Kesehatan Mental Muslim: Pentingnya Manajemen Emosi di Era Serba Cepat
SEMARANG SELATAN, muhammdiyahsemarangkota.org – Di balik fisik yang kuat, terdapat jiwa yang stabil; menjaga manajemen emosi ternyata menjadi fondasi utama bagi kebahagiaan seorang muslim sejati.
Suasana teduh menyelimuti Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang pada Rabu siang (14/1/2026). Meskipun cuaca di luar cukup menyengat, para jamaah tetap antusias menyimak Kultum Dzuhur. Kali ini, Syaifulloh, S.Sos Kom, MM, yang menjabat sebagai Direktur Umum dan AIK RS Roemani Semarang, membedah pentingnya menjaga kesehatan mental muslim melalui pengendalian diri.
Syaifulloh menekankan bahwa setiap orang pasti menghadapi tekanan hidup yang memicu stres. Maka dari itu, kemampuan menjalankan manajemen emosi menjadi sangat vital agar kita tidak mudah kehilangan arah. Ia menegaskan bahwa Islam telah mengatur cara-cara elegan untuk menghadapi gejolak hati tanpa harus merugikan orang lain.
Menerapkan Manajemen Emosi Sesuai Sunnah
“Islam tidak melarang kita merasa marah, namun agama kita mengatur bagaimana kita mengelola perasaan tersebut dengan bijak,” jelas Syaifulloh. Ia menjelaskan bahwa praktik manajemen emosi sesuai sunnah merupakan solusi terbaik untuk menghindari konflik sosial yang sering terjadi belakangan ini.
Ia pun membagikan beberapa tips meredam emosi yang sangat praktis untuk kehidupan sehari-hari. Langkah pertama yang paling ampuh adalah memilih diam saat hati mulai memanas. Dengan menahan lisan, kita mencegah ucapan buruk yang berisiko merusak hubungan antarmanusia. Selain itu, mengubah posisi tubuh dari berdiri menjadi duduk juga terbukti secara medis mampu menurunkan ketegangan saraf secara drastis.
“Saat amarah memuncak, segera ingat bahwa kekuatan sejati terletak pada pengendalian diri. Pemenang sesungguhnya adalah mereka yang mampu menerapkan cara menahan amarah saat egonya sedang terusik,” tegas Direktur RS Roemani tersebut dalam tausiyahnya.
Menjaga Adab Marah dalam Islam
Lebih lanjut, Syaifulloh menjelaskan secara detail mengenai adab marah dalam Islam. Air wudhu menjadi kunci fisik untuk mendinginkan “api” emosi yang muncul dari bisikan negatif. Basuhan air yang mengenai kulit seketika memberikan ketenangan jiwa dan mengembalikan fokus manusia kepada Sang Pencipta.
Seorang jamaah bernama Ridwan mengungkapkan rasa setujunya terhadap paparan tersebut. “Saya sering merasa kewalahan dengan beban pekerjaan. Namun, penjelasan tentang manajemen emosi hari ini memberikan saya teknik nyata untuk tetap tenang dan tetap produktif di kantor,” tuturnya dengan penuh semangat.
Syaifulloh mengajak jamaah untuk rutin melatih kesabaran setiap hari. Keberhasilan dalam mengelola emosi mencerminkan kedewasaan iman seseorang. Dengan menjaga hati tetap tenang, kita tidak hanya meraih ketenangan batin, tetapi juga menjaga kesehatan jiwa dan raga untuk jangka panjang.
Baca juga :
Menjemput Tenang Lewat Muhasabah: Rahasia Hidup yang Tak Pernah Salah Alamat
Persiapan Ramadan 2026: Amalan Menjelang Isra Miraj yang Wajib Anda Tahu