Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 4 menit baca

Panggilan Khalifah Fil Ardh: Meneguhkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di Tengah Kepungan Bencana

Penulis: Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo, M.T.

Ketua Program Studi Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik UNISSULA

Panggilan Khalifah Fil Ardh: Meneguhkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di Tengah Kepungan Bencana
Mohammad Agung Ridlo, Ketua Program Studi S2 Magister Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik UNISSULA.

Sebagai bagian dari umat Islam Muhammadiyah, saya merasa terpanggil merenungkan momentum suci jelang Ramadan 1447 H. Saat hati kita bersiap menyambut bulan penuh ampunan, negeri kita justru kembali menghadapi berbagai bencana alam yang menyedihkan. Banjir bandang, longsor, dan kekeringan seolah menjadi “tamu tak diundang” yang datang bertubi-tubi. Kondisi ini bukan kebetulan semata, melainkan peringatan keras bagi kita semua.

Data bencana alam Indonesia 2025 dari BNPB mencatat rekor kelam dengan 3.233 kejadian sepanjang tahun. Angka ini menegaskan kewajiban kita untuk menyadari kembali peran vital sebagai Khalifah Fil Ardh (wakil Allah di bumi).

Makna Khalifah Fil Ardh dan Amanah Lingkungan

Konsep Khalifah Fil Ardh dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 30 bukan sekadar gelar kehormatan. Ini adalah amanah berat bagi manusia untuk memimpin dan mengatur permukaan bumi agar penuh dengan kemakmuran.

KH Ahmad Dahlan menegaskan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Artinya, kita bertanggung jawab penuh atas kelestarian setiap inci bumi ini. Sayangnya, kita kerap mengkhianati amanah tersebut dengan melakukan berbagai kemungkaran besar terhadap alam.

Pelaku kerusakan kian marak melanggar amanah khalifah di depan mata kita. Lihatlah proyek reklamasi sembarangan yang mengurug laut atau aktivitas tambang yang membabat habis hutan.

Data satelit Global Forest Watch (GFW) tahun 2024 mengonfirmasi kerusakan ini. Kita kehilangan sekitar 260.000 hektare hutan primer yang memicu pelepasan 190 juta ton emisi CO2.

Emisi inilah yang memperparah kerusakan lingkungan dan mengundang bencana datang lebih sering. Kita wajib melawan kemungkaran besar penyebab bencana ini dengan semangat nahi munkar.

Apakah kita akan diam saja dan bersikap masa bodoh melihat tangan-tangan jahil merusak alam? Tentu tidak, Muhammadiyah telah lama bergerak melalui Lazismu dan majelis lingkungan hidup untuk melawan ini.

Dari Krisis Iklim ke Peduli Tetangga

Namun, amar ma’ruf nahi munkar bukan hanya urusan skala nasional yang terasa jauh. Kita sering mengabaikan kasus-kasus kecil di sekitar kita, padahal ini pintu masuk membangun peradaban.

Kerusakan makro seringkali berdampak langsung pada penderitaan mikro di tetangga terdekat. Lihatlah tetangga kita yang mungkin kelaparan karena harga sembako melonjak akibat gagal panen.

Perhatikan pula rumah mereka yang bocor saat hujan deras ekstrem menerpa. Belum lagi kebiasaan buruk warga membuang sampah ke sungai yang akhirnya memicu banjir di lingkungan sendiri.

Rasulullah SAW bersabda, “Khairunnas anfa’uhum linnas”, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi lainnya. Menjelang Ramadan 1447 H, mari wujudkan hadis ini melalui Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan aksi personal.

Mulailah langkah nyata dengan memberi santap sahur atau membantu memperbaiki atap tetangga yang membutuhkan. Kepedulian sosial harus berjalan beriringan dengan kepedulian ekologis.

Tiga Langkah Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Islam mengajarkan tiga tingkatan pencegahan mungkar yang sangat relevan untuk konteks krisis saat ini. Pertama, cegahlah dengan tangan atau tenaga jika mampu.

Contoh konkretnya, kader bisa bergotong royong membersihkan sungai dari sampah plastik sebelum musim hujan tiba. Aksi fisik ini adalah bentuk jihad lingkungan yang nyata.

Kedua, cegahlah dengan ucapan atau nasehat jika tak kuat secara fisik. Kita bisa menegur tetangga yang membuang sampah sembarangan dengan lembut dan santun.

Sampaikan juga edukasi di pengajian tentang bahaya reklamasi dan deforestasi bagi masa depan anak cucu. Suarakan kebenaran ini di mimbar-mimbar publik agar umat sadar.

Ketiga, cegahlah dengan doa sebagai senjata pemungkas selemah-lemahnya iman. Di sela tarawih nanti, perbanyak doa agar Allah menjadikan kita khalifah yang amanah.

Mintalah perlindungan Allah agar Dia menjauhkan bumi ini dari kehancuran lebih lanjut. Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menyerukan gerakan nyata menghadapi bencana.

Jangan biarkan bencana menjadi musibah abadi yang terus berulang tanpa solusi. Sikap diam melihat kerusakan adalah kemungkaran itu sendiri.

Dengan amar ma’ruf nahi munkar, kita wujudkan lingkungan yang lestari mulai dari aksi kecil. Boikot produk perusak lingkungan dan dukung gerakan reboisasi sekarang juga. Insyaallah, kita mampu mewujudkan Indonesia baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Baca juga:

Banjir Sumatera Berulang: Kegagalan Menjaga Mizan dan Amanah Khalifah

Ketika Bumi Menangis: Sebuah Muhasabah Iman di Balik Musibah Sumatera

Muhammadiyah Jaga Lingkungan: Refleksi Akhir Tahun Muhammadiyah Tegaskan Perusakan Alam Mengancam Seluruh Makhluk Hidup


Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: