Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Gelorakan Syiar dan Rezeki Lewat Produk Aisyiyah!

13 Desember 2025, 07:59 WIB 3 menit baca
Gelorakan Syiar dan Rezeki Lewat Produk Aisyiyah!

SEMARANG TIMUR, muhammadiyahsemarangkota.org- Apakah dakwah selalu harus berwujud ceramah dan majelis? Di mata Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) Pimpinan Cabang Aisyiyah Semarang Timur, jawabannya terletak pada kemasan Biskuit Cahaya, aroma sabun buatan tangan, guratan sulam pita di kerudung dan produk Aisyiyah lainnya.

Dalam bazar yang digelar di tengah perayaan HUT Dharma Wanita, Aisyiyah hadir dengan filosofi sederhana: bahwa karya yang tulus dan berkualitas adalah manifestasi nyata dari nilai-nilai keagamaan. Di sinilah mereka membuktikan bahwa rezeki dan syiar adalah dua langkah yang dapat dicapai dalam satu gerakan yang harmonis.

Pagi yang teduh di halaman Kantor Kecamatan Semarang Timur, Jumat (12/12/2025) kemarin, menjadi saksi atas perpaduan antara perayaan resmi dan geliat ekonomi komunitas. Acara yang diprakarsai oleh Eka Rahmawati, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Semarang Timur ini memang sengaja dirancang sebagai ruang kolaborasi.

“Kami mengemas perayaan ini dalam berbagai agenda: bazar UMKM, cooking class, hingga lomba-lomba kader PKK. Banyak komunitas turut serta, seperti Aisyiyah, Muslimat, Ipemi, dan UMKM dari tiap kelurahan,” ujar Eka Rahmawati kepada muhammadiyahsemarangkota.org.

Fokus utama terletak pada pemberdayaan, dan Aisyiyah memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan model pemberdayaan berbasis komunitas. Bukti nyatanya melalui produk Aisyiyah yang ditampilkan dalam ajang tersebut.

Stand Hijau: Karya Sebagai Bukti Mutu

Di antara barisan meja bazar, stand berwarna hijau muda milik Aisyiyah menjadi pusat perhatian. Di atas meja tersusun rapi produk-produk lokal Muhammadiyah yang jarang ditemui di pasaran. Ada makanan seperti MieMu dan LezatMu, serta kotak-kotak biru Biskuit Cahaya, produk unggulan bergizi dari Aisyiyah Jawa Tengah.

Tidak hanya makanan, stand itu memajang jus, pepes, puding, ikan asin serta delapan jenis sabun buatan tangan dengan aroma lembut, dan kerudung sulam pita hasil maha karya ibu-ibu Aisyiyah yang dibuat dengan ketelitian dan sentuhan seni tinggi. Keragaman produk ini menunjukkan hasil nyata dari pelatihan dan pendampingan.

Nurjanah, perwakilan dari Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Kebon Agung, membenarkan tingginya minat masyarakat terhadap produk mereka. “Produk yang kami tampilkan mirip dengan Festival Kalibanger kemarin. Walau lebih kecil, alhamdulillah banyak yang tertarik dan membeli,” katanya.

Penjualan produk Aisyiyah ini diyakini mereka bukan sekadar transaksi, melainkan pembuktian bahwa dakwah ekonomi—yakni menghadirkan produk halal, aman, dan berkualitas—dapat diterima pasar.

Dua Langkah dalam Satu Helaan Napas

Kiprah Aisyiyah yang menyandingkan syiar (dakwah) dan ekonomi (rezeki) mendapat pujian dari tokoh-tokoh yang hadir. Konsep “dua langkah” ini diakui menjadi model yang efektif.

Anik Safitri, istri Lurah Mlatibaru, menyatakan kekagumannya. “Sungguh luar biasa. Ketika produk lokal membutuhkan jembatan, Muhammadiyah hadir membawa karya yang aman digunakan. Kegiatan ini menambah pendapatan sekaligus menjadi syiar. Dua langkah dicapai dalam satu kegiatan.”

Endang Puji, tokoh Muslimat Semarang Timur, menyoroti dampak langsungnya pada rumah tangga. “Saya bangga dan bersyukur. Ibu-ibu Aisyiyah mampu berkembang dan menambah perekonomian keluarga.”

Sementara itu, Fatimah Farouk dari Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) merasakan kehangatan yang mendalam di stand tersebut. “Suasananya hangat, seperti keluarga yang saling menguatkan dan membuka pintu rezeki,” ucap Fatimah.

Ajang Belajar dan Penguatan Kapasitas

Penguatan kapasitas juga menjadi fokus utama dalam acara tersebut. Tak jauh dari stand Aisyiyah, panggung utama diisi dengan cooking class. Ketua PKK Eka Rahmawati dan rombongannya duduk di barisan depan, menyaksikan chef mendemonstrasikan masakan, diikuti oleh puluhan pasang mata peserta yang antusias.

Di tengah suasana yang penuh semangat ini, perempuan Aisyiyah Semarang Timur telah berhasil mengukir narasi baru. Mereka membuktikan bahwa kemandirian ekonomi, yang diwujudkan melalui produk unggulan seperti Biskuit Cahaya dan kerudung sulam pita, adalah bentuk dakwah yang paling otentik dan berdampak langsung pada kesejahteraan umat.

Kegiatan itu pun berakhir, meninggalkan aroma harapan, bukan hanya dari masakan yang didemokan, tetapi juga dari karya yang ditawarkan.

Baca juga:

Baca juga:

Geliat Si Cantik MEK Aisyiyah di Pesta Rakyat Festival Kalibanger

Kontributor: ‎Imam Abu Maulana (MPI PCM Semarang Timur)
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: