Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Jangan Merasa Paling Tinggi, Ingat Roda Kehidupan Terus Berputar

28 Agustus 2026, 17:46 WIB • 3 menit baca
Dr. KH. Fachrur Rozi, M.Ag. mengenakan kemeja batik dan peci hitam berdiri menyampaikan khutbah di atas mimbar kayu jati berukir di Masjid At-Taqwa Semarang.
Ketua PDM Kota Semarang Dr. KH. Fachrur Rozi, M.Ag. menyampaikan khutbah Jumat mengenai pentingnya menjaga hati, lisan, dan adab menghargai orang lain di Masjid At-Taqwa Semarang.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Memiliki jabatan tinggi, harta melimpah, hingga ilmu yang luas kerap menjebak seseorang dalam rasa sombong tanpa sadar. Di hadapan jamaah shalat Jumat, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. KH. Fachrur Rozi, M.Ag., menyampaikan pencerahan batin agar masyarakat tidak gampang merendahkan sesama manusia di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang pada Jumat (28/8/2026).

Suasana khusyuk menyelimuti ruang utama masjid sewaktu akademisi terkemuka Semarang ini naik ke atas mimbar. Para pegawai, pengusaha, hingga jamaah umum tampak hening menyerap nasihat tentang pentingnya menjaga lisan dan adab dalam bermasyarakat.

Khatib menegaskan bahwa perbedaan pendapat maupun strata sosial tidak boleh menjadi alasan untuk mencela pihak lain. Kedamaian hidup masyarakat justru terpancar sewaktu setiap orang mampu menghormati posisi orang-orang di sekitarnya.

“Jangan merendahkan ulama, jangan merendahkan pemerintah, jangan merendahkan tetangga, jangan merendahkan keluarga, dan jangan merendahkan kerabat,” tegas Dr. KH. Fachrur Rozi, M.Ag. dari atas mimbar Jumat.

Mulai dari Orang Terdekat

Selanjutnya, penceramah mengajak jamaah untuk menengok kehidupan orang-orang paling dekat terlebih dahulu. Kebiasaan meremehkan tetangga, menyepelekan kerabat, atau mengabaikan keluarga sendiri merupakan cermin dari keangkuhan hati yang merusak ikatan persaudaraan.

Di samping itu, aksi kepedulian sosial seperti berinfak dan bersedekah hendaknya mengutamakan sanak saudara yang paling membutuhkan. Langkah tersebut menjadi bukti nyata bahwa nilai kebaikan tidak perlu dicari jauh-jauh sewaktu lingkungan terdekat masih memerlukan uluran tangan.

Pimpinan PDM Kota Semarang ini juga mengingatkan bahwa roda kehidupan manusia selalu berputar setiap saat. Kelebihan materi maupun posisi terpandang hari ini bisa saja berganti menjadi ujian kekurangan pada masa mendatang.

“Hari ini kita mungkin berada dalam keadaan lebih baik, tetapi keadaan seseorang bisa berubah. Karena itu, jangan pernah menjadikan kelebihan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain,” tambah penceramah khutbah Jumat tersebut.

Menjaga Lisan dan Jemari

Sembari mengakhiri wasiat spiritualnya, tokoh Muhammadiyah ini mendorong masyarakat untuk menyaring setiap kata di media sosial. Perdebatan sengit di dunia digital kerap melenyapkan adab hingga mendorong seseorang gampang mengumbar kekurangan orang lain.

Kritik dan perbedaan gagasan memang merupakan hal yang lumrah dalam alam demokrasi maupun bermasyarakat. Namun, cara menyampaikan pendapat harus tetap mengedepankan kehormatan sesama tanpa harus menjatuhkan martabatnya.

Lalu, pesan mendalam dari Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang ini berhasil menjadi cermin introspeksi diri bagi seluruh jamaah. Memahami adab menghargai orang lain menyadarkan publik bahwa orang yang mulia bukanlah orang yang pandai menjatuhkan sesama, melainkan sosok yang sanggup memuliakan manusia lainnya.

Akhirnya, amanat khutbah Jumat tersebut mengajak setiap individu untuk melihat ke dalam diri sebelum sibuk menunjuk kesalahan orang lain. Menjaga lisan, merawat hati, serta memelihara persaudaraan bakal menjadi kunci utama penentu keselamatan dunia dan akhirat.

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: