Menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga magrib merupakan pengertian syariat puasa Ramadan. Namun, ibadah yang kita kerjakan sebulan penuh ini bisa berujung sia-sia.
Hal ini terjadi jika kita tidak memahami esensi menahan diri dari maksiat lisan dan perbuatan. Oleh karena itu, kita wajib menjaga kualitas ibadah agar tidak sekadar menjadi puasa sia-sia.
Hikmah Puasa Ramadan
Pelaksanaan puasa Ramadan memiliki dampak teologis yang mendalam bagi setiap Muslim. Keputusan ini bersumber dari otoritas autentik Rasulullah SAW. Melalui petunjuk tersebut, kita bisa membimbing diri menuju hikmah puasa yang sebenarnya. Selanjutnya, mari kita perhatikan firman Allah SWT tentang tujuan amalan bulan Ramadan ini.
Allah SWT berfirman: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa – QS al-Baqarah: 183).
Ayat tersebut memahamkan kita bahwa kewajiban berpuasa sudah berlaku sejak zaman dahulu. Umat Yahudi dan Nasrani juga menerima perintah serupa pada masanya. Akan tetapi, tujuan akhir puasa Ramadan umat Islam adalah membentuk pribadi yang bertakwa.
Ketakwaan ini tentu tidak datang secara otomatis. Predikat takwa memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Tingkatan tersebut mulai dari tingkat minimalis hingga tingkat paling takwa. Semua itu bergantung sepenuhnya pada kualitas puasa Ramadan yang kita jalankan.
Sebagai perbandingan, puasa umat terdahulu sangatlah berat. Kaum Yahudi memiliki puasa wajib Yom Kippur dari terbenam matahari hingga terbenam lagi. Mereka tidak boleh makan, minum, mandi, maupun bersetubuh. Bahkan, para pelanggarnya bisa menerima hukuman yang sangat berat.
Waspada Puasa Sia-Sia
Pada masa awal Islam, sahabat Nabi juga sempat mengalami kesulitan serupa. Qais bin Shirmah tidak kuat melaksanakan puasa karena bekerja keras.
Nabi SAW pun bertanya kepadanya: مَا لِى أَرَاكَ قَدْ جَهَدْتَ جَهْداً شَدِيداً (Mengapa kamu letih berat?).
Jawabnya: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى عَمِلْتُ أَمْسِ فَجِئْتُ حِينَ جِئْتُ فَأَلْقَيْتُ نَفْسِى فَنِمْتُ وَأَصْبَحْتُ حِينَ أَصْبَحْتُ صَائِماً (Wahai Rasulullah. Aku kemarin bekerja berat. Aku pulang lantas tertidur hingga aku berpuasa pada pagi).
Tidak lama berselang, Allah SWT menurunkan keringanan. Turunlah ayat yang menghalalkan makan, minum, dan kumpul istri pada waktu malam bulan puasa Ramadan (QS. al-Baqarah: 187).
Kini, syariat puasa kaum muslimin jauh lebih ringan. Khususnya, keringanan ini sangat terasa bagi kita yang tinggal di daerah tropis dengan waktu siang dan malam yang seimbang.
Sayangnya, pemenuhan syarat puasa sering kali hanya berhenti pada aspek formalitas. Akibatnya, banyak orang yang menunaikan puasa sia-sia. Rasulullah SAW memberikan peringatan tegas mengenai hal ini.
Beliau bersabda: مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةً فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengerjakannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan – HR Bukhari: 1770, 5597).
Hadis lain yang semakna juga terus mengingatkan kita. Nabi bersabda: رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَر (Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan haus dan lapar, dan betapa banyak orang yang salat malam hanya begadang saja – HR. Ahmad: 8501).
Melalui dua teks hadis tersebut, kita menyadari bahwa puasa sia-sia itu nyata adanya.
Jauhi Maksiat Digital
Umumnya, penyebab puasa sia-sia adalah lisan dan perbuatan yang masih gemar bermaksiat. Di era digital ini, para pembuat konten, penyebar informasi, dan mubalig harus sangat berhati-hati. Jangan sampai kita melakukan penipuan atau menyebarkan hoaks di tengah masyarakat. Jika kebohongan terus kita biasakan, maka puasa Ramadan kita benar-benar sia-sia dan batal puasa pahalanya.
Para penceramah juga tidak boleh menebar hadis palsu demi pembenaran suatu tindakan. Sebaliknya, mari kita optimalkan amalan bulan Ramadan sebagai penyempurna ibadah. Kita bisa memperbanyak istigfar, sedekah, membaca Alquran, salat malam, dan berzikir.
Selain itu, pastikan segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut adalah makanan halal. Sungguh tidak pantas bagi pelaku puasa sia-sia merayakan Lebaran sebagai bulan kemenangan. Sebab, sejatinya mereka gagal mengapresiasi esensi sesungguhnya dari bulan puasa Ramadan.
Baca juga:
Cara Menjaga Pahala Puasa: Rahasia Agar Amalan Tak Sia-sia di Ramadan