Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Berhenti Bandingkan Hidup di Medsos! Cara Sederhana jemput Ketenangan Batin yang Hakiki

7 Juli 2026, 14:19 WIB • 3 menit baca
Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M. duduk menyampaikan ceramah mengenai kunci hidup tenang di depan sebuah mikrofon meja. Tokoh tersebut mengenakan kemeja batik, sorban krem di leher, dan peci hitam dengan latar belakang spanduk ungu bertuliskan "Mangkang Wetan Tugu Kota Semarang" serta logo matahari Muhammadiyah hijau-putih.
Ketua LDK PWM Jawa Tengah, Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M., saat memaparkan formula penting mengenai kunci hidup tenang dan bahagia tanpa harus membandingkan diri di media sosial dalam pengajian di Mangkang, Semarang.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Manusia modern sering kali mengalami kepanikan luar biasa dan mendadak gelisah ketika mendapati telepon genggam mereka tertinggal atau hilang. Namun, fenomena anehnya, rasa cemas yang sama jarang muncul saat mereka dengan sengaja melewatkan panggilan ibadah shalat wajib. Sindiran reflektif yang menampar hati inilah yang mendominasi jalannya pengajian keislaman di Masjid Al Fiqh Mujahidin, Mangkang, Semarang, Ahad (5/7/2026).

Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M., hadir langsung memimpin kajian rohani yang sarat akan makna tersebut. Sang tokoh mengajak ratusan jamaah untuk merenungkan kembali tujuan utama dalam mengarungi kehidupan dunia yang fana. Diskusi hangat ini mengupas tuntas mengenai Kunci Hidup Tenang di tengah gempuran ambisi materi dan krisis sosial kontemporer.

“Sering kali seseorang sangat gelisah ketika kehilangan telepon genggam, tetapi merasa biasa saja ketika meninggalkan shalat. Ini menjadi bahan muhasabah: jangan sampai kecintaan kepada dunia lebih besar daripada kecintaan kepada Allah,” pesan Dr. H. AM Jumai di hadapan para jamaah yang hadir.

Berhenti Membandingkan Diri di Media Sosial

Penceramah ini mengingatkan bahwa jaminan rezeki dari sang pencipta sama sekali tidak boleh menumbuhkan mentalitas malas pada diri seorang muslim. Setiap individu tetap memikul kewajiban untuk bekerja keras dan menjemput nafkah secara halal tanpa menumbangkan tiang ibadah. Langkah menjaga shalat secara konsisten otomatis akan menata suasana hati, mengarahkan keharmonisan keluarga, serta mendatangkan keberkahan hidup.

Selanjutnya, akademisi ini mengajak masyarakat untuk berhenti membandingkan pencapaian hidup dengan orang lain melalui jendela media sosial. Kebiasaan buruk berselancar di dunia maya tersebut sering kali menjadi pintu utama yang mengalirkan penyakit iri hati dan rasa kurang. Memperbanyak rasa syukur atas nikmat yang sudah ada di genggaman menjadi benteng terbaik dalam merawat kesehatan mental harian.

Pihak pembicara juga memotivasi jamaah untuk aktif mengubah energi positif menjadi aksi nyata yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Kebaikan sederhana seperti melempar senyuman tulus, membantu tetangga, hingga menjaga kebersihan tempat ibadah merupakan bentuk kepedulian sosial yang nyata. Seseorang yang paling mulia adalah mereka yang mampu mengalirkan manfaat paling luas bagi manusia lainnya.

Tiga Rumus Menghadapi Badai Krisis

Memasuki sesi akhir, kajian pagi ini menawarkan solusi konkret dalam merespons berbagai badai ujian hidup, mulai dari krisis ekonomi hingga urusan rumah tangga. AM Jumai menyodorkan tiga prinsip utama yang meliputi kesabaran tanpa batas, ikhtiar yang sungguh-sungguh, serta sikap tawakal yang lapang. Ujian sejatinya bukan simbol kebencian Tuhan, melainkan sebuah anak tangga untuk menaikkan derajat keimanan seorang hamba.

Secara khusus, penceramah memberikan pesan mendalam bagi kaum ibu agar konsisten menjadi penyejuk rumah tangga lewat tutur kata yang santun. Sementara bagi kaum bapak, narasumber mengingatkan peran penting mereka sebagai nahkoda keluarga yang wajib menghadirkan rasa aman dan ketenangan. Pengajian subuh yang khidmat ini kemudian ditutup dengan ajakan memperbanyak istighfar, rajin bersedekah, serta bershalawat.

Siraman rohani yang segar ini sukses menyuplai energi spiritual baru bagi warga Mangkang dalam menghadapi dinamika kehidupan kota. Melalui pendekatan komunikasi yang membumi, Masjid Al Fiqh Mujahidin berhasil mengemas pesan keagamaan menjadi tuntunan praktis yang renyah. Bekal batin ini diharapkan mampu menuntun setiap keluarga untuk merengkuh predikat sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: