Bagaimanakah pendapat Muhammadiyah terhadap konsep wahdatul wujud? Seorang sahabat yang pernah satu kos di Yogya saat mahasiswa dulu mengirimkan pesan pendek kepada saya. Ia memberikan beberapa catatan kritis menanggapi tulisan saya tentang tasawuf model Muhammadiyah.
Saya tertegun menghadapi pertanyaan itu. Bagaimanapun tema yang sedang kita hadapi ini, wahdatul wujud versus tsunaiyatil wujud, bukanlah sekadar perdebatan akademik yang dingin seperti koridor perpustakaan menjelang tutup malam. Ia adalah semacam riak panjang dari pergulatan spiritual yang telah menghuni sejarah Islam selama berabad-abad.
Di satu sisi, ada getaran puitik kaum sufi yang percaya bahwa jarak antara hamba dan Tuhan bisa luluh, melebur seperti kabut pagi yang hilang di bawah cahaya matahari. Di sisi lain, ada suara yang lebih tegas, lantang, yaitu suara Muhammadiyah, yang meyakini bahwa garis batas itu bukan ilusi. Bahwa ada jarak, ada perbedaan hakiki, bahkan ketika cinta kepada Tuhan meluap.
Muhammadiyah menolak konsep wahdatul wujud. Kita tahu itu. Tetapi penolakan itu bukan sekadar bantahan dingin di forum teologis. Ia adalah sebuah sikap, semacam posisi eksistensial. Muhammadiyah memandang realitas sebagai tsunaiyatil wujud: ada dua entitas wujud yang tak boleh disatukan. Tuhan sebagai wujud mutlak, makhluk sebagai wujud terbatas. Seperti langit dan bumi yang saling menunjuk namun tak pernah bertukar tempat. “Kesatuan” bukan berarti “kehilangan bentuk.”
Dalam kosmologi Muhammadiyah, Tuhan tidak menetap dalam diri manusia, dan manusia tidak larut menjadi Tuhan. Relasi itu dialogis, bukan identik; dekat, tetapi tetap berbeda.
Jika wahdatul wujud melihat dunia sebagai bayangan yang menyembunyikan Sang Hakikat, maka Muhammadiyah melihat dunia sebagai ladang. Dunia bukan tempat pelarian, bukan panggung fatamorgana yang mesti diabaikan. Dunia adalah ruang kerja, wahana amal.
Di sini, yang fana bukan berarti sia-sia. Kekinian bukan musuh keabadian. Justru celah menuju sana. Bahwa untuk mendekat kepada Tuhan, seorang manusia tak perlu membakar rumah dunianya; cukup menyalakan lilin amal yang menerangi sekitarnya.
Di sinilah letak nuansa yang menarik. Wahdatul wujud sering disalahpahami sebagai menolak dunia, padahal beberapa sufi klasik justru sangat aktif hidup sosial. Namun, dalam khazanah populer, gerakan sufistik kerap diidentikkan dengan asketisme: menjauh dari hiruk pikuk, menyusutkan dorongan duniawi, membiarkan gema hati lebih vokal dari suara pasar.
Muhammadiyah, anak kandung modernitas Islam di Hindia, memilih jalur berbeda: bukan meninggalkan pasar, melainkan mengisinya dengan etika. Bukan menghindari dunia, tetapi mengatur kembali posisinya: alat, bukan tujuan; sarana, bukan tiran.
Konsep tsunaiyatil wujud ini, meski terasa filosofis, sebenarnya punya gema keseharian. Ia adalah sebuah worldview yang menjelaskan mengapa Muhammadiyah membangun sekolah, rumah sakit, panti asuhan ; mengapa ceramahnya lebih sering berbicara tentang kerja, disiplin, akuntabilitas; mengapa wajah Muhammadiyah di ruang publik begitu “mondar-mandir di jalanan,” ketimbang menekuni tikar tasawuf.
Bagi mereka, Allah tidak larut dalam dunia, tetapi kehendak-Nya menjadi panggilan untuk mengubah dunia. Ibadah bukan melulu zikir hening, melainkan tindakan etis.
Mungkin, dalam kacamata seorang sufi Ibnu ‘Arabi-an, dunia adalah cermin. Ketika seseorang menghadapi cermin, ia tidak terpikat pada gambar. Ia sibuk mencari sumber cahaya. Tetapi bagi Muhammadiyah, cermin itu terlalu menggoda untuk dibiarkan menganggur. Cermin itu harus dibersihkan, dijaga, digunakan untuk memastikan manusia rapi sebelum menghadap kepada Yang Mahaindah. Jika dalam sufisme ada nuansa estetika spiritual, maka dalam Muhammadiyah ada nuansa etika sosial. Dua aroma yang berbeda dari bunga yang sama.
