Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Dari Bau Jadi Cuan: Saat Mahasiswa Ubah Limbah Jadi Briket dari Kotoran Sapi

11 Oktober 2026, 16:48 WIB • 3 menit baca
Teks Alt: Pameran produk inovasi briket dari kotoran sapi dan kompos blok hasil Program MAKOSA mahasiswa Unimus di Desa Manggihan.
Berbagai produk inovasi olahan limbah peternakan berupa briket dari kotoran sapi dan kompos blok yang dipamerkan dalam Program MAKOSA oleh mahasiswa Unimus di Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang.

KABUPATEN SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Aroma sedap roti panggang tiba-tiba menyeruak dari sudut kandang ternak yang biasanya berbau menyengat. Di balik kejutan kecil itu, mahasiswa Unimus sukses menyulap tumpukan limbah kotoran sapi menjadi briket dari kotoran sapi yang bersih dan bernilai tinggi.

Program inovatif bernama MAKOSA tersebut resmi digelar di Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Melalui kegiatan PPK Ormawa, kelompok mahasiswa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Asy-Syifa Unimus turun langsung untuk merubah cara pandang masyarakat terhadap limbah peternakan.

Selama ini, kotoran ternak sering dianggap sebagai beban lingkungan yang merepotkan warga desa. Namun, tim mahasiswa memperkenalkan teknologi tepat guna berupa drum oven khusus untuk mengeringkan kotoran serta sekam padi secara efisien. Berkat alat tersebut, proses pengolahan limbah kini berjalan jauh lebih cepat.

Transformasi paling mencuri perhatian hadir tatkala limbah kering itu diproses menjadi briket dari kotoran sapi. Di balai desa, briket ramah lingkungan ini langsung diuji coba untuk membakar adonan roti bersama warga setempat. Suasana hangat pun tercipta sekaligus memecah keraguan publik terhadap fungsi bahan bakar alternatif tersebut.

Langkah Nyata Menuju Kemandirian Desa

Pemerintah desa menyambut hangat terobosan kreatif yang dibawa oleh para generasi muda kampus. Supriyadi selaku Kepala Desa Manggihan menyampaikan apresiasi mendalam atas keberlanjutan program pengabdian ini.

“Kami berharap inovasi kompos blok dan briket ini tidak berhenti pada kegiatan mahasiswa saja, tetapi dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Manggihan,” ujar Supriyadi.

Dukungan serupa datang dari Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PWM Jawa Tengah. Ir. Fatchur Rohman menilai bahwa kolaborasi ini membuktikan potensi lokal mampu diangkat menjadi solusi mandiri bagi kesejahteraan warga.

“Program MAKOSA menjadi contoh bagaimana mahasiswa Muhammadiyah hadir membawa solusi nyata bagi masyarakat. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai ternyata dapat diolah menjadi produk bermanfaat dan memiliki potensi ekonomi,” ungkap Fatchur.

Kolaborasi Akademisi dan Warga

Pihak kampus Unimus turut bangga atas dedikasi mahasiswa dalam menjawab kebutuhan riil di tengah masyarakat. Dr. Eko Yulianto, S.Pd.Si., M.Pd., yang hadir mewakili pimpinan universitas, menegaskan pentingnya peran nyata pemuda desa.

“Program MAKOSA menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Kami berharap program ini dapat terus dikembangkan sehingga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat,” jelas Eko.

Ditemani perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Semarang serta dekanat fakultas, rangkaian acara ini merajut asa baru bagi warga desa. Melalui pemanfaatan teknologi tepat guna drum oven dalam membuat briket ramah lingkungan, limbah peternakan kini menjelma menjadi babak baru energi alternatif kotoran ternak yang menopang kemandirian ekonomi kerakyatan.

Kini, bara api dari limbah kandang berhasil mematangkan sepotong roti sekaligus menghidupkan harapan baru di kaki Gunung Merbabu. Pada akhirnya, kreativitas dan kepedulian mampu mengubah hal yang paling kotor menjadi sumber kesejahteraan yang bernilai emas.

Kontributor: Medkom IMM Asy-Syifa Unimus
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: