Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 7 menit baca

Berhala-Berhala di Kepala Kita

Gunoto Saparie

Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Orwil Jawa Tengah

Berhala-Berhala di Kepala Kita
Gunoto Saparie, Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Tengah, penulis opini tentang kesinambungan gagasan Kartini dan Muhammadiyah.

Ada yang diam-diam kita sembah, tanpa kita sadari. Ia tak berdiri di sudut rumah seperti patung kuno, tak pula disembunyikan di altar rahasia. Ia justru tumbuh di kepala kita: halus, nyaris tak tampak, tetapi menuntut tunduk.

Kita menamainya dengan kata-kata yang tampak wajar: jabatan, gengsi, pengakuan, jumlah pengikut. Kita menyebutnya “prestasi”, “citra diri”, atau branding. Kita lupa: berhala tak selalu berupa batu.

Hijrah, dalam pengertian yang paling sering kita dengar, adalah perpindahan, dari satu tempat ke tempat lain, dari satu keadaan ke keadaan lain. Tetapi hijrah hati lebih sunyi. Ia bukan langkah kaki, melainkan pergeseran pusat. Dari yang semula menghadap dunia, perlahan berbalik menghadap Yang Maha Tunggal. Dari yang semula menggantungkan makna pada manusia, perlahan memutus tali itu dan mengikatkannya pada Tuhan.

Di titik ini, kita mulai curiga: jangan-jangan selama ini kita tidak benar-benar menyembah Tuhan. Jangan-jangan kita hanya menggunakan Tuhan untuk membenarkan sembahan-sembahan lain.

Al-Qur’an memberi peringatan yang getir dan tajam: “Apakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS Al-Jatsiyah: 23) .

Ayat ini seperti cermin retak. Kita menatapnya dan melihat wajah sendiri, terpecah dalam kepingan-kepingan kecil. Nafsu, yang kita kira sekadar dorongan batin, ternyata bisa naik takhta menjadi “tuhan”. Ia memerintah, kita patuh. Ia menginginkan, kita bergegas. Ia kecewa, kita gelisah.

Maka berhala modern tak lagi memerlukan bentuk fisik. Ia cukup hadir sebagai dorongan yang tak kita kritisi.

Di sebuah ruang kantor, seseorang menatap papan nama di mejanya. Ada jabatan tertulis di sana: lengkap, resmi, memberi bobot pada kehadirannya. Ia duduk lebih tegak karenanya. Orang-orang memanggilnya dengan hormat. Ia mulai percaya bahwa dirinya memang sebesar itu.

Tetapi jabatan adalah sesuatu yang dipinjamkan. Ia bukan diri kita; ia hanya pakaian. Ketika ia dilepas—karena pensiun, mutasi, atau sekadar perubahan nasib—sering kali yang tersisa hanyalah kebingungan: “Siapa saya sekarang?”.

Di situlah berhala itu bekerja. Jabatan yang semula alat berubah menjadi pusat makna. Kita tidak lagi bekerja karena panggilan, melainkan karena takut kehilangan identitas. Kita tidak lagi melayani, melainkan mempertahankan posisi.

Hijrah hati menuntut keberanian untuk mencurigai semua itu. Ia bertanya: jika semua gelar dicabut, jika semua posisi hilang, apakah kita masih merasa utuh?. Pertanyaan itu tidak nyaman. Tetapi justru di situlah tauhid diuji.

Berhala berikutnya lebih halus: gengsi. Ia tidak memiliki alamat tetap. Ia berpindah-pindah, mengikuti percakapan orang. Ia hadir dalam pilihan pakaian, tempat makan, cara berbicara, bahkan dalam kesedihan yang kita tampilkan. Gengsi adalah ketakutan untuk terlihat biasa-biasa saja. Dalam masyarakat yang hiruk-pikuk oleh citra, menjadi “biasa” terasa seperti kegagalan. Kita ingin istimewa, atau setidaknya terlihat istimewa.

Maka kita mengumpulkan tanda-tanda: barang bermerek, gaya hidup tertentu, lingkaran pergaulan yang “tepat”. Semua itu bukan lagi kebutuhan, melainkan simbol. Masalahnya, simbol menuntut pengakuan. Ia tidak cukup ada; ia harus dilihat. Dan di situlah kita mulai kehilangan arah. Kita hidup bukan untuk menjalani kehidupan, tetapi untuk menampilkan kehidupan.

Hijrah hati, lagi-lagi, adalah gerakan yang sepi. Ia mengajak kita mundur selangkah dari panggung itu. Ia berbisik: tidak semua harus ditampilkan. Tidak semua harus diakui. Ada keindahan dalam kesederhanaan yang tidak dipamerkan. Ada kemerdekaan dalam hidup yang tidak bergantung pada tepuk tangan.

Lalu datanglah berhala yang paling mutakhir: validasi digital. Di layar kecil, angka-angka bergerak. Jumlah likes, komentar, dan pengikut menjadi ukuran yang tampak objektif. Ia memberi ilusi kepastian: semakin banyak angka, semakin berarti kita. Semakin ramai respons, semakin sah keberadaan kita.

Kita mengunggah sesuatu: foto, tulisan, potongan kehidupan. Lalu kita menunggu. Ada jeda yang aneh: antara harapan dan kecemasan. Apakah orang akan menyukai ini?. Apakah mereka akan melihat kita?. Ketika angka itu naik, kita merasa diakui. Ketika ia stagnan, kita mulai bertanya: ada yang salahkah dengan saya?.

Di titik ini, kita tidak lagi sepenuhnya hidup di dunia nyata. Sebagian diri kita berpindah ke ruang virtual, mencari pembenaran dari orang-orang yang bahkan mungkin tidak kita kenal. Berhala ini bekerja dengan cara yang canggih. Ia tidak memaksa; ia menggoda. Ia memberi hadiah kecil—dopamin, rasa senang—setiap kali kita mendapatkan perhatian. Lama-lama, kita menjadi tergantung.

Padahal, Nabi Muhammad saw. pernah mengingatkan dengan kalimat yang sederhana, tetapi menghunjam: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR Muslim) .

Hadis ini seperti memadamkan lampu panggung. Semua yang selama ini kita tampilkan—wajah, citra, kemasan—tiba-tiba kehilangan relevansi. Yang tersisa hanyalah sesuatu yang tidak bisa difoto, tidak bisa diunggah: hati.

Hijrah hati berarti memindahkan pusat perhatian dari yang tampak ke yang tersembunyi. Dari yang dinilai manusia ke yang dinilai Tuhan. Tetapi perjalanan ini tidak mudah. Berhala-berhala kecil itu tidak akan pergi begitu saja. Mereka telah lama tinggal dalam diri kita, membentuk kebiasaan, bahkan identitas.

Kadang-kadang kita merasa sudah hijrah. Kita mulai mengubah penampilan, memperbaiki perilaku, menambah ibadah. Semua itu baik, tentu saja. Tetapi hijrah hati menuntut sesuatu yang lebih dalam: perubahan orientasi. Apakah kita beribadah karena Tuhan, atau karena ingin terlihat saleh?. Apakah kita berbuat baik karena cinta, atau karena ingin dipuji?. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak memiliki jawaban yang mudah. Ia harus dijawab berulang-ulang, dalam keheningan.

Manusia, kita tahu, adalah makhluk yang tak pernah selesai. Kita selalu dalam proses: menjadi, berubah, gagal, mencoba lagi. Hijrah hati juga demikian. Ia bukan peristiwa sekali jadi, melainkan perjalanan tanpa garis akhir. Setiap hari, kita mungkin harus menghancurkan berhala yang sama: lagi dan lagi.

Ada satu ironi yang patut kita renungkan: semakin modern kehidupan kita, semakin canggih pula bentuk berhala yang kita ciptakan. Di masa lalu, orang menyembah patung karena mereka butuh sesuatu yang bisa dilihat. Kini kita menyembah hal-hal yang bahkan tidak berwujud: angka, citra, persepsi. Kita mengira kita lebih rasional, lebih maju. Tetapi mungkin kita hanya memindahkan lokasi penyembahan, dari luar diri ke dalam diri.

Hijrah hati, dengan demikian, adalah upaya radikal untuk kembali ke kesederhanaan tauhid: bahwa tidak ada yang layak menjadi pusat selain Tuhan. Tidak jabatan, tidak gengsi, tidak pula validasi manusia. Ini bukan berarti kita harus meninggalkan dunia. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki jabatan, menikmati keindahan, atau menggunakan media sosial. Yang diubah adalah posisinya: dari tujuan menjadi alat.

Kita bekerja, tetapi tidak menyembah pekerjaan. Kita bergaul, tetapi tidak menggantungkan harga diri pada penilaian orang. Kita hadir di media sosial, tetapi tidak menjadikannya sumber makna. Dengan kata lain, kita belajar meletakkan sesuatu pada tempatnya.

Hijrah hati adalah tentang kebebasan. Bukan kebebasan dalam arti liar, tanpa batas, tetapi kebebasan dari ketergantungan yang tidak perlu. Kebebasan dari kebutuhan untuk selalu diakui. Kebebasan dari ketakutan untuk tidak dianggap.

Ini adalah kemerdekaan yang sunyi, tetapi dalam. Seseorang yang merdeka hatinya tidak lagi terlalu sibuk membandingkan diri. Ia tidak mudah goyah oleh pujian, tidak pula hancur oleh celaan.

Ia tahu bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh manusia. Ia mungkin tetap bekerja keras, tetap berkarya, tetap hadir di ruang publik. Tetapi ada jarak yang sehat antara dirinya dan semua itu. Ia tidak lagi larut. Dan mungkin, di titik itu, ia mulai merasakan sesuatu yang sederhana tetapi langka: ketenangan.

Kita tidak pernah benar-benar selesai menghancurkan berhala. Ia akan selalu muncul dalam bentuk baru, dengan nama baru. Tetapi kesadaran adalah langkah pertama. Menyadari bahwa ada yang diam-diam kita sembah, itulah awal dari hijrah.

Setelah itu, perjalanan panjang menanti. Perjalanan untuk terus mengoreksi niat, menata ulang orientasi, dan—jika perlu—menghancurkan lagi apa yang kita bangun sendiri.

Hijrah hati bukan tentang menjadi sempurna. Ia tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Dan mungkin, pada akhirnya, itu sudah cukup: kita berjalan, tertatih-tatih, menjauh dari berhala-berhala kecil di kepala kita, menuju satu arah yang lebih sunyi, tetapi juga lebih sejati.

Baca juga:

Arus Balik, Hijrah, dan Urbanisasi

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: