Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 8 menit baca

Puasa Asyura dan Tasu’a Menurut Tarjih Muhammadiyah

Drs. H. Nurbini, MSI

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo

Puasa Asyura dan Tasu’a Menurut Tarjih Muhammadiyah
Ilustrasi pasangan Muslim memanjatkan doa bersama. Memperbanyak ibadah, termasuk menjalankan puasa Asyura dan Tasu'a pada 9-10 Muharram, merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk meraih keutamaan di bulan mulia. (Ilustrasi: AI Generated)

Islam sangat memuliakan bulan Muharram. Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak amalan sunnah, terutama puasa Asyura dan Tasu’a. Umat Muslim menunaikan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram, sementara puasa Tasu’a jatuh pada tanggal 9 Muharram.

Kedua amalan ini memiliki landasan hadis yang sangat kuat. Muhammadiyah juga sangat menganjurkan ibadah ini melalui Keputusan Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-26 Tahun 2003 di Padang.

Puasa Asyura dan Tasu’a menyimpan sejarah panjang yang penuh makna. Kata Asyura berasal dari bahasa Arab ‘asyarah yang berarti sepuluh. Rasulullah SAW sangat memprioritaskan pelaksanaan puasa ini. Bahkan sebelum Allah menurunkan perintah kewajiban puasa Ramadan, Nabi Muhammad SAW sempat mewajibkan puasa Asyura bagi kaum Muslimin. Setelah kewajiban puasa Ramadan turun, status puasa Asyura berubah menjadi ibadah sunnah.

Sejarah dan Dalil Puasa Asyura

Aisyah RA meriwayatkan sebuah hadis yang menjelaskan dasar hukum pelaksanaan puasa Muharam ini. Riwayat tersebut menunjukkan perjalanan sejarah syariat puasa dalam Islam.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا كَانَتْ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ثُمَّ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصِيَامِهِ حَتَّى فُرِضَ رَمَضَانُ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ (متفق عليه

“Hadits dari Aisyah ra. Orang-orang Quraisy pada masa Jahiliah berpuasa pada hari Asyura. Kemudian Rasulullah SAW. memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu hingga diwajibkan puasa Ramadhan. Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, Rasulullah SAW. bersabda: Barang siapa yang ingin berpuasa Asyura maka silakan berpuasa, dan barang siapa yang tidak ingin maka silakan meninggalkannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kandungan hadis ini membuktikan kedudukan istimewa puasa Asyura. Meskipun ibadah ini tidak lagi wajib, Rasulullah SAW tetap memotivasi umatnya untuk terus mengerjakannya. Salamah bin al-Akwa’ RA juga menguatkan hal ini dalam riwayatnya.

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ اْلأَكْوَعِ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلاً مِنْ أَسْلَمَ أَنْ أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنَّ مَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ فَإِنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ (رواه البخاري

Artinya: “Dari Salamah Ibn al-Akwa‘ r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Nabi SAW. memerintahkan seseorang dari Bani Aslam untuk mengumumkan kepada manusia bahwa barang siapa yang telah makan hendaklah menahan diri pada sisa hari itu, dan barang siapa yang belum makan hendaklah berpuasa, karena hari ini adalah hari Asyura.” (HR. al-Bukhari).

Riwayat tersebut menegaskan betapa Nabi Muhammad SAW sangat peduli pada ibadah ini sejak masa awal Islam.

Keutamaan Puasa Asyura Menurut Hadis

Ibnu Abbas RA turut bersaksi mengenai semangat Rasulullah SAW dalam meraih keutamaan puasa Asyura.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهماُ قَالَ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ (رواه البخاري

”Dari Ibnu Abbas r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Saya tidak pernah melihat Rasulullah saw membiasakan berpuasa suatu hari yang lebih diutamakan dari yang lainnya kecuali hari ini, yaitu hari Asyura’ dan bulan ini, yaitu bulan Ramadan.” [HR. al-Bukhari].

Selain itu, Hafshah RA memberikan kesaksian serupa mengenai konsistensi ibadah Nabi. Beliau menceritakan rutinitas Rasulullah SAW yang selalu menjaga amalan-amalan utama.

عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَامَ عَاشُورَاءَ وَالْعَشْرَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ (رواه أحمد والنسائي

”Dari Hafshah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Ada empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi saw, yaitu puasa Asyura’, tanggal sepuluh dan tiga hari setiap bulan serta shalat dua rakaat sebelum shubuh.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i).

“Ada empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi SAW., yaitu puasa Asyura, puasa sepuluh hari pertama Dzulhijjah, puasa tiga hari setiap bulan, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i)

Mengiringi dengan Jadwal Puasa Tasu’a

Nabi Muhammad SAW melihat orang-orang Yahudi dan Nasrani juga mengagungkan hari ke-10 Muharam. Oleh karena itu, beliau berniat membedakan amalan umat Islam dengan kaum tersebut. Beliau berencana menambah jadwal puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram. Ibnu Abbas RA menceritakan niat mulia ini.

. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ . [رواه مسلم وأبو داود] . وَفِي لَفْظٍ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُوْمَنَّ التَّاسِعَ يَعْنِي يَوْمَ عَاشُورَاءَ . [رواه أحمد و مسلم] . وقَالَ أَبُو عَلِيٍّ رَوَاهُ أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ زَادَ فِيهِ مَخَافَةَ أَنْ يَفُوتَهُ عَاشُورَاءُ . (انظر سنن ابن ماجه .

“Dari Ibnu Abbas r.a. (diriwayatkan bahwa) ia menerangkan: Ketika Rasulullah saw berpuasa pada hari Asyura’ dan menyuruh para sahabat juga berpuasa, maka mereka berkata: Wahai Rasulullah, hari Asyura’ itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Rasulullah saw bersabda: Kalau demikian, Insya Allah tahun depan kita berpuasa [juga] pada hari yang kesembilan. Ibnu Abbas melanjutkan ceritanya: Tetapi sebelum datang tahun depan yang dimaksud, Rasulullah saw telah wafat.” [HR Muslim dan Abu Dawud].

Meskipun Nabi wafat sebelum sempat mengerjakannya, beliau telah meninggalkan penegasan yang jelas. Dalam riwayat lain beliau bersabda: “Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Memahami hadis ini, para ulama mendorong umat Islam agar selalu menggabungkan puasa Asyura dan Tasu’a. Tujuan utamanya adalah menyelisihi tradisi kaum lain dan memastikan umat Islam tidak melewatkan hari Asyura.

Hikmah dan Niat Puasa Muharram

Melalui amalan ini, umat Islam bisa memetik banyak hikmah berharga. Kita bisa meneladani sunnah Rasulullah SAW, menghidupkan syiar Islam, dan membiasakan diri memperbanyak ibadah sunnah.

Selain itu, umat Muslim menunjukkan identitas khas yang berbeda dari tradisi keagamaan umat lain. Pada akhirnya, kita terus menumbuhkan semangat ketakwaan kepada Allah SWT.

Sebagai kesimpulan, Nabi Muhammad SAW memberikan perhatian sangat istimewa terhadap puasa Muharam. Beliau juga merencanakan puasa pada 9 Muharram agar umat Islam memiliki ciri khas tersendiri.

Berlandaskan dalil sahih dan panduan Tarjih Muhammadiyah, mari kita memantapkan niat puasa Muharam dan menunaikan puasa Asyura dan Tasu’a. Umat Islam pasti akan meraih keutamaan besar di bulan yang penuh kemuliaan ini.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: