Ada dua cara orang Indonesia menunggu Ramadan: dengan bunyi bedug yang dipukul pelan sejak sore hari, atau dengan pengumuman yang dibaca tenang dari layar televisi. Yang satu terasa seperti halaman kampung yang hidup oleh suara manusia; yang lain seperti ruang kerja yang rapi, dengan kalender astronomi terbuka di atas meja. Keduanya sama-sama menuju bulan yang sama, tetapi berjalan melalui jalan batin yang berbeda.
Perbedaan itu sering diberi nama: gaya Nahdlatul Ulama dan gaya Muhammadiyah. Namun, mungkin masalahnya justru muncul ketika kita terlalu cepat memberi nama.
Ramadan, sebelum menjadi soal metode, sebenarnya adalah peristiwa rasa. Ia datang seperti musim yang dikenali tubuh bahkan sebelum diumumkan. Ada perubahan pada pasar menjelang senja, pada wajah orang-orang yang mulai menahan diri, pada masjid yang mendadak lebih terang dari biasanya. Anak-anak berlatih menabuh kentongan, ibu-ibu mulai menghitung hari untuk membuat kue, dan para perantau merasakan sesuatu yang samar: kerinduan yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan.
Di sinilah gaya Nahdlatul Ulama sering tampak: Ramadan sebagai pengalaman komunal. Ada tradisi nyadran, doa bersama di makam leluhur, tahlilan, pengajian kampung, dan bunyi pengeras suara yang kadang terlalu keras tetapi justru terasa akrab. Waktu tidak hanya dihitung secara astronomis, melainkan juga dirasakan secara sosial. Bulan suci hadir melalui perjumpaan manusia dengan manusia lain.
Ramadan menjadi peristiwa kebersamaan.
Sementara itu, Muhammadiyah datang dengan kesan berbeda: lebih tenang, lebih sistematis, lebih awal menyiapkan kepastian. Kalender telah disusun jauh hari. Awal puasa diumumkan melalui perhitungan yang konsisten. Tidak perlu menunggu langit mendung atau laporan dari berbagai daerah. Ada keyakinan bahwa ilmu pengetahuan adalah cara manusia membaca keteraturan ciptaan Tuhan.
Ramadan menjadi peristiwa kesadaran rasional. Akan tetapi, barangkali kita keliru jika menganggap keduanya berlawanan.
Sering kali perbedaan itu digambarkan seperti dua kutub: tradisi melawan modernitas, rasa melawan rasio, kampung melawan kota. Padahal, kenyataannya jauh lebih cair. Di banyak tempat, warga Nahdlatul Ulama menggunakan aplikasi digital untuk mengetahui waktu salat; sementara warga Muhammadiyah tetap menghidupkan pengajian kampung dan buka puasa bersama dengan suasana yang hangat. Manusia tidak pernah hidup dalam kategori yang sepenuhnya murni.
Apa yang disebut “gaya khas” sebenarnya hanyalah penekanan yang berbeda. Yang satu menekankan kesinambungan tradisi, yang lain menekankan ketertiban metodologis. Yang satu menjaga ingatan kolektif, yang lain menjaga konsistensi berpikir. Dua-duanya lahir dari kegelisahan yang sama: bagaimana menjalankan agama dengan sungguh-sungguh di tengah dunia yang terus berubah. Perbedaan itu bukan konflik, melainkan dialektika kebudayaan.
Namun, kita, manusia modern yang gemar menyederhanakan, sering menjadikannya pertandingan tahunan. Media sosial menunggu pengumuman awal Ramadan seperti menunggu hasil pertandingan sepak bola. Siapa mulai duluan, siapa ikut pemerintah, siapa berbeda satu hari; semuanya diperdebatkan dengan nada yang kadang lebih panas daripada semangat ibadah itu sendiri. Padahal, Ramadan datang justru untuk meredakan panas.
Ada sesuatu yang ironis ketika bulan pengendalian diri justru diawali oleh perdebatan yang kehilangan kendali. Seolah-olah perbedaan metode adalah ancaman, bukan kekayaan pengalaman religius.
Kita lupa bahwa sejarah Islam sendiri penuh dengan keragaman praktik. Perbedaan bukanlah kecelakaan, melainkan bagian dari cara manusia memahami yang tak terbatas. Tuhan tidak pernah memaksa manusia memiliki satu cara tunggal untuk merasakan-Nya.
