuk dimasukan dalam penelitian atau dokumen lainnya inilah yang menyebabkan kemampuan kognitif kita menurun.

Bila teknologi ditempatkan secara benar sebagai asisten kita dalam mengerjakan tugas, maka keberadaan kecerdasan artifisial yang saat ini berkembang akan sangat bermanfaat.

Misalnya seperti ketika kita membuat penelitian, kita tidak menjadikan kecerdasan artifisial menggantikan kita dengan menduplikasi mentah-mentah hasil prompt. Justru, kita harus menggunakannya untuk mencari bahan penelitian, data, dan konsep-konsep berkaitan lainnya dengan penelitian kita.

Penggunaan teknologi yang tidak disertai dengan rasa tanggung jawab sejak dahulu memang menyebabkan kerusakan yang nyata di muka bumi. Hal ini bukan hanya terjadi pada penggunaan kecerdasan artifisial saja.

Contoh ekstremnya, penggunaan reaksi fisi untuk membuat bom atom menunjukkan wujud keserakahan manusia. Karena digunakan tanpa rasa tanggung jawab, hasilnya adalah jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Pun penemuan teknologi internet juga awalnya bertujuan untuk kemajuan umat manusia. Namun, karena banyak yang menggunakannya tanpa rasa tanggung jawab, teknologi internet mampu berubah jadi monster yang bisa memangsa kita kapan pun.

Belajar dari hal-hal tersebut, sudah seharusnya kita manfaatkan kecerdasan artifisial untuk kemanfaatan peradaban. Mari gunakan bersama-sama kecerdasan artifisial untuk meningkatkan kemampuan literasi kita. Hal ini bukan utopia, tetapi sebuah usaha yang harus dikerjakan secara simultan oleh seluruh manusia yang memanfaatkan teknologi kecerdasan artifisial

Baca juga:

Bukan Cuma Mengaji, Santri Muhammadiyah di Semarang Juga Dilatih Menguasai AI

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: