Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 4 menit baca

Adab Membaca Al-Qur’an: Wajib Bersuara dan Mendengarkan (Bagian 2)

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Komisi Dakwah MUI Kota Semarang, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Adab Membaca Al-Qur’an: Wajib Bersuara dan Mendengarkan (Bagian 2)
Foto Ilustrasi: Praktik tadarus berkelompok (halaqah) yang mengedepankan adab membaca Al-Qur'an. Satu jamaah melantunkan ayat suci secara tartil, sementara jamaah lainnya mengamalkan adab istima' (sungguh-sungguh menyimak) dan inshat (diam) agar majelis dilimpahi rahmat Allah.

Pada edisi sebelumnya, kita telah membahas keutamaan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu sepekan. Kita harus menjadikan ayat suci sebagai sumber petunjuk (hudan), bukan sekadar membacanya secara mekanis. Melanjutkan pembahasan tersebut, edisi kedua ini akan mengupas tata cara melafalkan dan merespons bacaan ayat suci secara tepat.

Secara prinsip, seseorang perlu mengeluarkan suara saat membaca Al-Qur’an agar orang lain dapat mendengarnya. Terkait hal ini, Allah SWT memberikan panduan tegas bagi siapa saja yang mendengarkan lantunan firman-Nya:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Jika dibacakan Al-Qur’an, dengarkanlah (dengan saksama) dan diamlah agar kamu dirahmati.” (QS. Al-A’raf [7]: 204)

Ayat tersebut memuat dua kewajiban utama saat Al-Qur’an dibacakan, baik secara langsung maupun melalui rekaman. Kedua kewajiban itu adalah istima’ (berusaha sungguh-sungguh mendengarkan) dan inshat (diam secara pasif). Jika pendengar melakukan kedua hal ini dengan baik, mereka berpeluang besar memperoleh rahmat dari Allah SWT.

Tingkatan Rahmat dan Adab di Majelis

Peluang mendapatkan rahmat Allah SWT ini memiliki beberapa tingkatan. Seseorang yang memahami arti bacaan tentu akan memperoleh rahmat lebih besar daripada mereka yang tidak memahaminya sama sekali. Rahmat tersebut akan semakin melimpah jika pendengar berkomitmen mengamalkan petunjuk ayat dalam perbuatan nyata. Sebaliknya, orang yang mengetahui arti ayat tetapi enggan mengambil pelajaran darinya hanya akan mendapatkan rahmat yang sangat kecil.

Sayangnya, kita sering menemukan pelanggaran adab membaca Quran di tengah masyarakat luas. Misalnya, saat menghadiri acara takziyah, para tamu sering asyik mengobrol sendiri sementara lantunan ayat suci bergema dari pengeras suara. Perilaku abai semacam ini membuat mereka kehilangan peluang mendapat rahmat Allah.

Oleh karena itu, panitia acara sebaiknya tidak memutar muratal jika tamu tidak bersedia diam. Mereka lebih baik memutar nasyid religi yang memuat pesan hikmah umum.

Tata Cara Tadarus Kelompok yang Benar

Pemahaman keliru tentang adab membaca Quran juga sering terjadi dalam majelis tadarus atau halaqah. Terkadang, sebuah majelis berisi 30 orang membaca 30 juz Al-Qur’an secara serentak dan bersuara keras. Mereka menargetkan khatam seluruh juz dalam waktu super singkat.

Praktik serentak ini membuat tidak ada satu pun jamaah yang sempat melakukan istima’ dan inshat. Akibatnya, rahmat Allah SWT tidak akan turun menyelimuti majelis tersebut.

Secara syariat, jamaah majelis ini memang tetap mendapatkan pahala tilawah. Hal ini sejalan dengan jaminan sabda Rasulullah SAW:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Alquran), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, mim satu huruf dan lam satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi, No. 2835)

Namun, kita harus memberikan catatan kritis pada kebiasaan membaca serentak ini. Para jamaah biasanya saling beradu cepat agar segera menyelesaikan pembagian juz mereka. Mereka menganggap orang yang paling cepat selesai sebagai pembaca paling pintar. Sebaliknya, jamaah yang lambat membaca justru sering mendapat label kurang mahir. Akibat aksi balapan ini, cara membaca mereka otomatis melanggar kaidah ilmu tajwid.

Sebagai solusinya, majelis tadarus wajib mempraktikkan adab membaca Quran secara tepat. Hanya satu orang yang boleh membaca bersuara pada satu waktu, sementara peserta lainnya menyimak (istima’) dan diam (inshat).

Setelah itu, jamaah bisa membaca secara bergiliran. Metode ini akan memastikan seluruh peserta majelis berpeluang meraih rahmat Allah SWT secara maksimal

Baca juga:

Adab Membaca Quran: Cara Khatam yang Benar Menurut Hadis (Bagian 1)

Adab Membaca Al-Qur’an: Anjuran Memperindah Suara dan Melagukan Ayat (Bagian 3)

Adab Membaca Quran: Di Rumah, Bukan di Kuburan (Bagian 4)

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: