Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Dari Belajar Kehidupan Muslim Hingga Mantap Bersyahadat

29 September 2026, 13:06 WIB • 3 menit baca
Seorang pemuda berkacamata bersalaman erat dengan pembimbing bersahaja saat mengikrarkan dua kalimat syahadat di atas meja berdokumen.
Momen haru dan khidmat saat Tan Tony Imanuel mengikrarkan dua kalimat syahadat di bawah bimbingan pembimbing di sekretariat Muallaf Center 'Aisyiyah Jawa Tengah, Ahad (27/9/2026). Perjalanan batinnya menjadi kisah inspiratif muallaf yang memeluk Islam atas kesadaran dan keyakinan pribadi

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Hidayah sering kali menyapa jiwa manusia melalui cara yang sangat lembut dan tak terduga. Bagi Tan Tony Imanuel, perjalanan spiritualnya tidak bermula dari perdebatan panjang, melainkan dari hangatnya lingkaran pertemanan yang perlahan membawanya pada ketenangan batin.

Suasana haru menyelimuti sekretariat Muallaf Center ‘Aisyiyah Jawa Tengah, Ahad (27/9/2026). Di hadapan para pembimbing dan saksi, Tan mantap meniti babak baru kehidupannya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Prosesi ikrar syahadat berlangsung khidmat di bawah bimbingan Tigo Suprapto, serta disaksikan oleh Cecep dan Narno. Setiap ucapan kalimat tauhid yang terucap menghadirkan getaran kedamaian di dalam ruangan.

Perkenalan Tan dengan Islam bermula dari interaksi sehari-hari bersama para sahabatnya. Rasa ingin tahu mendorong pemuda ini untuk mengamati ritme hidup seorang muslim, mulai dari tata cara ibadah hingga nilai-nilai kebaikan yang melandasinya.

“Awalnya saya mengenal Islam karena teman. Dari situ saya jadi sering ikut melihat dan mengenal bagaimana kehidupan seorang muslim, termasuk belajar sedikit tentang ajaran dan ibadah dalam Islam,” ungkap Tan Tony Imanuel penuh ketulusan.

Bukan Karena Paksaan

Seiring berjalannya waktu, rasa penasaran itu bertransformasi menjadi benih keyakinan yang mengakar kuat. Tan menegaskan bahwa keputusan besar memeluk Islam murni lahir dari panggilan jiwanya sendiri tanpa intervensi pihak mana pun.

Kehadiran ajaran Islam memberikan rasa aman dan kedamaian batin yang selama ini ia cari. Perasaan nyaman tersebut yang akhirnya memantapkan langkahnya untuk berlabuh dalam keimanan baru.

“Semakin lama saya semakin tertarik untuk belajar lebih jauh. Keputusan menjadi mualaf sendiri saya ambil karena kemauan dan keyakinan saya pribadi, bukan karena paksaan. Saya merasa nyaman dan tenang setelah mengenal Islam lebih jauh,” tutur Tan menjelaskan perjalanan batinnya.

Keputusan jujur ini mendatangkan simpati dan rasa haru mendalam bagi pengurus Muallaf Center ‘Aisyiyah Jawa Tengah yang mendampinginya sejak awal.

Merawat Hidayah dengan Akhlak Mulia Kepada Orang Tua

Keseriusan Tan dalam mendalami Islam terlihat jelas dari antusiasmenya saat mempelajari rukun Islam dan tata cara ibadah. Sebagai seorang anak tunggal, keberanian serta kesungguhan jiwanya dalam menuntut ilmu agama menyentuh hati para pendamping.

Ketua Muallaf Center ‘Aisyiyah Jawa Tengah, Hj. Maria Anna Muryani, SH., MH., mengaku sangat tersentuh melihat semangat juang Tan yang begitu haus akan ilmu agama.

“Sungguh saya terharu dengan keputusannya. Dia anak tunggal dan dari assessment yang kami lakukan nampak dia serius ingin mendalami Islam, dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan ibadah maupun rukun Islam,” ungkap Hj. Maria Anna Muryani, SH., MH.

Maria juga berpesan agar Tan tetap merawat hubungan baik dan berdakwah melalui keagungan akhlak kepada kedua orang tuanya yang masih beragama Nasrani, terlebih orang tuanya memberikan kebebasan dan rasa hormat atas pilihan hidup sang anak.

“Saya motivasi yang bersangkutan untuk berdakwah dengan ‘akhlak’ pada orang tuanya, yang notabene masih Nasrani namun tidak melarang Tan untuk berpindah keyakinan. Semoga yang bersangkutan tak lelah untuk belajar, belajar, dan belajar secara bertahap, hingga nantinya ketagihan dengan luasnya ilmu agama Islam serta nikmat dalam mengamalkannya,” harap Ketua Muallaf Center ‘Aisyiyah Jawa Tengah tersebut.

Kontributor: maria anna
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: