Senam Poco-Poco dan Tips Sehat Lansia, Cerita dari Milad Muhammadiyah Semarang
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Pekan lalu, halaman Balai Kota Semarang berubah menjadi lautan manusia saat 20.000 warga berkumpul merayakan Milad ke-113 Muhammadiyah. Di tengah kemeriahan itu, publik menaruh perhatian pada sosok pria paruh baya yang melompat lincah di atas panggung utama, membagikan tips sehat lansia secara nyata melalui gerakan tubuhnya.
Dia adalah Drs. Nurbini, M.Si., Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang sekaligus seorang akademisi yang kini menginjak usia 57 tahun. Meski usianya sudah menjelang kepala enam, Nurbini menunjukkan vitalitas yang melampaui angka-angka di atas kertas.
Suasana pagi itu bermula dengan keceriaan saat instruktur lain mengajak para peserta jalan sehat melakukan Senam Anak Sehat Indonesia. Momentum ini menjadi pemanasan awal yang penuh energi, sebelum akhirnya Ustad Nurbini naik panggung untuk memandu sesi utama.
Saat musik Poco-Poco menghentak, Nurbini memimpin gerakan dengan kelincahan yang mengejutkan orang-orang di sekitarnya. Tubuhnya bergerak rancak dan kakinya ringan berpindah mengikuti irama musik, membuktikan bahwa tips sehat lansia yang paling efektif adalah menjaga ritme gerak secara konsisten.
Dakwah Quran dan Stamina Fisik
Selain lincah di lapangan, sisi keustadan Nurbini juga sangat kental di tengah masyarakat. Ia telaten mengasuh pengajian majelis taklim ibu-ibu dan membimbing umat melalui kajian tahsin online rutin setiap pekan.
Melalui daring, Nurbini mendedikasikan waktunya untuk masyarakat yang ingin membaguskan bacaan Al-Quran tanpa terkendala jarak. Kesibukan dakwah yang padat ini tentu membutuhkan stamina prima, sehingga Nurbini mempraktikkan tips sehat lansia melalui olahraga rutin untuk menunjang aktivitas spiritualnya.
“Tubuh ini adalah titipan, maka merawatnya dengan olahraga adalah cara saya bersyukur agar tetap kuat mengajar Al-Quran,” Nurbini mengungkapkan motivasinya. Ia meyakini bahwa raga yang bugar merupakan modal utama untuk menjalankan ketaatan dan pelayanan kepada umat secara maksimal.
Bulu Tangkis dan Kedalaman Spiritual
Keseimbangan hidup Nurbini juga tercermin dari cara ia melakoni hobi olahraga berat secara disiplin. Setiap pekan, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo ini ini masih rutin bertanding bulu tangkis di lapangan, sebuah aktivitas yang menuntut refleks cepat dan kekuatan otot.
Tak hanya itu, pengabdiannya berlanjut di Pesantren Lansia Semarang Masjid At-Taqwa Ngaliyan setiap akhir pekan pertama tiap bulannya. Pada sepertiga malam yang sunyi, ia bertugas sebagai imam dan memimpin muhasabah (renungan diri) para santri lansia, menyelami doa-doa yang menggetarkan jiwa.
Menariknya, saat fajar menyingsing di pesantren tersebut, peran Nurbini kembali berganti secara dinamis. Ia kerap membagikan tips sehat lansia secara praktis saat pihak pesantren memintanya menjadi instruktur senam agar otot mereka tetap kuat meski telah memasuki usia senja.
Investasi Nyata ‘Active Aging’
Kisah Nurbini menjadi representasi sempurna dari konsep active aging atau penuaan aktif yang sedang menjadi tren kesehatan global. Isu ini sangat krusial di akhir tahun 2025 mengingat populasi lansia Indonesia kini mencapai angka 33,7 juta jiwa.
Secara kuantitatif, tips sehat lansia melalui gerak aktif terbukti mampu meningkatkan kualitas hidup secara drastis. Lansia yang rutin bergerak memiliki risiko 30% lebih rendah terkena penyakit kronis mematikan dibandingkan mereka yang pasif.
Selain itu, aktivitas fisik intensitas sedang seperti senam Poco-Poco mampu memperlambat penyusutan massa otot. Secara alami, manusia akan kehilangan 1-2% massa otot per tahun setelah melewati usia 50 tahun jika tidak rajin berolahraga.
Menua dengan Tangkas dan Bermanfaat
Oleh karena itu, Nurbini selalu menekankan agar masyarakat tidak menunda hidup sehat. “Jangan menunggu sakit baru mencari sehat. Olahraga harus menjadi kebutuhan, sama seperti kita butuh makan, mengaji, dan ibadah,” tambahnya mempertegas prinsip hidupnya.
Nurbini membawa pesan tentang tips sehat lansia dari panggung Balai Kota Semarang yang tetap bergema kuat bagi siapa saja yang menyaksikannya. Ia membuktikan bahwa di usia kepala enam, seseorang tetap bisa menjadi imam bagi umat sekaligus instruktur bagi raga.
Bagi 20.000 warga Semarang, Nurbini bukan sekadar pemimpin organisasi. Ia adalah inspirasi hidup bahwa lisan yang fasih membaca Al-Quran akan jauh lebih bermakna jika raga yang tangkas dan bertenaga menopangnya.
Baca juga:
Ajaran Rasulullah Soal Pola Hidup Sehat Lebih Dulu Ada dari Sains Modern
Manfaat Jalan Nordik di Event Jalan Sehat Muhammadiyah, Solusi Bebas Nyeri Sendi di Usia Pensiun