Barangkali di situlah pelajaran terbesar dari dua gaya ini.
Nahdlatul Ulama mengingatkan bahwa agama hidup dalam tradisi manusia: dalam bahasa lokal, dalam kebiasaan turun-temurun, dalam kehangatan sosial yang membuat iman terasa dekat. Muhammadiyah mengingatkan bahwa agama juga membutuhkan kejernihan berpikir: disiplin ilmu, keteraturan, dan keberanian untuk menafsir ulang tanpa kehilangan prinsip.
Gaya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Yang satu menjaga akar. Yang lain merawat arah. Tanpa akar, pohon tumbang. Tanpa arah, pohon tumbuh tanpa tujuan.
Masalah muncul ketika identitas organisasi menggantikan tujuan spiritual. Ketika orang lebih bangga pada cara memulai puasa daripada kualitas puasanya. Ketika perbedaan tanggal terasa lebih penting daripada perubahan akhlak. Padahal, lapar yang dirasakan tubuh tidak pernah bertanya: ini puasa versi siapa?
Di meja sahur, semua orang menahan rasa kantuk yang sama. Di siang hari, semua tenggorokan merasakan kering yang sama. Di waktu magrib, semua hati menunggu azan dengan harapan yang sama. Pengalaman biologis dan spiritual itu melampaui organisasi apa pun. Ramadan menyatukan manusia melalui keterbatasannya.
Oleh karena itu, mungkin sudah waktunya kita berhenti memperlakukan perbedaan gaya sebagai persoalan yang harus diselesaikan. Ia bukan masalah teknis yang menunggu solusi final. Ia adalah kenyataan sosial yang justru menunjukkan kedewasaan umat: kemampuan hidup berdampingan tanpa harus seragam.
Keseragaman bukanlah persatuan. Persatuan justru lahir ketika perbedaan tidak lagi menimbulkan kecemasan.
Bayangkan sebuah kampung tempat sebagian warga mulai tarawih lebih dulu, sementara yang lain menyusul sehari kemudian. Pada malam pertama, sebagian lampu masjid menyala; pada malam berikutnya, lampu yang lain ikut terang. Dalam dua malam itu, kampung justru lebih hidup. Ada dua kali kegembiraan, dua kali salam saling mengunjungi, dua kali alasan untuk berbagi makanan. Perbedaan, jika diterima dengan lapang, memperpanjang kebahagiaan.
Mungkin inilah yang sering luput dari perdebatan kita: agama tidak selalu meminta keseragaman pengalaman, melainkan keikhlasan menjalani pengalaman masing-masing. Yang penting bukan kapan kita mulai, tetapi bagaimana kita menjalani. Sebab, Ramadan bukan perlombaan menuju garis start, melainkan perjalanan panjang menuju perubahan diri.
Di ujungnya, perbedaan gaya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada soal kalender: bahwa iman dapat memiliki banyak ekspresi tanpa kehilangan makna. Tradisi dan rasionalitas bukan musuh; keduanya adalah dua bahasa berbeda untuk menyebut kerinduan yang sama kepada Yang Ilahi.
Dan, mungkin kedewasaan beragama justru dimulai ketika kita tidak lagi merasa perlu membandingkan keduanya.
Ketika orang bisa berkata: mereka memulai hari ini, kita besok, dan dunia tetap baik-baik saja. Ketika Ramadan tidak lagi diawali oleh pertanyaan “siapa benar,” melainkan oleh pertanyaan yang lebih sunyi: sudahkah kita siap menjadi manusia yang lebih sabar?
Sebab, pada akhirnya, bulan suci tidak datang untuk menguji metode kita menghitung bulan, melainkan kemampuan kita merendahkan ego. Di sana, di wilayah batin yang sunyi itu, semua gaya menjadi sama: manusia yang belajar menahan diri, berharap diampuni, dan diam-diam ingin pulang kepada Tuhan dengan hati yang lebih ringan.
Baca juga:
Menyatukan NU dan Muhammadiyah
Perbedaan NU dan Muhammadiyah: Rahasia Satu Kamar yang Menjaga Indonesia
Beda Tarekat NU dan Irfani Muhammadiyah: Satu Tuhan, Dua Jalan Menuju Kesalehan
Perbedaan Doa Iftitah Muhammadiyah dan NU: Ternyata Satu Hakikat!