Apakah dengan begitu wahdatul wujud menjadi keliru? Muhammadiyah tentu akan bilang: ya, dalam batas doktrinal. Tetapi barangkali ada yang lebih subtil. Penolakan itu tidak sekadar untuk menjaga ketauhidan secara ketat, meski itu alasan pertama. Penolakan itu juga untuk menjaga manusia dari ilusi spiritual yang bisa melumpuhkan komitmen sosial.
Apa yang dianggap Muhammadiyah sebagai bahaya itu ialah kemungkinan bahwa bila makhluk “menyatu” dengan Tuhan, maka kedisiplinan syariat dapat melemah; norma bisa lentur; moralitas menjadi kabur. Bila Allah ada dalam segalanya secara harfiah, apa perlunya kerja keras? Bila semesta adalah pakaian Ilahi, mengapa mesti menenun pakaian sosial?
Di sini, teologi menjadi praksis. Keyakinan tentang ontologi membawa konsekuensi metodologis terhadap kehidupan. Muhammadiyah seperti berkata: Tuhan tidak menyamar dalam makhluk, dan manusia tak boleh menyamar sebagai malaikat. Tugas manusia bukan untuk larut, melainkan untuk bertindak. Kita di dunia ini bukan untuk memudar, tapi untuk menebalkan jejak amal. Ketika kaki masih menjejak tanah, lambaian Tuhan datang lewat keringat, bukan ekstase.
Ada semacam kritik implisit kepada mistisisme yang terlalu metafisik: bahwa pencarian Allah kadang bisa menjadi pelarian dari dunia, dan pelarian dari dunia bisa menjadi pengkhianatan terhadap kemanusiaan. Di sinilah, mungkin, Muhammadiyah terasa modern, atau bahkan Weberian.
Dunia tidak boleh dilupakan, karena dunia adalah panggung tanggung jawab. Etika kerja bukan sekadar tuntutan moral, melainkan bagian dari ibadah itu sendiri. Seakan terselip pesan: Allah tidak memerintahkan kita lenyap. Ia memerintahkan kita hadir.
Namun, marilah kita berlaku adil. Sejarah Islam terlalu luas untuk dinilai dengan dikotomi kasar. Ada sufisme yang meledak dalam puisi, yang memburu kebahagiaan batin tanpa kehilangan kepedulian sosial. Ada pula praktik keagamaan modern yang tampak rajin membangun institusi, tetapi kering dari kerendahan hati. Dunia spiritual tidak seseragam langit senja; ia lebih mirip laut dengan ombak yang tak pernah sama bentuknya.
Tetapi tetap, posisi Muhammadiyah menghadirkan sebuah argumentasi yang tegas: Allah berbeda dari makhluk. Perbedaan itu bukan jarak yang beku, melainkan cinta yang tetap terjaga batasnya. Tuhan tidak hadir untuk meniadakan manusia; Ia hadir untuk mengangkat manusia, tetapi bukan membiarkannya mengklaim kedudukan Ilahi. Tsunaiyatil wujud adalah pagar, tapi pagar yang menjaga taman dari kerusuhan ego yang ingin melompat menjadi Tuhan.
Maka apa konsekuensinya? Jika wahdatul wujud merayakan tafakur, Muhammadiyah merayakan ikhtiar. Jika kaum sufi menghapus batas sampai yang tersisa hanya Cahaya, Muhammadiyah menebalkan garis agar manusia tak lupa jalan. Tuhan tidak dijangkau dengan hilang dari dunia, melainkan dengan hadir penuh dalam dunia, lalu melampauinya lewat amal, bukan pelarian.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, tetapi tak kurang puitis: bagi Muhammadiyah, dunia bukan bayangan yang menipu. Dunia adalah panggung yang serius. Waktu adalah kesempatan yang cepat lapuk. Dan manusia adalah makhluk yang dipanggil bukan hanya untuk merasakan Tuhan, tetapi untuk bekerja menyempurnakan hidup sebagai bagian dari amanah-Nya.
Kita mungkin bisa membayangkan dua jalan di hutan teologi. Satu jalan sunyi, penuh kabut, di mana bayangan pepohonan tampak menyatu, menyiratkan misteri yang tak pernah selesai. Jalan lainnya lebih terang, lebih riuh: orang-orang membawa cangkul, buku pelajaran, resep obat. Di ujung satu jalan, ada kemungkinan fana. Di ujung jalan lain, ada cita-cita untuk membangun dunia yang layak ditempati sebelum akhirnya pulang.
Mungkin, seperti kata seorang penyair, “yang suci bukan hanya keheningan, tetapi juga langkah yang penuh tujuan.” Muhammadiyah memilih langkah itu. Tidak untuk meniadakan langit mistik, tetapi untuk memastikan bumi tetap hidup. Karena di bumi inilah manusia pertama-tama belajar menjadi hamba; dan dari bumi pula ia berangkat, membawa bekal amal, menuju keabadian yang tak dapat dilebur oleh apa pun, bahkan oleh dunia yang ia cintai, maupun oleh dirinya yang fana.
Baca juga: