Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 5 menit baca

Arus Balik, Hijrah, dan Urbanisasi

Gunoto Saparie

Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Orwil Jawa Tengah

Arus Balik, Hijrah, dan Urbanisasi
Gunoto Saparie, Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Tengah, penulis opini tentang kesinambungan gagasan Kartini dan Muhammadiyah.

Ada sesuatu yang selalu berulang setelah gema takbir mereda: jalan-jalan yang padat oleh kendaraan yang kembali, koper-koper yang ditarik dengan tergesa, dan wajah-wajah yang perlahan kehilangan sisa hangat kampung halaman. Kita menyebutnya arus balik, sebuah istilah yang terdengar teknis, seolah sekadar fenomena lalu lintas.

Padahal ia lebih dari itu: ia adalah pergerakan batin, perpindahan harapan, juga pengulangan sebuah siklus yang tak pernah benar-benar selesai.

Lebaran, dalam imaji kita, adalah pulang. Pulang bukan hanya ke rumah, tetapi ke asal, ke kenangan, ke sesuatu yang lebih purba daripada sekadar alamat. Maka jutaan orang bergerak: dari kota ke desa, dari pusat ke pinggir, dari hiruk ke hening.

Namun begitu hari-hari Syawal mulai berjalan, arus itu berbalik arah. Orang-orang kembali ke kota, ke mesin-mesin produksi, ke rutinitas yang sering kali terasa asing dibandingkan dengan kehangatan desa.

Di titik itulah urbanisasi menemukan momentumnya.

Urbanisasi bukan hal baru. Ia telah menjadi bagian dari sejarah modernitas: kota sebagai magnet, desa sebagai tempat yang perlahan ditinggalkan.

Tetapi arus balik Lebaran memberi warna yang khas. Ia bukan semata perpindahan ekonomi; ia juga membawa dimensi emosional. Mereka yang kembali ke kota tidak hanya membawa pakaian bersih dan oleh-oleh, tetapi juga cerita, harapan, bahkan tekad baru: “tahun ini harus lebih berhasil.”

Di kota, harapan itu sering kali bertemu dengan kenyataan yang keras. Lapangan kerja yang terbatas, biaya hidup yang tinggi, ruang yang semakin sempit. Kota menjadi arena kompetisi yang tak kenal jeda. Namun justru karena itulah ia tetap menarik, seperti cahaya yang mengundang laron, meski kita tahu sebagian akan terbakar.

Kita bisa melihat fenomena ini sebagai paradoks: mengapa orang terus kembali ke kota, bahkan ketika kota tidak selalu ramah?

Barangkali karena kota menjanjikan kemungkinan. Desa memberi akar, tetapi kota menawarkan sayap.

Dalam perspektif Islam, pergerakan manusia—termasuk urbanisasi—bukanlah sesuatu yang asing. Sejarah Islam sendiri dimulai dengan sebuah hijrah: perpindahan dari Mekkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar pelarian, melainkan transformasi. Ia adalah langkah untuk mencari ruang yang lebih memungkinkan bagi kehidupan yang lebih baik, baik secara spiritual maupun sosial.

Namun, hijrah dalam Islam tidak pernah netral secara moral. Ia selalu terkait dengan niat. Dalam sebuah hadis yang sering dikutip, disebutkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Maka perpindahan fisik menjadi bermakna sejauh ia ditopang oleh tujuan yang benar.

Dalam konteks arus balik dan urbanisasi, pertanyaannya menjadi: untuk apa kita berpindah?

Jika perpindahan itu semata-mata untuk mengejar materi tanpa batas, maka ia berisiko melahirkan keterasingan. Kota, dalam hal ini, bisa menjadi ruang yang mengikis nilai-nilai: solidaritas yang melemah, hubungan sosial yang dangkal, dan kehidupan yang terfragmentasi. Kita melihat orang-orang hidup berdampingan tetapi tidak saling mengenal, bekerja keras tetapi tidak selalu merasa cukup.

Namun Islam tidak menolak pencarian rezeki. Bahkan bekerja adalah bagian dari ibadah. Yang menjadi persoalan adalah keseimbangan: bagaimana menjaga agar pencarian dunia tidak menghapus orientasi akhirat.

Di sinilah arus balik Lebaran menjadi menarik untuk dibaca secara simbolik. Ia bukan hanya pergerakan geografis, tetapi juga pengingat akan dua kutub kehidupan: desa dan kota, tradisi dan modernitas, kebersamaan dan individualitas. Lebaran memberi kita jeda untuk kembali ke asal, untuk mengingat siapa kita, sebelum kita kembali lagi ke pusaran kehidupan kota.

Mungkin itulah sebabnya banyak orang merasakan semacam kesedihan saat meninggalkan kampung halaman. Ada sesuatu yang tertinggal, bukan hanya orang tua atau saudara, tetapi juga rasa utuh yang sulit ditemukan di kota. Di desa, waktu terasa lebih lambat, hubungan lebih dekat, dan hidup tampak lebih sederhana.

Tetapi kesederhanaan itu tidak selalu cukup untuk menjawab kebutuhan hidup modern. Maka orang kembali ke kota, membawa serta kerinduan yang tak pernah sepenuhnya terobati.

Islam, dalam hal ini, tidak menawarkan jawaban yang hitam-putih. Ia tidak memerintahkan kita untuk tinggal di desa atau kota. Yang ia tekankan adalah bagaimana kita hidup di mana pun kita berada. Kota bisa menjadi tempat ibadah, sebagaimana desa. Keramaian tidak harus menghilangkan kesadaran spiritual, sebagaimana kesunyian tidak otomatis mendekatkan kita pada Tuhan.

Namun tantangan di kota memang lebih kompleks.

Di tengah ritme yang cepat, kita sering kehilangan ruang untuk refleksi. Kita terjebak dalam rutinitas yang berulang, seperti arus balik itu sendiri: datang dan pergi, tanpa sempat bertanya ke mana sebenarnya kita menuju.

Barangkali yang kita perlukan adalah semacam “hijrah batin”—sebuah perpindahan yang tidak selalu terlihat, tetapi terasa. Hijrah dari keserakahan menuju kecukupan, dari kesibukan menuju kesadaran, dari keterasingan menuju keterhubungan.

Arus balik Lebaran, dalam arti ini, bisa menjadi metafora. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan garis lurus, melainkan siklus. Kita bergerak, kembali, lalu bergerak lagi. Tetapi setiap gerak seharusnya membawa kita lebih dekat pada pemahaman tentang diri kita sendiri.

Kota akan terus memanggil. Desa akan terus menunggu. Di antara keduanya, manusia berjalan: mencari, mencoba, kadang tersesat. Islam tidak menutup jalan itu, tetapi memberi kompas: niat, keseimbangan, dan kesadaran akan tujuan akhir.

Maka mungkin yang paling penting bukanlah ke mana kita pergi, tetapi bagaimana kita berjalan. Di tengah arus balik yang padat itu, di antara klakson dan debu jalanan, ada satu pertanyaan yang diam-diam mengikuti setiap orang: apakah kita benar-benar pulang, atau hanya berpindah tempat?

Baca juga:

Tradisi Syawalan, Muhammadiyah, dan Akidah

Sejarah Halal Bihalal di Tanah Jawa

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: