Self Improvement: Seni Menjaga Harga Diri di Era Ngemis Online
SEMARANG BARAT, muhammadiyahsemarangkota.org – Ingin naik kelas secara spiritual? Langkah Self Improvement paling mendasar adalah memahami cara menjaga harga diri dalam Islam agar tidak terjebak dalam tren memelas demi materi.
Pesan mendalam ini menggema di Masjid Al-Muhajirin, Karangayu, Semarang Barat. Pada Kamis malam (12/2), Ust. M. Burhan Khaerudin membedah hukum meminta-minta dalam Kitab Bulughul Maram yang terasa sangat relevan dengan keresahan sosial saat ini.
Batas Tegas dalam Syariat
Islam memandang harga diri sebagai harta yang jauh lebih mahal daripada sekadar recehan gift di layar ponsel. Oleh karena itu, sang ustaz menegaskan bahwa setiap Muslim wajib menjaga martabatnya sebagai bentuk pengembangan diri atau Self Improvement.
Ia menjelaskan bahwa pintu meminta-minta sebenarnya tertutup rapat bagi mereka yang mampu. Namun, ia merinci ada tiga kriteria orang yang boleh meminta bantuan yang bersifat darurat. Pertama, penanggung hutang demi mendamaikan perselisihan. Kedua, korban bencana yang kehilangan harta bendanya. Ketiga, orang fakir yang kemiskinannya telah terkonfirmasi oleh saksi jujur di lingkungannya.
“Meminta tanpa alasan syar’i itu ibarat memakan bara api. Oleh sebab itu, menjaga kehormatan adalah kunci utama dalam Self Improvement seorang mukmin,” ungkap sosok pendidik ini dengan lugas.
Waspada Bahaya Kemiskinan Mental
Selanjutnya, diskusi mengalir pada fenomena media sosial yang kian memprihatinkan. Narasumber kajian ini secara khusus menyentil fenomena ngemis di TikTok menurut Islam. Aksi mandi lumpur atau eksploitasi lansia demi saweran digital merupakan bukti nyata bahaya kemiskinan mental di era digital.
Alih-alih fokus pada produktivitas, banyak orang justru bangga memamerkan kesedihan di depan kamera. Padahal, fisik mereka masih sangat kuat untuk bekerja. Fenomena ini jelas bertentangan dengan etos kerja dalam Islam dan menjaga kehormatan.
Tak hanya di dunia maya, pria yang akrab disapa Ustaz Burhan ini juga menyoroti kebiasaan musiman di dunia nyata. Ia mengingatkan tentang hukum meminta THR bagi yang mampu. Menurutnya, memaksa atau menodong bantuan saat ekonomi masih stabil justru akan merendahkan martabat yang telah Allah berikan.
Membangun Karakter Mandiri
Sebagai penutup, kajian ini mengajak masyarakat Semarang untuk kembali pada semangat kemandirian. Rasulullah saw bahkan menyebut bahwa memikul kayu bakar di punggung jauh lebih mulia daripada meminta-minta kepada orang lain.
Langkah Self Improvement yang paling nyata adalah dengan mencintai setiap tetes keringat dari hasil kerja keras sendiri. Dengan menjaga tangan tetap di atas, kita tidak hanya menyelamatkan ekonomi, tetapi juga menjaga marwah diri di hadapan Sang Pencipta.
Jadilah pribadi yang tegak berdiri karena kemampuannya, bukan yang dikenal karena keahliannya dalam mengundang iba.
Baca juga :
Gagal Bayar Utang? Intip Cara Mengelola Aset Berdasarkan Syariat Islam
Jangan Sampai Menyesal! Ini Persiapan Menyambut Ramadan Agar Puasa Tak Sia-Sia
Analogi “Piknik Tanpa Sangu” Warnai Peluncuran Kajian Baiti Jannati PCA Semarang Barat