Publik tengah menyoroti tajam kasus pelecehan mahasiswa UI baru-baru ini. Sorotan publik ini tertuju secara spesifik pada 16 pemuda dari Fakultas Hukum. Keadaan ini tentu terasa sangat ironis sekaligus memalukan bagi kita.
Sekelompok pemuda terpelajar justru melakukan perbuatan tak pantas tersebut. Apalagi, mereka menempuh pendidikan tinggi di kampus terbaik negeri ini. Oleh karena itu, peristiwa ini melampaui sekadar pelanggaran etik institusi.
Kasus ini ibarat tamparan keras bagi masyarakat luas. Kita pun sadar bahwa fondasi moral dunia pendidikan sedang retak. Selanjutnya, masyarakat sungguh menghadapi ironi zaman yang sangat pahit.
Kecerdasan intelektual generasi muda memang meningkat amat pesat. Namun, adab mereka justru perlahan mulai terkikis habis. Kasus pelecehan mahasiswa UI ini pun lantas menjadi alarm bahaya bagi kita bersama.
Kampus Berubah Menjadi Sekadar Pabrik
Tragedi ini membuktikan tingginya risiko orientasi pragmatis perguruan tinggi. Kampus berpotensi hanya mencetak manusia pintar yang miskin etika. Akibatnya, arah pendidikan tinggi saat ini mulai bergeser amat jauh.
Dahulu, masyarakat mengenal universitas sebagai tempat utama membentuk karakter luhur. Akan tetapi, institusi pendidikan sekarang seolah terseret pusaran logika industri. Kampus kerap hanya mengukur keberhasilan mahasiswa dari tingginya angka Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).
Dosen dan pengelola juga hanya melihat capaian sistem kredit siap kerja dan kelengkapan administrasi. Sebaliknya, mereka sering mengesampingkan evaluasi pembentukan karakter moral mahasiswa. Akibatnya, kampus seperti kehilangan ruh pendidikannya yang sejati.
Fungsi perguruan tinggi perlahan berubah secara drastis. Kampus beralih peran dari tempat mendidik manusia menjadi sekadar “pabrik” tenaga kerja. Lulusan kampus mungkin sangat unggul secara teknis manajerial dan siap bekerja.
Meskipun demikian, mereka kerap sangat rapuh dalam urusan etika dasar kemanusiaan. Mahasiswa tahu persis cara bekerja secara profesional. Sayangnya, mereka langsung gagap saat harus bersikap santun sebagai manusia seutuhnya.
Adab Sebagai Fondasi Utama Pendidikan
Dalam pandangan ajaran Islam, adab melampaui batas sekadar tata krama atau sopan santun. Adab berarti kemampuan seseorang menempatkan segala urusan tepat pada tempatnya. Orang beradab pasti tahu cara menghargai ilmu secara benar.
Selain itu, mereka juga selalu menghormati guru dan menjaga batas interaksi dengan sesama. Terdapat tiga hubungan penting dalam penerapan adab sehari-hari. Manusia wajib menjaga hubungan baik dengan Tuhan, sesama manusia, dan ilmu itu sendiri.
Ketika salah satu hubungan tersebut rusak, ilmu pasti kehilangan arah manfaatnya. Ilmu tanpa adab bukan hanya hampa maknanya bagi kehidupan. Lebih dari itu, ilmu tanpa adab juga sangat berbahaya bagi masyarakat luas.
Sikap nirempati ini bisa melahirkan kesombongan yang luar biasa. Seseorang bahkan bisa bebas menggunakan kepintarannya untuk merugikan orang lain. Sejatinya, Tuhan memuliakan manusia sebagaimana penegasan dalam Surah Al-Isra’ ayat 70.
Maka dari itu, kasus pelecehan mahasiswa UI ini sangat mencederai nilai luhur kemanusiaan. Tindakan amoral di lingkungan pendidikan bukan sekadar pelanggaran tata tertib kampus. Sebaliknya, hal ini merupakan bentuk nyata pengkhianatan terhadap martabat kemanusiaan.
Akar Krisis Moral di Kampus
Krisis moral di lingkungan kampus tentu tidak muncul begitu saja. Salah satu akarnya bermula dari budaya pragmatisme institusi pendidikan modern. Cara pandang masyarakat pun sering keliru memisahkan ilmu dari nilai-nilai spiritual.
Ketika mahasiswa menganggap ilmu sebagai hal netral, mereka otomatis menyingkirkan beban moral. Orang lantas merasa bebas menyalahgunakan kepintarannya demi memuaskan nafsu pribadi.
Di sisi lain, orientasi mahasiswa dalam memaknai esensi kuliah juga makin pragmatis. Mereka hanya menganggap kuliah sekadar jalan memburu gelar untuk mencari pekerjaan bergaji tinggi.
Akhirnya, capaian akademis menjadi tujuan utama setiap mahasiswa. Sementara itu, mereka menggeser urgensi pembentukan karakter menjadi urusan tambahan semata.
Peran institusi keluarga pada masa kini juga tidak sekuat zaman dahulu. Banyak orang tua modern hanya berfokus menuntut raihan nilai rapor tinggi. Mereka lebih memikirkan citra anak ketimbang lelah menanamkan kejujuran sejak usia dini.
Mengembalikan Takhta Adab
Jika kita terus membiarkan krisis moral ini, ancaman masa depan akan sangat mengkhawatirkan. Bangsa ini akan memiliki sangat banyak orang pintar dan ahli di berbagai bidang. Sayangnya, mereka kelak tumbuh menjadi individu yang miskin hati nurani.
Kecurangan dan ketidakadilan akan sangat mudah tumbuh subur di tengah masyarakat. Hal buruk ini terjadi ketika kepintaran intelektual tidak mendapat kawalan ketat dari kendali diri. Oleh sebab itu, kita wajib segera mengembalikan adab ke takhta tertinggi dunia pendidikan.
Adab seharusnya memegang posisi sebagai ruh utama dalam setiap proses belajar mengajar. Etika jelas tidak boleh sekadar menempel sebagai pelengkap syarat kurikulum kampus. Keluarga juga perlu kembali berperan aktif sebagai sekolah pertama bagi setiap anak.
Orang tua tetap memegang kunci paling penting dalam menanamkan akhlak terpuji. Sementara itu, perguruan tinggi harus segera melakukan langkah evaluasi paling konkret.
Dosen harus mulai mengintegrasikan etika profesi secara ketat sejak semester awal perkuliahan. Kampus pun wajib bertindak sangat tegas saat menjatuhkan sanksi disiplin. Institusi sama sekali tidak boleh pandang bulu terhadap siapapun pelaku tindak pelecehan tersebut.
Para ulama sejak zaman dahulu selalu tak lelah mengingatkan kita semua. Adab itu selalu memiliki posisi jauh lebih mulia di atas ilmu pengetahuan. Tanpa adab, ilmu memang mungkin bisa mengantarkan seseorang cepat meraih puncak karier.
Namun, ilmu tersebut tidak akan pernah sanggup memberikan kehormatan yang sejati. Pada akhirnya, kita hanya bisa menjaga masa depan generasi muda melalui pendalaman adab yang baik.
Melalui adab pula, kita bisa mencegah kasus pelecehan mahasiswa UI terulang lagi serta memastikan kampus kembali melahirkan manusia yang bermartabat.
Adab Lebih Tinggi dari Ilmu: Mengukir Kedamaian Lewat Salam
Pendidikan Karakter Berbasis Al-Alaq: Rahasia Sukses Dunia Akhirat