Ribuan malaikat turun bagaikan pasukan militer yang memadati bumi pada Malam Lailatul Qadar. Peristiwa luar biasa di alam malakut ini membawa misi besar untuk mengatur seluruh urusan manusia. Tentu saja, kehadiran para malaikat ini menjadi bukti nyata dari keistimewaan Lailatul Qadar. Oleh sebab itu, setiap muslim pasti berlomba-lomba memaksimalkan amalan Lailatul Qadar demi meraih takdir hidup terbaik.
Makna Spiritual di Balik Malam Seribu Bulan
Selanjutnya, kepercayaan umum umat Islam meyakini momen luar biasa ini hadir di bulan suci Ramadan. Surat al-Qadr juga menyebutkan bahwa Allah menurunkan wahyu Al-Qur’an pertama kali pada malam tersebut. Lebih lanjut, Al-Qur’an secara tegas menyebutkan malam itu lebih bagus dari 1000 bulan (khairun min alfi syahrin). Manusia sungguh sangat sulit mengungkapkan makna pasti dari malam ini menggunakan kata-kata biasa.
Pada dasarnya, ayat tersebut termasuk ke dalam kategori mutasyabihat. Namun, kita tetap boleh menta’wilkan ayat mutasyabihat tersebut dalam batas keilmuan. Syaratnya, kita harus selalu konsisten lita’zhim ilallah (mengagungkan Allah) dan litanzih (memahasucikan Allah) dalam proses ta’wil tersebut. Akhirnya, kita hanya mampu menangkap makna “lebih baik dari 1000 bulan” ini melalui sepercik isyarat.
Turunnya Pasukan Malaikat di Alam Malakut
Isyarat ini bukan sekadar tafsir isyari’ melalui penjelasan ayat berikutnya. Ayat tersebut berbunyi:
تَنَزَّلُ الۡمَلٰٓٮِٕكَةُ وَالرُّوۡحُ فِيۡهَا بِاِذۡنِ رَبِّهِمۡۚ مِّنۡ كُلِّ اَمۡرٍ (Pada malam itu turun para malaikat dan Rµh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan).
Atas dasar terjemahan ayat ini, kita dapat memahaminya secara bayani. Ulama selanjutnya memaknai komandan malaikat pada malam itu, yakni ar-Rûh, sebagai malaikat Jibril.
Secara gramatika, setiap kata kerja yang berpola tafa’’ala (تَفَع ّ َلَ) seperti tanazzala (تَنَز ّ َلَ) selalu membutuhkan fa’il (pelaku) dan polanya jama’ muannas. Dalam ayat ini, fa’il-nya tidak lain adalah الۡمَلٰٓٮِٕكَة.
Kata malaikat ini berbentuk jama’ muannas, tetapi sighatnya jama’ taksir. Tentu saja, makna muannas di sini bukan berarti malaikat berjenis kelamin perempuan biologis.
Istilah gramatika bahasa Arab menyebutnya muannas majazi karena sekadar merujuk pada struktur standar kalimat atau kedudukannya (maḩ al). Sementara itu, kata kerja tanazzala ini memiliki makna littakṡir atau perbanyakan proses turun yang berulang-ulang dari atas ke bawah.
Menjemput Keistimewaan Lailatul Qadar dengan Ibadah
Tujuan utama para malaikat turun ke bumi adalah mengatur segala urusan manusia. Terutama, malaikat secara spesifik mengurus ketentuan takdir manusia satu per satu untuk satu tahun ke depan.
Malaikat mempolakan variabel takdir kehidupan manusia ini secara tegas menjadi dua. Keduanya yakni salam (selamat, sejahtera) dan ghairu salam (merugi, gagal).
Faktanya, tidak ada satu pun manusia yang mampu melihat wujud malaikat turun ke bumi. Kita juga sama sekali tidak mengetahui hasil catatan malaikat dalam kategori takdir tersebut.
Itulah sebabnya, Nabi Muhammad SAW senantiasa memberikan motivasi yang sangat kuat bagi umatnya. Beliau bersabda: Man qâma lailatal qadri . . . ghufira lahu – HR Muslim: 1269.
Oleh karena itu, umat Islam sangat dianjurkan melaksanakan iktikaf di masjid atau bilik rumah. Selama beriktikaf, kita sebaiknya menahan diri dari tidur untuk memperbanyak doa dan ibadah.
Selanjutnya, kita meyakini secara ghairu haqqil yaqin bahwa semoga diri kita memperoleh keberkahan malam ini. Pada akhirnya, keistimewaan Lailatul Qadar ini senantiasa menjadi anugerah terindah bagi umat yang terus mencari rida-Nya.
Baca juga:
Malam Lailatul Qadar 2026, Momentum Mengubah Takdir dan Peradaban
Bukan Malam Biasa, Inilah Alasan Malam Lailatul Qadar Disebut Malam Paling Kritis
Satu Malam Setara Seumur Hidup? Keutamaan Lailatul Qadar yang Menggetarkan Jiwa