Ramadan selalu datang lebih dulu sebagai wacana sebelum ia hadir sebagai ibadah. Ia didahului oleh hitungan, oleh pengumuman, oleh tafsir atas langit yang sunyi tetapi penuh makna. Ramadan 1447 Hijriah kembali membuka ruang itu: ruang kemungkinan perbedaan awal puasa 2026. Sebuah ruang tafsir sekaligus ruang ketegangan yang nyaris rutin antara Muhammadiyah dan Pemerintah
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, melalui Majelis Tarjih dan Tajdid, telah lebih dahulu mengumumkan hasil hisabnya. Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), 1 Ramadan 1447 H ditetapkan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini dituangkan dalam Maklumat Nomor 01/MLM/I.1/B/2025 dan menjadi acuan resmi bagi seluruh warga Persyarikatan. Sebuah keputusan yang bukan tiba-tiba, bukan pula sekadar pengulangan, melainkan kelanjutan dari satu lompatan metodologis: adopsi KHGT sebagai pengganti kriteria wujudul hilal.
Di sini, Muhammadiyah tidak hanya menentukan tanggal. Ia menentukan cara memandang waktu. KHGT, yang mengadopsi Kriteria Turki 2016 hasil Muktamar Kalender Islam Global, berangkat dari gagasan bahwa umat Islam memerlukan satu kalender global yang konsisten, pasti, dan tidak terfragmentasi oleh batas-batas geografis dan perbedaan lokal. Waktu, dalam pandangan ini, bukan sekadar fenomena alam yang ditunggu, tetapi realitas kosmik yang dapat dihitung dan disepakati secara ilmiah.
Langkah ini, tentu, bukan tanpa konsekuensi. Pemerintah Indonesia, hingga kini, masih berpegang pada mekanisme sidang isbat dengan rukyat sebagai elemen pentingnya. Di titik inilah kemungkinan perbedaan kembali terbuka. Jika Pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1447 H pada tanggal yang berbeda, publik akan kembali menyaksikan “dua Ramadan” yang hidup berdampingan, sebuah situasi yang bagi sebagian orang dianggap ganjil, bagi sebagian lain sudah menjadi kebiasaan.
Namun, apakah perbedaan awal puasa 2026 ini sungguh masalah?
Modernitas, kita tahu, bukanlah soal mengganti yang lama dengan yang baru, melainkan soal mengubah cara kita memahami. Muhammadiyah, dengan KHGT, tampak sedang melakukan itu: mengubah cara memahami kalender Islam dari sesuatu yang lokal dan reaktif menjadi global dan prediktif. Ia tidak meniadakan rukyat sebagai tradisi sejarah, tetapi menempatkannya dalam kerangka baru: bahwa ilmu pengetahuan modern memberi kemungkinan kepastian yang lebih luas.
Pemerintah, di sisi lain, berdiri pada posisi yang berbeda. Ia tidak semata-mata institusi keagamaan, melainkan juga pengelola keragaman sosial. Sidang isbat bukan hanya forum astronomi, tetapi juga arena kompromi: antara ormas, antara mazhab, antara tuntutan kepastian dan kebutuhan legitimasi sosial. Maka, wajar bila negara bergerak lebih lambat, lebih berhati-hati, dan sering kali lebih kompromistis.
Kemungkinan perbedaan awal puasa 2026 ini, jika dilihat lebih jernih, bukanlah pertarungan antara benar dan salah. Ia adalah perbedaan horizon epistemologis. Muhammadiyah memilih kepastian hisab global; Pemerintah memilih kehati-hatian sosial berbasis kesaksian. Keduanya berangkat dari niat yang sama: menjaga ibadah umat. Yang berbeda adalah jalannya.
Pertanyaannya kemudian: bagaimana sebaiknya warga Persyarikatan Muhammadiyah menyikapi kemungkinan perbedaan awal puasa 2026 ini?
Pertama-tama, dengan kesadaran bahwa keputusan Persyarikatan adalah keputusan yang sah, konstitusional, dan memiliki dasar keilmuan yang kuat. KHGT bukan produk improvisasi, melainkan hasil ijtihad kolektif yang panjang, melibatkan dialog global, dan berangkat dari kebutuhan umat Islam kontemporer. Menjalankan puasa pada 18 Februari 2026 adalah ekspresi ketaatan pada keputusan organisasi, bukan sikap pembangkangan terhadap negara.
Namun, kesadaran itu perlu disertai dengan ketenangan. Muhammadiyah tidak lahir sebagai gerakan yang gemar berteriak. Ia tumbuh dengan etos rasionalitas, kesantunan, dan pendidikan. Maka, warga Persyarikatan tidak perlu larut dalam perdebatan emosional, apalagi menjadikan perbedaan tanggal sebagai ajang saling merendahkan. Keyakinan tidak memerlukan amarah sebagai pembela.
Kedua, dengan kedewasaan sosial. Di ruang publik—kantor, sekolah, keluarga besar—perbedaan awal puasa hampir pasti bersinggungan dengan relasi sehari-hari. Di sinilah etika Muhammadiyah diuji. Menjalankan puasa lebih dahulu atau lebih kemudian tidak boleh berubah menjadi sikap eksklusif. Puasa, bagaimanapun, adalah latihan empati: menahan diri, termasuk dari keinginan untuk merasa paling benar.
Ketiga, dengan sikap edukatif dan dialogis. Warga Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk menjelaskan, bila diperlukan, apa itu KHGT, mengapa Muhammadiyah mengadopsinya, dan apa implikasinya. Penjelasan itu sebaiknya disampaikan bukan dengan nada polemik, melainkan dengan bahasa pengetahuan. Dalam masyarakat yang kerap menyederhanakan isu menjadi slogan, penjelasan yang sabar adalah bentuk dakwah yang paling relevan.
Keempat, dengan empati kebangsaan. Negara dan Muhammadiyah berada di medan yang berbeda. Muhammadiyah tidak harus selalu sejalan dengan keputusan Pemerintah, tetapi ia juga tidak perlu memosisikan diri sebagai oposisi simbolik. Kritik tetap sah, dialog tetap perlu, tetapi rasa saling menghormati jauh lebih penting. Sebab, pada akhirnya, kita hidup dalam satu ruang kebangsaan yang sama.
Barangkali yang paling penting adalah menyadari bahwa Ramadan bukan soal siapa yang lebih dulu memulai, melainkan bagaimana ia dijalani. Kalender hanyalah pintu masuk. Yang menentukan makna puasa adalah apa yang terjadi setelah pintu itu dibuka: kesabaran, kejujuran, dan kerendahan hati.
Jika perbedaan awal puasa 2026 kembali hadir, mungkin itu bukan tanda kegagalan umat Islam Indonesia, melainkan cermin dari kedewasaan yang sedang diuji. Mampukah kita hidup dengan perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat? Mampukah kita beribadah dengan keyakinan tanpa memaksakan keseragaman?
Ramadan, seperti waktu itu sendiri, tidak pernah benar-benar tunggal. Ia selalu dibaca, ditafsirkan, dan dihayati. Dan barangkali, justru di celah-celah perbedaan itulah kita belajar: bahwa iman tidak lahir dari kesamaan tanggal, melainkan dari kesediaan untuk saling memahami.
Baca juga:
Bagaimana Perayaan Tahun Baru Menurut Islam?
Akhiri Perbedaan: Kalender Hijriah Global Tunggal, Warisan Abadi Sang Khalifah
Jangan Khawatir! Kalender Hijriyah Global Tunggal Tidak Mengubah Waktu Ibadah Anda