Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 4 menit baca

Budaya Amplop Kiai dan Pejabat: Antara Pengabdian Dakwah dan Moralitas Kekuasaan

Dr. AM. Jumai

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Ketua FKSB, akademisi Unimus

Budaya Amplop Kiai dan Pejabat: Antara Pengabdian Dakwah dan Moralitas Kekuasaan
Dr. AM Jumai, S.E., M.M. (Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PWM Jateng / Komisi Dakwah MUI Jateng) menyoroti pentingnya nilai moral generasi muda dalam menyambut Indonesia Emas pada momentum Hari Kesaktian Pancasila 2026. (Foto: Istimewa)

Fenomena “amplop” dalam kehidupan sosial Indonesia sering menjadi simbol yang sarat makna. Benda ini bukan sekadar selembar kertas berisi uang belaka. Budaya amplop ini justru mencerminkan relasi sosial, etika, dan moralitas kekuasaan.

Dalam tradisi masyarakat, kiai sering menerima amplop sebagai bisyarah. Umat memberikan bisyarah ini murni untuk menghormati jasa dakwah dan bimbingan spiritual mereka.

Sementara itu, dunia birokrasi sering mengubah makna amplop tersebut. Pejabat bisa menganggapnya sebagai honorarium, tunjangan, atau bahkan gratifikasi. Lebih parah lagi, praktik menyimpang menjadikan amplop sebagai uang pelicin semata. Praktik ini jelas mengaburkan batas antara penghargaan dan penyalahgunaan wewenang.

Oleh karena itu, kita perlu merenungkan perbedaan makna ini. Hal ini sangat penting sebagai kritik sosial terhadap budaya amplop masyarakat.

Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah menyindir fenomena ini secara tajam. Beliau menyampaikannya melalui sebuah puisi berjudul “Dunia Amplop”. Dalam karya tersebut, Gus Mus menggambarkan amplop sebagai simbol relasi sosial yang penuh ironi. Manusia bisa tertawa dan bercanda, namun puisi itu menyimpan kritik mendalam.

Selanjutnya, amplop memang dapat menjadi tanda penghormatan yang tulus. Akan tetapi, benda ini juga sering menjerumuskan manusia pada penyimpangan moral. Pesan moralnya sangat jelas bagi kita semua. Banyak orang tersesat dan menyesatkan orang lain akibat godaan amplop.

Realitas Amplop Kiai dan Pengabdian Kampung

Faktanya, dinamika amplop bagi kiai kampung sangat jauh dari bayangan masyarakat. Pejabat tentu memiliki gaji tetap, tunjangan, dan fasilitas negara yang terjamin. Sebaliknya, seorang mubalig sering mengabdi dalam kesederhanaan yang nyata.

Sebagai contoh, modin kampung menerima amplop kecil saat membantu hajat warga. Mereka biasanya memotong ayam hajatan atau memimpin doa kenduri. Terkadang, warga juga meminta mereka membacakan doa khusus untuk keluarga penderita kesusahan.

Pada pengajian kecil di musala, jemaah juga melakukan hal serupa. Mereka memberikan amplop untuk menghormati kiai yang telah meluangkan waktu memberikan tausiah.

Namun, dinamika lapangan sering menghadirkan kisah menyentuh sekaligus ironis. Banyak kiai harus menempuh perjalanan puluhan kilometer menembus hujan deras. Mereka mengendarai sepeda motor atau mobil sederhana melewati kemacetan panjang.

Sesampainya di lokasi, sang kiai tetap memberikan ceramah dengan penuh semangat. Beliau tulus mengajak jemaah memperbaiki akhlak dan memperkuat iman.

Setelah acara selesai, kiai menerima amplop yang isinya sangat terbatas. Terkadang, isinya hanya cukup untuk sekadar membeli bahan bakar kendaraan. Bahkan, sang kiai sering menanggung sendiri biaya makan selama perjalanan.

Dilema Moral Infak dan Ketulusan Dakwah

Selain itu, majelis taklim di kampung juga sering bersusah payah. Panitia harus mengumpulkan dana demi menyelenggarakan sebuah pengajian sederhana. Mereka menyiapkan tempat seadanya dan hidangan ala kadarnya bagi jemaah. Hidangan ini biasanya hanya berupa teh hangat, pisang goreng, atau kacang rebus.

Pada akhir acara, panitia dengan jujur mengumumkan hasil infak malam itu. “Infak pengajian malam ini terkumpul seratus lima puluh ribu rupiah,” ujar panitia.

Situasi seperti ini tentu memunculkan sebuah dilema moral tersendiri. Pantaskah seorang kiai menerima seluruh bisyarah hasil urunan tersebut? Padahal, panitia dan jemaah telah bersusah payah mengumpulkan dana pengajian itu.

Oleh karena itu, banyak kiai kampung memilih jalan kebijaksanaan. Mereka hanya mengambil sebagian kecil dari isi amplop tersebut. Bahkan, beberapa kiai langsung mengembalikan amplop kepada panitia untuk kas majelis taklim.

Bagi para kiai, dakwah bukanlah sekadar profesi mencari materi. Mereka menganggap dakwah sebagai panggilan iman dan tanggung jawab moral tertinggi.

Semangat ini sejalan dengan firman Allah dalam Q.S. Ali Imran ayat 104. Allah memerintahkan segolongan umat untuk menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ayat tersebut memastikan pelaku dakwah akan memperoleh keberuntungan hakiki dari sisi Allah. Mereka sama sekali tidak mengejar keuntungan materi semata.

Nabi Muhammad juga mengajarkan prinsip serupa melalui sabda beliau. Beliau memerintahkan umatnya, “Ballighu ‘anni walau ayah” (sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat). Hadis ini menuntut setiap muslim mengemban amanah dakwah sesuai kemampuan.

Selanjutnya, pendakwah harus mengedepankan hikmah dan nasihat yang baik (mauizah hasanah). Pendakwah juga wajib menggunakan pendekatan yang bijaksana kepada masyarakat.

Amplop Pejabat dan Ujian Moralitas Kekuasaan

Di sinilah kita melihat kontras nyata yang mengusik nurani. Amplop kiai dan amplop pejabat memberikan refleksi moral yang sangat tajam. Rasa hormat masyarakat kepada perjuangan dakwah melahirkan selembar amplop kiai. Meskipun nilainya sederhana, amplop ini membawa keberkahan dan ketulusan.

Sebaliknya, amplop pejabat sering berada di wilayah abu-abu kekuasaan birokrasi. Pejabat sangat rentan menyalahgunakan kewenangan jika tidak memiliki integritas yang kuat.

Oleh karena itu, kita harus terus menyuarakan kritik sosial ini ke ruang publik. Kita berharap teguran ini mampu memperbaiki budaya amplop di Indonesia. Kesadaran bersama harus tumbuh bahwa kemuliaan tidak bergantung pada nominal uang. Ukuran kemuliaan sejati selalu terletak pada kejujuran, pengabdian, dan tanggung jawab moral.

Baca juga:

Islam dan Ritus Budaya Masyarakat

Langkah Senyap Muhammadiyah dalam Kebudayaan

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: