Adalah sebuah paradoks sejarah: tatkala zaman pada awal abad ke-20 sering kali meminggirkan perempuan dalam bilik-bilik sunyi, di Kauman, Yogyakarta, sebuah gerakan justru lahir untuk meruntuhkan sekat-sekat kebisuan itu. Kita mengenalnya kini sebagai ‘Aisyiyah. Dalam momentum Milad Aisyiyah ke 109 ini, kita diajak untuk kembali merenungkan sejarah panjang kiprah tokoh perempuan Islam ini dalam mengangkat martabat kaumnya.
Kala merayakan Milad Aisyiyah, organisasi ini tidak sekadar merayakan angka tahun yang bertambah, melainkan merenungkan kembali sebuah tapak tilas panjang sejarah ‘Aisyiyah. Nama yang disandangnya bukanlah kebetulan. Diambil dari nama istri Nabi Muhammad saw., ‘Aisyah r.a., nama ini menyiratkan sebuah cita-cita: perempuan yang tidak hanya menjadi saksi zaman, tetapi juga sosok yang cerdas, mumpuni, dan berdaya.
Bersama sang pendiri, Nyai Ahmad Dahlan, perkumpulan pengajian sederhana bernama Sapa Tresna bertransformasi menjadi organisasi otonom (ortom) perempuan Muhammadiyah yang menolak tunduk pada dogma budaya yang diskriminatif.
Dalam setiap helaan napas perjuangannya, ‘Aisyiyah membaca agama tidak sekadar sebagai ritus-ritus langit. Agama diterjemahkan ke dalam amal saleh yang membumi. Inilah esensi teologi pembebasan kaum perempuan, yang menjadikan kesetaraan beramal sebagai landasan teologisnya.
Di tangan ibu-ibu Kauman, agama menjadi alat yang progresif: menghapus buta aksara, mendirikan TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) yang kini telah melampaui usia seabad, hingga menyapa kaum duafa melalui panti asuhan. Mereka membuktikan bahwa peran perempuan dalam emansipasi bukanlah monopoli kaum borjuis di ruang-ruang diskusi, melainkan kerja keras mengentaskan kebodohan dan kemiskinan di ruang-ruang kelas serta bilik rumah sakit.
Oleh karena itu, peringatan Milad Aisyiyah yang terus dirayakan saban tahun adalah cermin tempat kita melihat masa silam yang tak lekang oleh waktu. Nyai Walidah pernah berpesan bahwa ada dua penyakit batin yang paling sukar disembuhkan: kikir dan malas.
Peringatan hari lahir organisasi ini seakan menjadi antitesis dari kedua penyakit tersebut. Dari sebuah komunitas kecil, ia kini menjelma menjadi raksasa sosial dengan ribuan amal usaha yang tersebar di pelataran Nusantara.
Kita hidup di abad di mana perempuan acap kali masih berhadapan dengan labirin modernitas yang membingungkan. Namun, ‘Aisyiyah telah memberi kita sebuah pelajaran berharga: perjuangan perempuan tidak pernah sederhana, tetapi kesabaran dan kerja nyata adalah jalan paling sunyi sekaligus paling benderang untuk mengusung peradaban utama.
Milad Aisyiyah bukanlah akhir dari sebuah cerita. Ia adalah koma, sebuah jeda untuk menarik napas, melihat cakrawala, dan meneruskan ikhtiar untuk memanusiakan manusia. Di usia yang kian matang, yang tersisa bukanlah nostalgia masa lalu yang usang, melainkan sebuah energi yang terus diperbarui untuk mewujudkan Islam yang wasathiyah, berkemajuan, dan membawa rahmat bagi semesta alam.
Baca juga:
Resepsi Milad ke-109, PDA Kota Semarang Siap Perkokoh Dakwah Kemanusiaan!