Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Headline 15 menit baca

Naskah Khutbah Jumat: Awas, Dosa Tidur Kenyang Saat Tetangga Menahan Lapar

Redaksi

Naskah Khutbah Jumat: Awas, Dosa Tidur Kenyang Saat Tetangga Menahan Lapar
Ilustrasi ketimpangan sosial bertetangga.

Di tengah kemegahan zaman modern dan gaya hidup hedonis yang kerap dipertontonkan, kita sering melupakan realitas sosial di sekitar kita. Ironisnya, tak jarang kita temukan ada tetangga atau saudara seiman yang kesulitan makan, sementara kita tertidur pulas dengan perut kenyang. Sikap apatis dan individualis ini jelas bertentangan dengan esensi ajaran Islam yang sangat menjunjung tinggi kepedulian dan solidaritas sosial.

Untuk menyadarkan kembali pentingnya fiqih ketetanggaan dan kepekaan sosial, redaksi menyajikan naskah khutbah Jumat tematik “Solidaritas Muslim, Jangan Sampai Kita Kenyang Sementara Tetangga Kelaparan”.

Naskah khutbah yang menggugah ini disadur secara utuh dari Khutbah ke-20 dalam buku “Naskah Khutbah Jum’at Satu Tahun Sesuai Kalender Hijriah”. Karya ini disusun langsung oleh Ustad Kasmui, seorang akademisi yang juga mengemban amanah sebagai Pengurus Majelis Tabligh Muhammadiyah Kota Semarang.

Bagi para asatidz, khatib, maupun pengurus takmir masjid yang membutuhkan referensi naskah khutbah Jumat tematik selama setahun penuh, e-book ini dapat diunduh secara gratis melalui tautan resmi berikut: https://kasmui.cloud/khutbah/.

Berikut adalah sajian utuh naskah khutbah Jumat tematik tersebut:

NASKAH KHUTBAH JUM’AT 20

Tema: Solidaritas Muslim: Jangan Sampai Kita Kenyang Sementara Tetangga Kelaparan

BAGIAN 1: KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Amma ba’du.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat iman, islam, dan kesehatan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya, para ulama pewaris nabi, dan para mujahid yang ikhlas berjuang di jalan-Nya.

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang tidak hanya terucap di lisan atau terlihat dalam ritual ibadah vertikal semata, namun takwa yang membuahkan kepekaan sosial, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama.

Hadirin Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

Hari ini kita hidup di zaman yang penuh paradoks. Di satu sisi, kita melihat gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, restoran mewah menjamur dengan sisa makanan yang melimpah, dan gaya hidup hedonisme yang dipertontonkan di media sosial. Namun, di sisi lain—terkadang hanya berjarak beberapa langkah dari tembok rumah kita—ada saudara kita yang merintih menahan lapar, ada tetangga yang memadamkan lampu bukan untuk tidur melainkan untuk menyembunyikan tangis kelaparan anak-anaknya.

Sungguh ironis, jika kita mengaku sebagai umat Nabi Muhammad yang penuh kasih sayang, namun hati kita membatu melihat penderitaan orang-orang terdekat kita. Islam bukanlah agama yang mengajarkan kesalehan individual semata, tetapi Islam adalah agama yang menjunjung tinggi solidaritas sosial.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan ikatan persaudaraan ini dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat ini adalah landasan utama kita. Kata ‘ikhwah’ (bersaudara) di sini menunjukkan ikatan yang sangat kuat, seolah-olah satu nasab, padahal diikat oleh iman. Konsekuensi dari persaudaraan adalah saling menanggung dan saling merasakan. Tidak pantas seorang saudara membiarkan saudaranya menderita sementara ia bersenang-senang.

Ma’asyiral Muslimin,

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan peringatan yang sangat keras, sebuah ancaman yang seharusnya membuat kita gemetar dan memeriksa kembali persediaan makanan di rumah kita serta kondisi tetangga kita. Beliau bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dan At-Thabrani, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

“Bukanlah seorang mukmin (yang sempurna imannya), orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, No. 7307, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad)

Perhatikanlah kalimat Baginda Nabi. Beliau menafikan kesempurnaan iman seseorang. Artinya, cacat iman kita jika kita tidur nyenyak dengan perut kenyang, sementara kita tahu ada tetangga yang perutnya melilit karena lapar. Hadits ini mengajarkan kita tentang Fiqih Tetangga dan Sensitivitas Sosial. Jangan sampai tembok rumah kita yang tinggi menghalangi pandangan hati kita terhadap kondisi tetangga.

Bahkan, ketidakpedulian ini bisa menjerumuskan seseorang ke dalam golongan pendusta agama. Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’un ayat 1-3:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ . فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ . وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1-3)

Ayat ini menjadi argumen pendukung yang menohok. Mendustakan agama tidak selalu berarti menolak shalat atau puasa. Mengabaikan perut orang miskin (miskin adalah mereka yang tidak memiliki cukup kebutuhan pokok) adalah bentuk pendustaan terhadap nilai-nilai agama itu sendiri.

Jamaah yang Berbahagia,

Lalu, bagaimanakah seharusnya sikap kita? Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan perumpamaan yang indah tentang solidaritas kaum mukminin. Beliau bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari No. 6011 & Muslim No. 2586)

Hadits ini adalah kabar sekaligus cermin. Jika ada saudara kita yang kelaparan, namun kita masih bisa tidur nyenyak dan tidak merasa gelisah, maka kita perlu bertanya: “Apakah bagian tubuh umat ini masih hidup dalam diri saya? Atau hati saya sudah mati rasa?” Solidaritas bukan sekadar memberikan sisa recehan, tapi merasakan sakitnya mereka.

Sebagai solusi, Al-Qur’an mengajarkan kita untuk memberi dengan kualitas terbaik dan niat yang lurus. Mari kita lihat Surah Al-Insan ayat 8-9:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا . إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 8-9)

Ayat ini mengajarkan kita untuk memberi ‘alaa hubbihi’ (makanan yang masih kita sukai/sayangi), bukan makanan basi atau sisa. Dan yang paling penting, tidak mengharap pujian atau ucapan terima kasih. Cukuplah wajah Allah sebagai tujuannya.

Saudaraku, Hamba Allah,

Mungkin ada yang berkata, “Wahai Khatib, kami sendiri hidup pas-pasan, bagaimana kami bisa membantu?” Islam itu solutif dan realistis. Berbagi tidak harus menunggu kaya.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan motivasi amal yang sangat sederhana namun mulia kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari:

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ

“Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak sayur (daging kuah), maka perbanyaklah air (kuah)-nya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR. Muslim No. 2625)

Subhanallah! Betapa indahnya ajaran ini. Jika tak mampu memberi dagingnya, setidaknya bagilah kuahnya yang hangat dan beraroma sedap itu. Jangan biarkan aroma masakan kita menyiksa tetangga yang lapar tanpa kita berbagi sedikitpun. Ini adalah bentuk kepedulian minimal yang bisa kita lakukan.

Mari kita bangun kembali budaya saling sapa, saling hantar makanan, dan saling menanyakan kabar tetangga. Jangan biarkan individualisme mematikan iman kita.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

BAGIAN 2: KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلْقِ وَالْبَشَرِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى فِيمَا أَمَرَ وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Sebagai ringkasan dari khutbah ini, mari kita tanamkan dalam hati bahwa kepedulian sosial adalah barometer keimanan. Tetangga yang lapar adalah ujian bagi keimanan kita. Jangan sampai kita menjadi umat yang saleh secara ritual tapi zalim secara sosial. Mulailah dari hal kecil: periksa kondisi tetangga kiri-kanan, sisihkan sebagian rezeki walau sedikit, dan hidupkan kembali semangat berbagi. Ingatlah, rezeki yang kita sedekahkan tidak akan berkurang, justru itulah yang akan kekal di sisi Allah dan menjadi penolong kita di hari kiamat.

Marilah kita tundukkan kepala dan hati kita, bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla, memohon ampunan dan kekuatan agar kita dijadikan hamba yang dermawan dan peduli.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa guru-guru kami. Muliakanlah mereka di dunia dan di akhirat.

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ

Ya Allah, satukanlah hati-hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَيُفْشِي السَّلَامَ، وَيَصِلُ الْأَرْحَامَ، وَيُصَلِّي بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang gemar memberi makan, menebarkan salam, menyambung tali silaturahmi, dan shalat di malam hari ketika manusia sedang tidur.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ إِخْوَانِنَا الْمُسْلِمِينَ جَائِعًا إِلَّا أَطْعَمْتَهُ، وَلَا مَهْمُومًا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا عَارِيًا إِلَّا كَسَوْتَهُ

Ya Allah, janganlah Engkau biarkan di antara kami dan saudara-saudara muslim kami ada yang kelaparan kecuali Engkau beri makan, tidak ada yang telanjang kecuali Engkau beri pakaian, dan tidak ada yang bersedih hati kecuali Engkau beri jalan keluar.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: