Menembus Batas Pengamanan: Visi Baru Kokam Semarang Merawat Kader Masa Depan
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Seragam loreng bukan garis akhir perjuangan. Di balik gagahnya barisan Kokam Semarang, tersimpan sebuah tekad besar untuk keluar dari zona nyaman rutinitas pengamanan.
Peringatan Milad ke-61 Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) yang digelar di lantai 5 Gedung PDM Kota Semarang pada Sabtu, 10 Oktober 2026, menjadi momentum refleksi penting. Acara tersebut mempertemukan para kader muda dalam semangat membara untuk menatap masa depan organisasi yang lebih progresif.
Komandan Kokam Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Yuliansyah Masyhar, menyadari bahwa potensi besar para anggotanya kerap terkurung dalam stigma lama. Selama ini, masyarakat kadung memandang Kokam sebatas penjaga pintu atau barisan pengaman seremonial belaka.
Padahal, organisasi ini membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang dalam pemikiran. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya peningkatan mutu anggota agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.
“Selama periode kepemimpinan saya yang sudah berjalan dua tahun ini, insyaallah target utama selain memperbanyak kepala adalah meningkatkan kualitas kader-kader Kokam,” ujar Yuliansyah.
Keluar dari Stigma Pengamanan Menuju Ruang Pengabdian Luas
Paradigma lama perlahan mulai digeser oleh kesadaran baru. Kokam Semarang tidak boleh hanya hadir ketika pengajian berlangsung atau sigap saat mengamankan aset persyarikatan saja.
Semangat kebersamaan menuntut para pemuda untuk tanggap ketika masyarakat sekitar membutuhkan uluran tangan. Melalui peningkatan kapasitas diri, setiap anggota didorong agar memiliki daya juang yang adaptif terhadap dinamika zaman.
“Image di pikiran teman-teman, kalau sudah berseragam Kokam berarti ngepam. Saya ingin lebih dari itu, supaya mereka bisa meng-upgrade diri, sehingga tidak hanya ngepam di pengajian, tetapi juga bermanfaat lebih dari itu,” tutur Yuliansyah menjelaskan kegelisahannya.
Transformasi tersebut tentu memerlukan pendekatan langsung ke akar rumput. Komandan muda ini memilih untuk turun meninjau kondisi di berbagai cabang secara berkala setiap bulan.
Merajut Rantai Perjuangan Melalui Sinergi Akar Rumput
Langkah nyata diwujudkan lewat program turun ke bawah menyambangi pengurus di tingkat cabang. Sinergi erat bersama Pemuda Muhammadiyah Semarang dijalin guna memastikan tidak ada kader yang merasa berjalan sendirian tanpa dukungan struktural.
Kendala koordinasi di sejumlah wilayah, seperti di Semarang Timur, disikapi dengan komunikasi intensif bersama pimpinan cabang setempat. Pendekatan ini bertujuan merawat rantai perjuangan agar tetap kokoh dan berkelanjutan.
“Seperti Semarang Timur sendiri, Pak Edi sering mengatakan tidak ada PCPM-nya, Ndan. Langsung saja ke Pak Agung, ketua PCM, atau siapa yang senior untuk dicarikan kader,” kata Yuliansyah menguraikan solusi konkret di lapangan.
Menyiapkan Diklatsar untuk Membentuk Karakter Tangguh
Agenda penguatan barisan berlanjut pada persiapan program pendidikan dan latihan dasar atau Diklatsar. Rencana besar ini diproyeksikan bergulir pada akhir 2026 atau awal Januari 2027 mendatang.
Kaderisasi menjadi fondasi utama dalam menempa mental, kedisiplinan, serta loyalitas anggota. Seragam memang dapat dikenakan dalam sekejap, tetapi karakter yang matang membutuhkan proses tempaan yang panjang.
Pada akhirnya, ukuran kebesaran sebuah gerakan tidak terletak pada seberapa banyak barisan yang tercipta di lapangan semata. Ketika seragam loreng itu kembali dilepas, jejak manfaat dan nilai peradaban yang ditinggalkan bagi umatlah yang akan abadi.