Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Enam Tokoh Perempuan Muhammadiyah: Dari Pengajian Menuju Panggung Sejarah Gerakan Perempuan

21 April 2026, 20:23 WIB 6 menit baca
Potret close-up hitam putih Siti Munjiyah, tokoh perempuan Muhammadiyah, menatap lurus ke kamera. Ia mengenakan penutup kepala berwarna terang yang melilit di leher dan wajah, dengan hiasan manik-manik gelap di sepanjang pinggirannya. Latar belakang menunjukkan bagian dari pakaian bermotif bunga dan sebagian tangan orang lain di sisi kanan.
Siti Munjiyah, salah satu tokoh kunci dalam pergerakan perempuan Muhammadiyah (Aisyiyah), dalam potret hitam putih vintage yang penuh makna. (Foto: Sumber Suara Muhammadiyah)

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org Narasi mengenai sejarah pergerakan perempuan di Indonesia sering kali hanya dilekatkan pada sosok R.A. Kartini. Padahal, sejarah mencatat bahwa gagasan emansipasi tersebut tidak dibiarkan menguap begitu saja. Ide-ide pembaruan itu diinkubasi, diorganisasi, dan dibumikan secara nyata melalui panggung pergerakan yang digawangi oleh para tokoh perempuan Muhammadiyah.

Jauh sebelum era kemerdekaan, ruang-ruang pengajian di Kauman, Yogyakarta, telah menjadi episentrum lahirnya para srikandi tangguh. Rintisan K.H. Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah terbukti sukses mendobrak batasan ruang gerak perempuan di masa itu, hingga mengantarkan tokoh-tokoh Aisyiyah menjadi pilar utama dalam penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia I pada tahun 1928.

Bagaimana sebenarnya persyarikatan mengolah ajaran agama menjadi kekuatan utama bagi sejarah gerakan perempuan?

Prof. Dr. Ahwan Fanani, M.Ag., Guru Besar Ilmu Pemikiran Hukum Islam UIN Walisongo yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, mengulas rekam jejak tersebut secara komprehensif.

Melalui tulisan ini, kita diajak menelisik kembali visi berkemajuan Muhammadiyah yang sejak awal mendudukkan perempuan bukan sebagai objek, melainkan subjek peradaban.

Berikut adalah ulasan selengkapnya:


Gerakan Sosial dari Pengajian

Raden Ajeng Kartini adalah pendobrak dan pemantik sejarah gerakan perempuan. Ia bergerak di ruang terbatas, di bawah pingitan, dan bersuara melalui tulisan. Baru pada tahun-tahun akhir hidupnya, setelah menikah, ia bisa membangun sekolah perempuan. Suaranya lebih didengar dan dihargai oleh orang-orang Barat yang mengapresiasi pemikiran seorang gadis bumiputra yang mampu berpikir maju pada zamannya.

Suara Kartini ini kemudian dibawa lebih membumi oleh banyak gerakan nasional dan keagamaan setelah eranya. Salah satu gerakan keagamaan yang membuka keran bagi kiprah tokoh perempuan Muhammadiyah adalah persyarikatan yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan. Partisipasi yang disuarakan Muhammadiyah bukan melalui gugatan terhadap praktik keagamaan, melainkan dengan menggerakkan agama sebagai kekuatan pergerakan perempuan.

Meski terinspirasi oleh semangat pemurnian Islam, Muhammadiyah berani menerobos pembatasan terhadap perempuan. Pada masa itu, perempuan dibatasi hanya untuk berperan di ranah domestik. Mereka dilarang bersekolah, bahkan tidak dianjurkan belajar menulis huruf Latin.

Hingga saat ini, upaya kembali ke ajaran Islam yang autentik sering kali terjebak pada pembatasan hak perempuan, seperti melarang mereka belajar, menulis huruf Latin, hingga bekerja. Di era modern, seperti di Afghanistan di bawah kekuasaan Taliban, perempuan dibatasi dari dunia pendidikan dan pekerjaan.

Namun, K.H. Ahmad Dahlan pada awal abad ke-20 mengambil sikap berbeda. Ia mendorong partisipasi aktif perempuan dalam kegiatan sosial keagamaan. Banyak tokoh perempuan Muhammadiyah lahir dari pengajian beliau. Pengajian tersebut bukan sekadar ruang pengajaran agama, melainkan juga ruang inkubasi bagi gerakan sosial keagamaan dan gerakan perempuan.

Semasa hidupnya, K.H. Ahmad Dahlan mendukung penuh istrinya, Nyai Siti Walidah, saat mendirikan Aisyiyah pada tahun 1917. Sebelumnya, Nyai Walidah telah mendirikan Sopo Tresno di Kauman pada tahun 1914 untuk memberantas buta aksara dan memberikan pendidikan agama bagi perempuan.

Peran Tokoh Perempuan Muhammadiyah di Kongres Perempuan I

K.H. Ahmad Dahlan memiliki beberapa murid perempuan yang menempuh pendidikan di sekolah umum (MULO), salah satunya Siti Badilah (Sekretaris Pertama Aisyiyah). Ia adalah satu dari enam murid perempuan yang dididik langsung oleh K.H. Ahmad Dahlan.

Aisyiyah kemudian berkembang menjadi salah satu organisasi perempuan berpengaruh. Ia menjadi satu dari tujuh organisasi penyelenggara Kongres Perempuan Indonesia I (22–25 Desember 1928), yang kini diperingati sebagai Hari Ibu.

Terdapat enam pimpinan dari unsur Muhammadiyah yang duduk di Dewan Pimpinan Kongres (terdiri atas 15 orang). Kongres ini didukung oleh tujuh organisasi, yaitu Aisyiyah, Sayap Perempuan Jong Islamieten Bond (JIBDA), Wanita Taman Siswa, Wanita PSII, Wanita Katolik, Wanita Utomo, dan Putri Indonesia. Dari enam pimpinan tersebut, tiga orang mewakili Aisyiyah, dua orang mewakili Wanita PSII, dan satu orang mewakili JIBDA. Fakta ini menunjukkan luasnya persebaran aktivis dan tokoh Aisyiyah di berbagai lembaga pergerakan.

Enam Tokoh Perempuan Muhammadiyah

Biografi tokoh-tokoh tersebut dimuat dalam buku Biografi Tokoh Kongres Perempuan Indonesia Pertama terbitan Depdikbud (1991), sebagai berikut:

  1. Siti Munjiyah: Saudari dari K.H. Fakhrudin dan Ki Bagus Hadikusumo. Ia diarahkan oleh K.H. Ahmad Dahlan untuk belajar di Madrasah Muslimat Muhammadiyah, sementara beberapa temannya didorong masuk sekolah umum. Ia kemudian aktif membesarkan Aisyiyah.
  2. Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito: Saat bersekolah di HIS, ia aktif di Siswapraja Wanita Muhammadiyah (cikal bakal Nasyiatul Aisyiyah). Ia menjabat sebagai Ketua Jong Islamieten Bond Afdeeling Wanita Yogyakarta (1930), bergabung dengan Budi Utomo (1934), menjadi Ketua Badan Kongres Wanita IV mewakili Parindra, Ketua Bagian Wanita PUTERA (1943), Anggota KNIP (1945), Masyumi (1946), Ketua Badan Kongres Wanita Indonesia (1947), dan Ketua PB Muslimat Masyumi.
  3. Marakati (Nyonya Driyowongso): Aktif di Muhammadiyah Pasuruan, kemudian pindah ke Yogyakarta setelah suaminya beberapa kali ditahan Belanda akibat kritikan tajam. Nyonya Driyowongso menjadi pengurus Aisyiyah di bawah asuhan Nyai Walidah, lalu pindah ke Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) bersama suaminya. Saat Kongres Perempuan I, ia hadir mewakili PSII.
  4. Alfiah Muridan Noto: Putri Raden Ngabehi Abdul Kadir. Ia bersekolah di Budi Utomo, lalu di NHJMS. Ia belajar mengaji pada sore hari di bawah bimbingan K.H. Ahmad Dahlan. Pada tahun 1919, ia bergabung dengan organisasi wanita Sarekat Islam (PSII). Pada Kongres Perempuan I, ia mewakili PSII. Selanjutnya, ia bergabung dengan PERWARI, masuk Muslimat Masyumi (1953), dan menjadi Komisaris Wanita Islam (1962).
  5. Siti Hayinah Mawardi: Pernah menjabat sebagai Sekretaris PP Aisyiyah (1925), lalu Ketua PP Aisyiyah, dan Bendahara PP Aisyiyah. Ia juga menjadi Ketua Redaksi Suara Aisyiyah. Pada Kongres Perempuan I, ia tampil sebagai pembicara dengan makalah bertajuk “Persatuan Manusia”.
  6. Johanah: Hadir mewakili Aisyiyah.

Kiprah para tokoh ini membuktikan bahwa sejak dini, Islam mendorong keaktifan perempuan dalam ranah pendidikan dan pergerakan. Islam mengatur akhlak dan perilaku, tetapi tidak membelenggu ruang gerak perempuan.

Dalam beberapa Kongres Muhammadiyah tahun 1930–1933, seruan bagi perempuan untuk memakai kerudung dan berpakaian menutup aurat memang bergema. Namun, ruang untuk berkegiatan sama sekali tidak dihalangi, termasuk untuk menempuh pendidikan di sekolah umum dan bekerja.

Penemuan Jati Diri

Semua pergerakan tersebut tidak lahir dari ruang hampa. Kebangkitan Nasional bermula dari pencarian jati diri bangsa, sementara Kartini memulai perjuangan panjang mengenai jati diri perempuan.

Budi Utomo memulai pencarian jati diri kaum priayi untuk berkhidmat kepada masyarakat. Pada saat yang bersamaan, muncul partai-partai yang mencari jati diri kebangsaan, begitu pula dengan kelompok-kelompok keagamaan.

Tahun 1928 ditandai sebagai puncak penemuan jati diri bersama melalui Sumpah Pemuda. Kongres Perempuan I yang berlangsung pada tahun yang sama juga menegaskan eksistensi kaum ibu di tengah perjuangan kemerdekaan bangsa.

Hasil kongres tersebut menggarisbawahi perlunya perkumpulan perempuan Indonesia, penerbitan surat kabar, pemberian beasiswa bagi perempuan kurang mampu, pemberian tunjangan bagi anak dan janda, kepanduan putri, hingga penyelesaian masalah perkawinan anak dan pencatatan nikah.

Semua catatan di atas menunjukkan sebuah visi pembangunan yang konkret bagi kaum perempuan. Kehadiran tokoh perempuan Muhammadiyah yang merumuskan visi tersebut memastikan bahwa perempuan tidak lagi sekadar menjadi objek, melainkan telah bangkit sebagai subjek utama dalam sejarah gerakan perempuan di Indonesia.

Baca juga:

Kartini dan Muhammadiyah

Cahaya Perempuan Berkemajuan: Memaknai Hari Kartini dalam Bingkai Islam

Kartini dan Pergerakan Dakwah Kontemporer: Peran Strategis Perempuan dalam Membangun Peradaban Generasi Z

Kontributor: Prof. Dr. Ahwan Fanani, M.Ag. (Guru Besar UIN Walisongo, Wakil Ketua PDM Kota Semarang)
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: