Hari ini di Balai Kota Semarang, tanggal 19 Desember 2025, diselenggarakan upacara untuk memperingati Hari Bela Negara 2025. Hari Bela Negara memang tidak seheroik peringatan hari besar lain, seperti Proklamasi 17 Agustus atau Hari Kartini. Di jalan-jalan atau perumahan, jarang terlihat pemasangan bendera Merah Putih. Di sekolah, kampus, atau instansi pun terkadang minim tanda-tanda kesadaran mengenai hari penting ini. Tetapi, di Balai Kota, setidaknya peringatan sejarah Hari Bela Negara itu diselenggarakan dan disadari keberadaannya.
Rakyat Indonesia sering lupa bahwa tanggal 19 Desember adalah hari nasional penting. Tema Hari Bela Negara 2025 kali ini menjadi momentum untuk mengingat kembali Agresi Militer Belanda II tahun 1948 yang berhasil menguasai Yogyakarta dan menangkap para pucuk pimpinan Republik. Bagi Belanda saat itu, keberhasilan tersebut monumental karena Republik Indonesia yang dipandangnya sebagai negara “tidak serius” dianggap bisa ditaklukkan.
Tapi, di tengah keterpurukan Republik yang baru berdiri itu, ada nyala api yang belum padam. Pertama adalah nyala api Jenderal Sudirman, yang menolak untuk menyerahkan diri, melainkan memimpin gerilya dalam kondisi sakit parah. Kedua adalah nyala Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang ditegakkan oleh Sjafruddin Prawiranegara di Bukittinggi, Sumatra. Kedua nyala api itu mengganggu kemenangan Belanda karena ternyata perlawanan Republik belum padam, meski para pimpinan utamanya ditangkap.
Keteguhan Sang Jenderal dan Pasukannya
Jenderal Sudirman menolak mengikuti strategi para pimpinan sipil untuk ditangkap oleh Belanda. Meski dengan menyerah ada harapan bahwa dunia internasional mungkin akan memperhatikan nasib Indonesia, Jenderal Sudirman punya pemikiran lain.
Ia menekankan satu kekuatan nyata yang harus ditunjukkan oleh Republik agar dunia internasional memperhatikan Indonesia. Jalan gerilya adalah modal bagi Republik untuk menyatakan diri masih hidup dan tidak berakhir. Semangat tidak menyerah untuk membela negara inilah yang membuat Jenderal Sudirman sangat ikonik dan menjadi teladan bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada era-era selanjutnya.
Yang membuat gerilya Jenderal Sudirman menjadi lebih kuat secara moral adalah saat ia menjalani long march dari Yogyakarta hingga Kediri dalam kondisi sakit parah akibat penyakit paru-paru. Dengan setia, pasukannya mendampingi dan memanggulnya dalam tandu ketika penyakitnya memburuk. Sulit dibayangkan, orang dengan tubuh ringkih dan serangan penyakit pernapasan harus melakukan perjalanan jauh melewati panas, debu, dan hujan.
Hal yang juga tidak bisa dilupakan adalah kesetiaan pasukannya dalam mengikuti komando. Bahkan kelompok-kelompok pasukan lain yang terputus garis komandonya masih menghargai dan menyambut Jenderal Sudirman di mana pun ia singgah. Pasukan pengawalnya tidak patah arang meski atasannya sakit parah. Masyarakat yang dilewati pun dengan senang hati menjamu. Itu adalah potret nyata makna Bela Negara sebagai gerakan manunggal militer dan rakyat.
Inisiatif Tokoh Sipil
Nyala api kedua dalam Peringatan Hari Bela Negara adalah langkah penyelamatan oleh tokoh sipil. Sebelum para pemimpin Republik ditangkap, mereka sempat melakukan rapat kabinet dan berencana mengamanahkan pembentukan Pemerintahan Darurat di Sumatra.
Sjafruddin Prawiranegara, yang saat itu berada di Sumatra, menangkap pesan tersebut. Ia mengambil sikap menyelamatkan Republik. Setelah melalui serangkaian proses, PDRI dideklarasikan pada tanggal 22 Desember 1948 (koreksi tahun: 1948). Berdirinya PDRI memberi pesan pada dunia bahwa Indonesia tidak bubar. Pepatah mengatakan: “Mati satu, tumbuh seribu.”
Saat itu, Indonesia pernah dipimpin oleh seorang Presiden Sementara. Sjafruddin Prawiranegara adalah tokoh ekonom yang demokratis dan berlatar belakang pendidikan modern. Ia kemudian menjabat Menteri Keuangan pada Kabinet Moh. Hatta tahun 1950. Kebijakan “Gunting Sjafruddin” menjadi langkah moneter pertama Pemerintah RI untuk mengatasi inflasi.
Inisiatif Sjafruddin menunjukkan partisipasi kuat dalam membela negara di kalangan sipil. Perjuangan kebangsaan tidak bersumber dari satu sosok saja, melainkan akumulasi kehendak rakyat. Indonesia sulit ditaklukkan karena kesadaran membela negara lahir dari warga negara, bukan sekadar instruksi dari atas.
Baca juga: