Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 6 menit baca

Ideologi Muhammadiyah sebagai Pelabuhan Terbuka

Gunoto Saparie

Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Orwil Jawa Tengah

Ideologi Muhammadiyah sebagai Pelabuhan Terbuka
Gunoto Saparie, Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Tengah, penulis artikel opini "Ideologi Muhammadiyah Sebagai Pelabuhan Terbuka

Perubahan adalah kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit ditinggali. Ia seperti sungai: kita bisa menunjuk alirannya, mencatat kecepatannya, bahkan meramalkan ke mana ia bermuara. Tetapi, kita tak pernah bisa benar-benar berdiri di tempat yang sama dua kali. Sejarah manusia bergerak sesuai sunatullah; tak ada yang tetap kecuali perubahan itu sendiri.

Sebuah pernyataan yang agung, nyaris kosmis. Namun, setelah kalimat itu, segera tampak kegelisahan yang sangat manusiawi: bagaimana sebuah gerakan keagamaan—Muhammadiyah—bertahan di tengah arus yang terus berubah itu?

Pertanyaan ini sesungguhnya bukan hanya soal organisasi. Ia menyentuh sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana keyakinan bernegosiasi dan ideologi Muhammadiyah dengan zaman.

Muhammadiyah lahir lebih dari seabad lalu sebagai jawaban atas kegelisahan. Ada rasa bahwa pendidikan Islam saat itu tak cukup menjawab tuntutan baru. Maka didirikanlah sekolah, rumah sakit, panti asuhan; modernitas dipeluk, tanpa melepas kitab suci. Di sini terdapat sebuah keberanian: menjadikan perubahan bukan ancaman, melainkan ladang amal.

Tetapi, sejarah tak pernah berhenti memberi ujian. Modernitas yang dulu dirangkul sebagai harapan, kini melaju lebih cepat dari yang pernah dibayangkan para pendiri gerakan itu.

Kini konsep pendidikan Muhammadiyah berkemajuan dikritik kalah bersaing. Mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dianggap tak menyentuh substansi. Ruh pendidikan agama dinilai memudar. Kata “kehilangan ruh” terdengar seperti bunyi lonceng gereja di tengah malam: panjang, menggema, dan membuat orang terjaga dari tidur nyaman.

Di sini kita melihat paradoks: gerakan yang dahulu lahir karena semangat pembaruan, kini justru takut ditinggalkan oleh perubahan. Maka, muncullah kata yang terus diulang dalam teks: ideologi. Ideologi Muhammadiyah harus diteguhkan, digelorakan, diperkokoh, dijadikan fondasi, benteng, penopang, kompas. Kata ideologi hadir seperti mantra yang diulang-ulang agar ketakutan menjadi jinak.

Namun, apa sebenarnya ideologi dalam konteks ini? Ia disebut sebagai keyakinan, pandangan hidup, strategi perjuangan, pengikat warga, pembentuk karakter. Ia adalah segala-galanya. Ketika sebuah kata memuat terlalu banyak makna, kita patut berhenti sejenak. Sebab, sering kali yang terlalu penuh justru mudah tumpah.

Ideologi memang sering bekerja seperti kacamata: ia membantu kita melihat, tetapi juga membatasi apa yang boleh terlihat. Dalam konteks Muhammadiyah, ideologi dimaksudkan agar warga “tidak tergoyah” oleh paham lain, oleh arus radikal, oleh tontonan zaman. Ada rasa cemas yang wajar: dunia digital melahirkan dakwah instan, tafsir instan, kesalehan instan. Organisasi yang mapan merasa terancam oleh ceramah berdurasi tiga menit di layar ponsel.

Tetapi, di sinilah persoalan menarik muncul: apakah ideologi harus selalu berarti pagar? Ataukah ia bisa menjadi jembatan?

Kita hidup di Indonesia yang majemuk, di mana “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” harus berdampingan dengan mereka yang memeluk keyakinan lain, bahkan dengan mereka yang memilih tidak beragama sama sekali. Di sinilah ideologi diuji: apakah ia cukup lentur untuk hidup berdampingan, atau justru menjadi tembok yang meninggi?

Muhammadiyah sejak awal sebenarnya memilih jalan moderasi: tajdid, pembaruan; memurnikan akidah sekaligus memodernkan cara hidup. Tetapi, setiap generasi punya godaan sendiri: generasi awal tergoda oleh kolonialisme; generasi kini tergoda oleh romantisme identitas. Maka, upaya menegakkan tajdid Muhammadiyah era digital tak boleh hanya berupa pengulangan teks-teks pendiri, tetapi juga keberanian membaca realitas baru.

Ilmu pengetahuan bekerja dalam wilayah perubahan: mengumpulkan data, menjelaskan fenomena, memprediksi tren. Ini menarik, sebab sebenarnya sains dan ideologi sering berjarak. Sains bertanya “bagaimana”, ideologi bertanya “untuk apa”. Jika Muhammadiyah ingin tetap menjadi gerakan modernis, ia harus berani mempertemukan keduanya: data dan nilai, fakta dan iman. Bukan sekadar menyuruh kader menghafal Mukadimah Anggaran Dasar, tetapi mengajak mereka berdialog dengan dunia yang bergerak.

Kritik terhadap lembaga pendidikan Muhammadiyah bahwa ruhnya memudar bisa jadi bukan karena ideologi kurang ditegaskan, tetapi karena cara menegaskannya sudah usang. Anak muda hari ini tidak hidup di dunia ceramah satu arah. Mereka hidup di dunia percakapan. Mereka tak puas hanya diberi jawaban; mereka ingin ikut bertanya. Jika ideologi hadir hanya sebagai doktrin hafalan, ia akan menjadi museum: indah, berdebu, dikunjungi sesekali, tapi tak dihuni.

Muhammadiyah memiliki kekuatan besar: jaringan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), sekolah, universitas, rumah sakit. Ini adalah infrastruktur peradaban. Tetapi, infrastruktur tanpa imajinasi hanya akan menjadi bangunan kosong. Ideologi seharusnya memberi imajinasi: tentang keadilan sosial, tentang ilmu yang membebaskan, tentang iman yang memuliakan manusia. Jika imajinasi itu tak lagi terasa, maka bangunan megah pun bisa kehilangan makna.

Harus kita akui, banyak pengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bukan berasal dari kader persyarikatan. Ini realitas. Profesionalisme menuntut keahlian; keahlian tak selalu lahir dari kaderisasi internal. Maka, ideologi dihadapkan pada fakta manajerial. Apakah ideologi akan dipakai untuk menutup diri dari profesional luar? Ataukah ia menjadi etos kerja yang bisa dibagikan lintas identitas? Inilah ujian keterbukaan.

Peneguhan ideologi sering diucapkan dengan nada “agar tidak terpengaruh paham lain”. Kalimat ini menyimpan ketakutan yang manusiawi. Tetapi, iman yang kuat tak seharusnya takut pada dialog. Justru ideologi yang sehat adalah ideologi yang sanggup diuji, diperdebatkan, dikritik, lalu tumbuh.

Muhammadiyah menyebut dirinya gerakan tajdid. Tajdid berarti pembaruan. Namun, pembaruan bukan sekadar mengganti kurikulum atau memperbarui logo. Pembaruan adalah keberanian bertanya: apakah cara kita berdakwah masih relevan? Apakah bahasa kita masih bisa dimengerti generasi digital? Apakah ideologi Muhammadiyah kita masih hidup, atau hanya dihafal?

Memang, yang paling berbahaya bukan musuh dari luar, tetapi pembekuan dari dalam. Sebuah ide yang tak lagi bergerak akan menjadi dogma. Dogma bisa membuat orang patuh, tetapi tak membuat mereka berpikir. Padahal berpikir adalah ibadah pertama manusia sejak kisah penciptaan: Adam diajari nama-nama.

Maka, mungkin pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya “bagaimana meneguhkan ideologi Muhammadiyah”, tetapi “bagaimana membuat ideologi Muhammadiyah tetap hidup”. Hidup berarti bisa bernapas dalam zaman; bisa merespons isu keadilan, lingkungan, kemiskinan, teknologi, bahkan kecerdasan buatan. Jika ideologi hanya bicara tentang struktur organisasi dan hafalan mukadimah, ia akan terkurung di masa lalu.

Tentu, umat Islam tidak hidup di ruang hampa. Mereka bersentuhan dengan bangsa lain, ide lain, budaya lain. Ini pengakuan penting. Maka, ideologi Muhammadiyah seharusnya bukan benteng tertutup, melainkan pelabuhan terbuka: tempat berangkat dan kembali, bukan tempat bersembunyi.

Di tengah perubahan yang terus bergerak, iman bukan jangkar yang memaku kapal di dasar laut. Iman adalah layar yang menangkap angin zaman, mengarahkan kapal ke tujuan yang diyakini benar. Tanpa layar, kapal hanyut. Tanpa angin, layar tak berguna. Ideologi dan realitas harus saling membutuhkan.

Ideologi Muhammadiyah adalah fondasi kokoh bagi umat Islam Indonesia. Ini memang sebuah pernyataan penuh keyakinan. Namun, fondasi sekuat apa pun tak pernah terlihat. Ia tersembunyi di bawah bangunan. Yang tampak adalah rumah yang dihuni manusia: dengan tawa, pertengkaran, doa, dan mimpi.

Ideologi Muhammadiyah, jika sungguh menjadi fondasi, akan tampak bukan dalam slogan, tetapi dalam cara lembaga pendidikannya mendidik dengan kasih, dalam cara rumah sakitnya melayani tanpa diskriminasi, dalam cara kadernya berbicara lembut di tengah perbedaan. Di situlah ideologi menjelma etika.

Perubahan akan terus datang. Seperti sungai yang tak pernah berhenti. Muhammadiyah tak bisa menghentikan arus itu. Tetapi, ia bisa memilih: menjadi batu yang perlahan tergerus, atau menjadi perahu yang berlayar. Ideologi adalah kompas. Namun, kompas hanya berguna jika ada keberanian untuk berangkat.

Mungkin, pada akhirnya, itulah pertanyaan yang tersisa bagi setiap gerakan: bukan seberapa kuat ia mempertahankan dirinya, tetapi seberapa jauh ia berani berjalan bersama zaman, tanpa kehilangan arah pulang.

Baca juga:

Muhammadiyah dan Wasathiyah

Muhammadiyah di Era Peradaban AI

Langkah Senyap Muhammadiyah dalam Kebudayaan

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: