Berani Bersuara, Skuad Aisyiyah Kota Semarang Borong Juara Lewat Isu Kemanusiaan dan Urban Farming
Tawangmangu, muhammadiyahsemarangkota.org — Panggung kompetisi bukan sekadar ajang berburu piala melainkan ruang paling lantang untuk menyuarakan keresahan sosial masyarakat. Prinsip pergerakan yang berani inilah yang mengantarkan delegasi perempuan asal Kota Atlas meraih kesuksesan besar di lereng Gunung Lawu. Mereka sukses mengemas isu-isu kemanusiaan yang berat menjadi suguhan panggung yang sangat memukau.
Momen pembuktian tersebut hadir nyata dalam pengumuman lomba Jambore Dakwah Kemanusiaan Milad Aisyiyah ke-109 di Wonderpark Tawangmangu baru-baru ini. Skuad Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Semarang sukses membawa pulang dua penghargaan sekaligus dari kategori yang berbeda. Mereka merengkuh Juara Harapan 2 untuk lomba roleplay Majelis Hukum dan Ham (MHH) serta Juara 1 untuk kategori Qaryah Thayyibah ‘Aisyiyah (QTA).
Koordinator Lomba PDA Kota Semarang sekaligus Ketua LLHPB, Nurlaela, mengaku sangat terharu atas capaian kolektif timnya tersebut. Nurlaela menyebut raihan trofi ini sebagai bonus indah dari sebuah perjuangan mandiri yang serba terbatas. Keberhasilan dalam prestasi dakwah Aisyiyah Kota Semarang ini menjadi bukti sahih bahwa kader perempuan perkotaan memiliki kepekaan sosial yang luar biasa tinggi.
Suarakan Jeritan Korban
Keberhasilan menyabet juara di panggung sandiwara bermula dari proses seleksi ketat para pemain oleh Ketua Majelis Hukum dan HAM, Dedeh Barkah . Skuad teater mandiri ini sengaja memilih tema sensitif seputar penanganan kasus pelecehan seksual yang marak terjadi di lingkungan terdekat. Mereka dengan tegas menolak opsi penyelesaian damai yang justru sering mengorbankan masa depan spiritual dan psikologis pihak korban.
Kekompakan yang intens selama masa latihan membuat para pemain mampu melakukan improvisasi panggung yang sangat hidup tanpa adanya pelatih profesional. Mereka berhasil membangun keterikatan emosional yang kuat sehingga pesan perlindungan korban tersampaikan dengan sangat utuh kepada dewan juri. Tim teater ini menuntut adanya hukuman seberat-beratnya bagi pelaku kejahatan agar memunculkan efek jera yang nyata.
“Korban pelecehan seksual itu memang harus kita lindungi dan harus kita upayakan dia berani berbicara, berani speak up. Kalau sampai terjadi hal seperti itu kemudian penyelesaiannya dengan cara menikahkan, astagfirullah… sungguh kasihan korbannya. Dia akan menghadapi orang yang sangat dia benci setiap hari, tekanan batinnya luar biasa seumur hidup,” tegas Nurlaela dengan nada emosional.
Guncang Sektor Ketahanan Pangan
Sisi prestasi lain yang tidak kalah mentereng lahir lewat kesuksesan delegasi PDA Kota Semarang yang meraih podium utama lomba QTA. Perwakilan tim, Nur, sukses mempresentasikan potret perkampungan Islam berbasis pemberdayaan ekonomi yang sudah mengakar sejak era 1960-an. Gerakan lokal ini konsisten melatih ibu-ibu rumah tangga untuk menguasai industri kreatif pengolahan cabut duri ikan bandeng.
Kini, kawasan binaan tersebut bahkan telah bermutasi menjadi Desa Sehat Mandiri Aisyiyah berkat suntikan inovasi pertanian perkotaan (urban farming). Skuad Kota Semarang menjalin kolaborasi strategis dengan De Omah Kebon serta Dinas Perikanan guna memperluas jangkauan pasar produk lokal. Konsistensi pemberdayaan jangka panjang ini menjadi role model terbaik bagi seluruh daerah Aisyiyah di wilayah Jawa Tengah.
“Program QTA kita itu sangat siap, pembentukan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sudah mulai jauh hari sejak tahun 60-an. Alhamdulillah perkembangannya sangat bagus, ekonomi Ibu-ibu maju, religiusitasnya juga berkembang, dan lingkungan sekitar bisa menjadi contoh bagi daerah yang lain,” tutur Nurlaela penuh kebanggaan.
Rentetan prestasi dakwah Aisyiyah Kota Semarang pada ajang jambore kemasan baru ini menaruh harapan besar bagi masa depan dakwah bil hal. Keberanian mengawinkan riset sosial kemasyarakatan dengan aksi panggung yang vokal menjadi identitas baru gerakan perempuan modern yang berkemajuan. Melalui energi kemenangan ini, ibu-ibu Aisyiyah Kota Semarang siap memacu kembali implementasi program kerja yang ramah terhadap hak-hak perempuan dan anak.