Jurnalisme AI Tak Bisa Gantikan Empati, Ini Penjelasan Dr. Edi Santoso
BANYUMANIK, muhammadiyahsemarangkota.org – Kecanggihan Jurnalisme AI saat ini memicu banyak perdebatan di ruang redaksi. Namun, teknologi tetap tidak mampu menggantikan empati seorang jurnalis di lapangan. Dr. Edi Santoso mengupas fakta krusial ini dalam acara Pesantren Jurnalistik Muhammadiyah Jawa Tengah di Gedung BPSDMD, Kota Semarang, Jumat (6/3/2026).
Majelis Pustaka Informasi (MPI) PW Muhammadiyah Jawa Tengah menginisiasi acara penting tersebut. Sebanyak 110 peserta mendalami batasan teknologi agar tetap kritis dalam berpikir. AI generatif seperti ChatGPT atau Gemini hanya memproses triliunan data, namun mesin itu tidak memiliki insting kewartawanan yang tajam.
“Teknologi tercanggih pun gagal menggantikan peran jurnalis yang merasakan langsung realitas di lapangan,” tegas Dr. Edi Santoso saat memaparkan materinya.
Waspadai Halusinasi AI dan Etika Jurnalistik
Wartawan kini menghadapi tantangan besar berupa halusinasi AI. Mesin sering memproduksi informasi palsu secara sangat meyakinkan. Oleh karena itu, jurnalis wajib melakukan verifikasi ketat terhadap setiap draf buatan mesin tersebut.
Selain itu, etika jurnalistik menuntut tanggung jawab penuh dari manusia. Mesin tidak bisa memikul tuntutan hukum atas penyebaran berita bohong. Dr. Edi menekankan, “Gunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti penilaian editorial yang manusiawi.”
Menatap Masa Depan Media dengan Sinergi
Penerapan Jurnalisme AI yang sehat menuntut integritas tinggi. Jurnalis harus bertindak sebagai pilot utama yang memegang kendali penuh. Sementara itu, mesin hanya berfungsi sebagai asisten penulis.
Peserta kini harus menguasai literasi teknologi tanpa kehilangan daya kritis. “Sumpah utama wartawan adalah memverifikasi setiap fakta sebelum memublikasikannya,” pungkas Dr. Edi menutup materi tentang masa depan media tersebut.
Baca juga :
Gebrakan Dakwah Digital Muhammadiyah: Senjata AI di Tangan Jurnalis Muda
Pelatihan AI Majelis Tabligh PDM Semarang: Lahirkan Penulis Konten Dakwah Digital Produktif