Waspadai 4 Penyakit Batin, Kerakusan Jadi Pemicu Bencana Alam
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Persoalan utama yang dihadapi manusia modern saat ini bukanlah keterbatasan rezeki atau kemiskinan materi, melainkan merosotnya kualitas atau “kemiskinan jiwa” (batin). Kondisi batin yang kerdil ini merupakan akar dari berbagai krisis pribadi dan sosial yang melanda masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan khatib Ustad H. Sriyono, S.Ag., M.Pd.I. dalam khutbah Jumat bertema “Jiwa yang Kerdil Menyengsarakan Kehidupan” di Masjid As-Salam, Wonodri, Semarang, Jumat (5/12),pekan lalu.
Empat Penyakit Batin Jadi Fokus
Dalam khutbahnya, Ustad Sriyono menyoroti empat penyakit batin spesifik yang diyakini dapat merusak kehidupan seseorang secara menyeluruh. Keempat penyakit tersebut adalah: mudah mengeluh, bakhil (pelit) dan tamak (serakah), kesombongan, serta iri dan dengki.
“Kemiskinan jiwa jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan materi. Ia dimulai dari keluhan yang tak pernah berhenti, ketamakan yang menutup nurani, kesombongan yang membutakan hati, hingga iri dan dengki yang membakar kebaikan manusia,” ujar Ustad Sriyono di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan, keluhan yang tiada henti adalah manifestasi dari hati yang tidak bersyukur. Sementara itu, sikap bakhil dan serakah membuat seseorang dihantui ketakutan kehilangan harta, bahkan rela menempuh cara-cara yang tidak dibenarkan.
Kaitkan dengan Kerusakan Alam
Menariknya, Ustad Sriyono secara langsung mengaitkan kerakusan (salah satu bentuk kemiskinan batin) dengan isu lingkungan. Ia meyakini bahwa kerakusan manusia merupakan salah satu faktor utama yang memicu kerusakan alam, yang berujung pada bencana seperti banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah Indonesia.
Lebih lanjut, Ustad Sriyono menyebut kesombongan sebagai kemiskinan batin yang paling halus karena seringkali hadir terselubung di balik topeng kebaikan. Sifat ini, menurutnya, membuat seseorang merasa paling benar, meremehkan orang lain, dan menolak nasihat.
Penyakit batin yang paling berbahaya adalah iri dan dengki, yang berdasarkan hadis Nabi Muhammad dapat “memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”
Seruan untuk Memperkaya Jiwa
Sebagai solusi, Ustad Sriyono mengajak para jamaah untuk melakukan penataan kembali hati dan lisan. Penataan tersebut dilakukan dengan cara memperbanyak syukur, membiasakan sedekah, serta membuka diri terhadap nasihat.
“Jiwa yang bersih dan lapang akan memudahkan kita menyongsong rahmat Allah dan menjalani hidup dengan ketenangan,” tutupnya, sambil mengajak jamaah untuk memohon perlindungan dari penyakit batin yang dapat merusak hubungan antar manusia.
Khutbah Jumat di Masjid As-Salam ini diakhiri dengan doa bersama yang berfokus pada permohonan keselamatan dan keteguhan hati.
Baca juga: