Ulama, sebagai pewaris para nabi, idealnya mencerminkan keteladanan akhlak mulia. Namun, ulama juga manusia biasa. Maka, tidak terhindarkan bahwa ada pula ulama yang egois, yang justru memiliki karakter-karakter yang sejatinya tak boleh melekat pada diri seorang pemuka agama.
Nabi Muhammad ﷺ telah membaca aneka karakter sahabat atau umatnya. Karakter-karakter ulama egois ini harus diwaspadai, sebab berkaitan langsung dengan niat mencari ilmu yang menyimpang dari ajaran agama.
Ciri karakter ulama egois yang disabdakan Nabi, antara lain sebagai berikut:
1. Membodohi umat
Banyak orang yang diulamakan masyarakat karena ilmunya. Akan tetapi, ulama tersebut justru seolah melarang umatnya menjadi tahu.
“Biarlah para kiai yang memberi nasihat,” kata mereka. Membaca kitab tidak boleh, apalagi membaca Al-Qur’an, kecuali harus bersanad.
Jika tidak bersanad, maka gurunya dianggap setan. Jadi, secara struktural-sistematis, umat menjadi bodoh.
Ungkapan dalam sambutan perhelatan, “Kepada para Ulama, Asatidz, Rama Kiai, dan Masyaikh yang kita ikuti fatwanya,” adalah simbol umat sangat tidak terpelajar dan tidak mau atau dilarang melaksanakan perintah membaca (iqra’).
2. Gemar Berdebat
Ciri karakter ulama egois selanjutnya adalah gemar berdebat. Mereka senang mendebat ulama lain sehingga ulama yang kalah dalam berdebat merasa malu, atau pamer kelebihannya:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِي بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يُرِيْدَ أَنْ يُقْبَلَ بِوُجُوْهِ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ جَهَنَّمَ
Artinya: Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mencari ilmu untuk menandingi para ulama, atau berbantah-bantahan dan untuk mencari muka manusia (mendapat perhatian), Allah memasukkannya ke neraka Jahannam.” (HR Darimi: 375, 376, 379, 383, Ahmad: 1564) .
Dalam masalah-masalah fur’iyyah (cabang agama), memang tidak pernah ada kesepakatan hakiki di antara para ulama, kecuali karena sama kepentingan.
Karakter ulama yang senang berdebat, manakala bisa melemahkan ilmuwan lainnya, dia sangat bangga. Tentu popularitas segera diperolehnya.
Mereka nyaman dalam posisi ulama elitis atau khos, sehingga jika ada yang menyalami, orang tersebut harus mencium tangannya. Ulama sombong ini lupa, berdasar hadis di atas, di akhirat kelak akan dicampakkan Allah ke neraka Jahannam.
3. Bakhil dengan ilmu
Kategori ulama egois berikutnya adalah bakhil dengan ilmu. Ilmu dikomersialkan layaknya ilmuwan Barat yang sekularisme-individualistik, yaitu tidak boleh sembarang orang bisa mengakses ilmunya.
Dengan kekhasan ilmunya, dia bangga bahwa di dunia, hanya dia yang memiliki otoritas. Kebakhilan ilmu dikecam Rasulullah ﷺ demikian hadisnya:
مَنْ سُئِلَ عِلْمً فَكَتَمَهُ لُجِّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنَ النَّارِ
Artinya: “Barang siapa yang ditanya tentang ilmu kemudian menyembunyikannya, maka ia akan diikat dengan ikatan dari api neraka.” (HR Turmuzi: 2573. Hadis semakna: Abu Dawud: 3173, Ibnu Majah: 257, 260, 261, 262, Ahmad: 7255, 7602, 7704, 8177, 8284, 10017, 10082, Ibnu Hibban: 95, 96, dan Hakim: 344, 345, 346).
Doktrin Su’ul Adab dan Mlintir Ayat
Doktrin bahwa santri bertanya kepada kiai merupakan su’ul adab (akhlak buruk) justru yang tidak bagus adalah kiainya, karena melebihkan dirinya daripada Rasulullah ﷺ.
Mengapa demikian? Nabi begitu mudah, lapang dada (legowo), dan serius menjawab setiap pertanyaan dari para sahabat.
Contoh kasus ketika sahabat bertanya bagaimana cara berselawat atas Nabi: kaifa nuṣalli ‘alaika yâ Rasûlallâh? (Bagaimana cara berselawat atas Engkau wahai Rasulullah?). Nabi menjawab: qûlû Allâhumma ṣalli ‘alâ Muhammad dst..
Ada model karakter ulama yang mlintir (memelintir) ayat 12 Surah Al-Mujadilah. Inti pesan ayat ini, jika hendak berdialog dengan Rasulullah ﷺ, hendaklah bersedekah dulu.
Tentu, arah sedekah itu kepada fakir-miskin. Mengapa? Rasulullah ﷺ telah mengharamkan menerima sedekah/zakat, termasuk kepada keluarganya.
Ironisnya, terapan ayat itu justru dipelintir menjadi jika sowan (menghadap) ke ulama, kok tidak membawa amplop dikategorikan su’ul adab. Subhanallah.
Kebakhilan Ilmu di Kampus
Kebakhilan ilmu juga terjadi di kampus-kampus. Sering terjadi, mahasiswa kesulitan menemui dosen untuk berkonsultasi risalah tugas akhirnya.
Sang ilmuwan menentukan syarat harus ada perjanjian dulu. Pada saatnya mahasiswa datang untuk berkonsultasi di tempat dan jam yang ditentukan, sang ilmuwan tidak ada, tanpa keterangan.
Ketika mahasiswa menelpon, sang dosen tidak mengangkat ponselnya. Ketika di-WA, lama tidak dibacanya. Sementara itu, mahasiswa ingin mengejar agar bisa wisuda, dan yang paling penting, tidak terkena SPP lagi.
Ketika mahasiswa menemui pembimbingnya dengan cara memantau lewat google, sehingga tahu di mana posisi sang dosen. Mahasiswa mohon izin untuk berkonsultasi, padahal sang ulama lagi bersenda gurau dengan koleganya.
Beliau tidak mau menemuinya dan tidak mau diganggu untuk memberikan bimbingan. Malah dia agak setengah marah. Alasannya belum ada perjanjian.
Ada pula pembimbing yang sangat pelit dalam memberikan bimbingan, umpama satu minggu ketemu sekali dan harus melalui perjanjian dulu. Saat ketemu, dalam memberikan bimbingan hanya satu masalah, masalah lainnya dilaksanakan berikutnya.
Setelah diikuti sarannya, sang pembimbing merubah struktur cara berpikirnya. Jadi, sudah di-icrit-icrit (dicicil sedikit-sedikit) dalam memberikan bimbingan masih diubah-ubah.
4. Melenceng Tujuan Mencari Ilmu
Banyak sekali kasus mahasiswa, baik S1, S2, bahkan S3, dalam mengejar ilmu hanya semata-mata memburu karier.
Pejabat, tampak tidak pernah kuliah, tetapi aktif membayar SPP. Tiga tahun kemudian bergelar ke tingkat yang lebih tinggi kesarjanaannya.
Dalam posisi demikian telah terjadi ta’âwun ‘alal iṡmi, yaitu kolaborasi dalam kedosaan dan pasti berlanjut pada kedustaan. Kampus melacurkan diri dalam keilmuan, mahasiswa ibarat hidung belangnya yang bernafsu memiliki selembar ijazah.
Malapraktik keilmuan ini sebenarnya terancam neraka. Demikian sabda nabi:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله عز وجل لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة يعني ريحها
Artinya: “Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah azza wa jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat.” (HR Abu Dawud: 3179, Ibnu Majah: 248, Ahmad: 8103, Ibnu Hibban: 87, Hakim: 288, 289) .
Dengan memiliki ijazah aspal, artinya asli tetapi palsu. Asli karena resmi dari perguruan tinggi, tetapi prosedur memperolehnya bukan melalui studi umumnya belajar secara reguler di perguruan tinggi.
Yang bersangkutan bisa mudah menduduki jabatan yang lebih tinggi daripada jabatan yang sedang dipangku. Ujung-ujungnya tambah besar gaji yang diterima dan lebih banyak fasilitas untuknya.
Namun, ingat, di akhirat pemilik dan pemanfaat ijazah aspal kelak tidak mencium bau surga, apalagi surganya.
Wallâhu a’lamu biṣawâb.
(Bersambung)
Baca juga:
Menyoal Ulama Pewaris Para Nabi: Siapa Pewaris Nabi Sesungguhnya? (Bagian 1 dari 6)
Menyoal Ulama Pewaris Nabi: Benarkah Ilmuwan dan Sarjana Juga Termasuk ‘Ulama’? (Bagian 2 dari 6)
Menyoal Ulama Pewaris Nabi: Waspada! Ini 3 Tipe Ulama Culas Penjual Agama (Bagian 3 dari 6)
Menyoal Ulama Pewaris Nabi: Benarkah Ulama Bisa Memberi Syafaat pada Hari Kiamat? (Bagian 4 dari 6)