Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 5 menit baca

Kaderisasi di Tubuh Muhammadiyah

Gunoto Saparie

Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Orwil Jawa Tengah

Kaderisasi di Tubuh Muhammadiyah
Gunoto Saparie, Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Tengah, penulis opini tentang kesinambungan gagasan Kartini dan Muhammadiyah.

Di sebuah ruang yang tak selalu gaduh, tetapi juga tak pernah benar-benar sunyi, generasi muda bergerak—kadang seperti bayangan, kadang seperti bara. Mereka tidak selalu tampak di panggung utama, tetapi sejarah sering kali diam-diam ditulis oleh langkah kaki mereka yang tidak ragu. Dalam tubuh kaderisasi Muhammadiyah, gerak itu menemukan bentuknya yang khas: organisasi, disiplin, dan suatu kesadaran bahwa masa depan bukanlah sesuatu yang datang, melainkan sesuatu yang dibentuk.

Di situlah Angkatan Muda Muhammadiyah—yang sering disebut AMM—mengambil peran. Ia bukan sekadar kumpulan anak muda dengan semangat yang mudah menyala dan padam. Ia adalah jaringan, tradisi, dan sekaligus proyek panjang: bagaimana manusia muda dibentuk menjadi subjek sejarah yang sadar.

Tetapi apa sebenarnya yang terjadi di dalamnya? Apakah ia hanya ruang kaderisasi muhammadiyah, atau lebih dari itu: sebuah laboratorium nilai?

Dalam lanskap organisasi ini, kita menemukan cabang-cabang yang tampak berbeda tetapi sesungguhnya menyatu dalam akar yang sama. Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, masing-masing memiliki medan geraknya sendiri. Di sana, generasi muda tidak hanya belajar berbicara, tetapi juga belajar diam; tidak hanya diajak berteriak tentang kebenaran, tetapi juga dipaksa untuk bertanya: apa itu kebenaran?

Perkaderan menjadi kata kunci. Tetapi kata ini sering disalahpahami sebagai sekadar proses administratif—rapat, pelatihan, dan serangkaian kegiatan formal. Padahal, di balik itu, ada sesuatu yang lebih subtil: pembentukan watak. Dalam dunia yang cepat berubah, watak menjadi satu-satunya jangkar.

Perkaderan dalam tradisi Muhammadiyah adalah usaha yang tidak sepenuhnya modern, tetapi juga tidak sepenuhnya tradisional. Ia menggabungkan disiplin organisasi dengan etika religius, rasionalitas dengan iman. Seorang kader tidak hanya diminta untuk loyal, tetapi juga untuk kritis. Dan di situlah paradoks itu hidup: bagaimana menjadi bagian dari organisasi tanpa kehilangan kebebasan berpikir.

Namun, dunia hari ini tidak lagi sederhana. Nasionalisme, misalnya, bukan lagi kata yang tunggal maknanya. Ia bisa menjadi semangat, tetapi juga bisa menjadi slogan kosong.

Dalam konteks ini, Pemuda Muhammadiyah sering ditempatkan sebagai penjaga—atau setidaknya pengingat—bahwa nasionalisme tidak harus bertentangan dengan religiusitas. Di titik ini, muncul Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah, yang sering disingkat KOKAM. Ia adalah representasi yang paling kasat mata dari semangat itu: disiplin, kesiapsiagaan, dan komitmen terhadap negara.

Tetapi KOKAM bukan sekadar barisan berseragam. Ia adalah simbol bahwa iman dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab kebangsaan.

Namun, pertanyaan tetap ada: apakah simbol cukup? Apakah barisan cukup untuk membangun kesadaran? Barangkali tidak. Karena nasionalisme yang hidup bukanlah yang dipamerkan, melainkan yang dipraktikkan, dalam cara seseorang memperlakukan sesamanya, dalam keputusan kecil yang tidak pernah masuk berita.

Dakwah, dalam konteks AMM, juga mengalami pergeseran. Ia tidak lagi terbatas pada mimbar atau ceramah. Dunia digital telah mengubah cara orang mendengar dan berbicara. Generasi muda Muhammadiyah harus berhadapan dengan kenyataan ini: bahwa pesan tidak hanya bersaing dengan pesan lain, tetapi juga dengan algoritma.

Di sinilah dakwah menjadi problematis sekaligus menarik. Bagaimana menyampaikan nilai dalam dunia yang serba cepat? Bagaimana menjaga kedalaman di tengah arus yang dangkal?

