Belajar dari Sejarah Ilmuwan Muslim, Penguasaan Iptek dan Literasi Digital Adalah Jalan Pulang
TEMBALANG, muhammadiyahsemarangkota.org– Pernah memimpin peradaban dunia lewat sejarah ilmuwan Muslim seperti Al-Khawarizmi, umat Islam kini justru tertinggal. Dr. Agus Siswanto menyerukan penguasaan Iptek dan literasi digital sebagai agenda utama kebangkitan umat dalam kajian di Semarang.
Pernyataan tegas tersebut ia sampaikan dalam acara Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah. Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tembalang 1 menyelenggarakan kegiatan ini di Masjid At Taqwa Muhammadiyah, Jawa Tengah, Ahad (25/1/2026). Dr. KH. Agus Siswanto hadir membedah tema “Perintah Memperdalam Ilmu Pengetahuan & Teknologi” di hadapan sekitar 150 jamaah.
Agus memulai paparan dengan sebuah koreksi mendasar. Wahyu pertama “Iqra” memiliki makna yang sangat luas. Umat Islam tidak boleh hanya memahaminya sebagai aktivitas membaca teks. Perintah ini mencakup pembacaan terhadap realitas, hukum alam, dan fenomena kehidupan . Pemahaman komprehensif ini menjadi fondasi utama pendidikan Islam berkemajuan. Agama mewajibkan riset dan teknologi selama tujuannya untuk mengagungkan Tuhan .
Sang pembicara kemudian mengajak jamaah bernostalgia. Ia mengulas kembali sejarah ilmuwan Muslim yang pernah mengharumkan nama Islam. Dunia mencatat nama Al-Khawarizmi sebagai Bapak Aljabar. Selain itu, Ibnu Sina juga melegenda sebagai pelopor ilmu kedokteran modern. Fakta sejarah ini membuktikan satu hal penting. Agama Islam dan sains sejatinya berjalan beriringan tanpa pertentangan.
Tantangan Umat Islam Era digital
Sayangnya, kondisi umat saat ini justru berbalik 180 derajat. Kita seringkali hanya berperan sebagai konsumen pasif. Umat Islam sangat bergantung pada produk teknologi buatan bangsa lain . Kita memakai gawai, aplikasi, dan media sosial tanpa andil dalam pembuatannya. Inilah tantangan umat Islam era digital yang paling nyata di depan mata.
Agus lantas menawarkan solusi konkret untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Menguasai teknologi merupakan fardhu kifayah di zaman modern. Umat Islam wajib mengambil peran aktif sebagai produsen. Kuncinya terletak pada penguasaan iptek dan literasi digital.
“Jika hari ini umat Islam alergi pada sains dan teknologi, itu bukan karena Islamnya. Kondisi ini terjadi karena umatnya berhenti membaca,” tegas Agus di sela penyampaian materinya.
Selanjutnya, Agus meluruskan definisi ulama di kalangan masyarakat. Ia mengutip Surat Fatir ayat 28 sebagai landasan. Ulama bukan sekadar mereka yang ahli di bidang fikih saja. Para ilmuwan yang takut kepada Allah karena kedalaman ilmunya terhadap semesta juga termasuk dalam kategori ulama.
Ia menutup sesi dengan pesan khusus bagi para orang tua dan pengurus masjid. Mereka harus mendorong anak-anak muda untuk menekuni bidang strategis. Bidang tersebut meliputi Teknologi Informasi (IT), Kedokteran, Sains Data, dan Teknik. Langkah ini sangat krusial bagi masa depan peradaban kita.
Kajian Ahad Pagi Muhammadiyah ini diharapkan memicu semangat baru bagi jamaah untuk lebih progresif
Baca juga:
Tantangan Umat Islam di Era Digital: Melawan Hoaks dengan Literasi
Mubalighot Digital: Wajah Baru Pemberdayaan Perempuan di Semarang
Menyoal Transformasi Digital Sekolah Dasar