Sebagian menjawab dengan inovasi: konten kreatif, media sosial, pendekatan yang lebih cair. Tetapi di balik itu, ada risiko: bahwa pesan menjadi terlalu ringan, kehilangan bobotnya. Dakwah yang dulu mengandalkan kedalaman refleksi kini harus bernegosiasi dengan durasi perhatian. Namun, mungkin di situlah tantangannya: menemukan bentuk baru tanpa kehilangan inti.

Pemberdayaan sosial-keagamaan menjadi dimensi lain yang tidak kalah penting. AMM tidak hanya bergerak di ranah ide, tetapi juga di ranah praksis. Program-program sosial, pendidikan, dan ekonomi menjadi bagian dari upaya untuk menjadikan agama tidak sekadar wacana, tetapi tindakan. Di sini, kita melihat bahwa religiusitas tidak hanya diukur dari seberapa sering seseorang berdoa, tetapi juga dari seberapa jauh ia peduli.

Dalam banyak kasus, kader-kader muda Muhammadiyah terlibat dalam kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat: pendidikan alternatif, bantuan sosial, hingga advokasi.

Namun, seperti halnya semua gerakan sosial, ada dilema yang tak terhindarkan. Apakah pemberdayaan itu benar-benar membebaskan, atau justru menciptakan ketergantungan baru? Apakah ia mampu mengubah struktur, atau hanya meredakan gejala?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu memiliki jawaban yang jelas. Tetapi justru di situlah nilai dari proses itu: bahwa gerakan tidak berhenti pada aksi, tetapi terus merefleksikan dirinya sendiri.

Di AMM, harus diakui, kita menemukan pola yang berulang: peran, strategi, kontribusi. Tetapi di balik kata-kata itu, ada sesuatu yang lebih sulit diukur, sesuatu yang tidak selalu bisa dimasukkan ke dalam metodologi penelitian. Itu adalah pengalaman menjadi muda dalam sebuah organisasi.

Pengalaman ini tidak selalu heroik. Kadang ia membosankan: rapat panjang, diskusi yang berputar, konflik internal yang melelahkan. Tetapi justru di situlah pembentukan itu terjadi. Karakter tidak dibentuk dalam momen besar, tetapi dalam rutinitas yang tampak sepele.

Seorang kader belajar tentang kepemimpinan bukan hanya dari teori, tetapi dari kegagalan mengelola konflik. Ia belajar tentang tanggung jawab bukan dari ceramah, tetapi dari tugas yang tidak selesai tepat waktu.

Barangkali pertanyaan tentang peran generasi muda Muhammadiyah bukanlah pertanyaan tentang apa yang mereka lakukan, tetapi tentang apa yang mereka “menjadi”.

Dalam dunia yang semakin cair, di mana identitas mudah berubah dan nilai sering kali dinegosiasikan, AMM menawarkan sesuatu yang tampak kuno tetapi justru relevan: konsistensi. Sebuah usaha untuk tetap berpijak, bahkan ketika tanah di bawah kaki terasa goyah.

Namun, konsistensi itu tidak boleh menjadi kekakuan. Ia harus tetap terbuka terhadap perubahan, terhadap kritik, terhadap kemungkinan baru. Sebab jika tidak, ia akan berubah menjadi dogma. Sementara dogma, seperti yang kita tahu, sering kali berhenti berpikir.

Di luar semua itu, ada satu hal yang mungkin paling penting: harapan. Generasi muda selalu membawa harapan, tetapi juga beban. Mereka diharapkan untuk melanjutkan, tetapi juga untuk memperbarui. Dalam tubuh Muhammadiyah, harapan itu menemukan bentuknya dalam AMM, dengan segala kekuatan dan keterbatasannya.

Apakah mereka akan berhasil? Tidak ada yang bisa memastikan. Tetapi mungkin, seperti yang sering terjadi dalam sejarah, yang penting bukanlah hasil akhirnya, melainkan prosesnya. Sebuah proses kaderisasi Muhammadiyah yang panjang, kadang lambat, kadang penuh keraguan, tetapi terus bergerak.

Di antara gerak itu, kita melihat sesuatu yang sederhana namun penting: manusia muda yang mencoba memahami dunia. Dan dalam proses kaderisasi Muhammadiyah itu, perlahan-lahan mengubahnya.

Baca juga:

Kaderisasi Adalah Ruh dari Pergerakan Muhammadiyah

Cari Kader Ulama, Muhammadiyah Semarang Siapkan Beasiswa Full

Kelangkaan Ulama di Muhammadiyah

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: