Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 4 menit baca

Renungan Akhir Ramadan: Siapa yang Menangis Saat Bulan Suci Pergi?

Drs. H. Nurbini, M.S.I.

Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dosen di Fakultas Dakwah UIN Walisongo

Renungan Akhir Ramadan: Siapa yang Menangis Saat Bulan Suci Pergi?
Seorang lansia Muslim tak kuasa menahan air mata saat melakukan renungan di akhir bulan Ramadan di sebuah masjid di Indonesia. Suasana haru perpisahan dengan bulan suci tergambar kuat melalui bidikan ini. (Foto Ilustrasi: AI Generated)

Tanpa terasa, kita telah tiba di penghujung bulan puasa. Momen akhir Ramadan ini selalu membawa perasaan campur aduk. Hari-hari penuh rahmat dan ampunan sebentar lagi akan berlalu.

Oleh karena itu, mari kita jadikan renungan akhir Ramadan ini sebagai muhasabah diri. Siapakah yang sebenarnya menangisi kepergian bulan suci ini?

Allah SWT menjadikan bulan puasa sebagai ladang pengampunan yang sangat luas. Selanjutnya, Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira melalui sabdanya: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ . Artinya: “Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Bulan suci ini pasti membawa ganjaran pahala yang berlipat ganda. Selain itu, pintu surga terbuka lebar dan setan pun terbelenggu. Sayangnya, tidak semua manusia mau memaksimalkan kesempatan emas ini.

Hakikat Perpisahan di Akhir Ramadan

Para ulama membagi manusia menjadi dua golongan saat menghadapi perpisahan ini. Golongan pertama adalah orang-orang saleh yang menangisi kepergian Ramadan. Mereka tentu bersedih karena akan kehilangan manisnya ibadah.

Bahkan, para ulama salaf memiliki kebiasaan yang luar biasa: كَانَ السَّلَفُ يَدْعُونَ اللَّهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمُ رَمَضَانَ، وَيَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ . Artinya: “Para ulama salaf berdoa enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadan, dan enam bulan berikutnya mereka berdoa agar amal Ramadan diterima.” Bagi mereka, Ramadan layaknya tamu agung yang sangat dirindukan kehadirannya.

Sebaliknya, golongan kedua justru merasa lega saat puasa usai. Mereka merasa bebas karena tidak perlu lagi bangun di sepertiga malam. Padahal, umur kita belum tentu sampai pada bulan puasa tahun depan.

Jika Ramadan bisa berbicara, mungkin ia akan langsung meratap sedih. “Aku datang membawa rahmat, tetapi banyak yang menyia-nyiakanku,” keluhnya. Bahkan, manusia sering mengabaikan malam Lailatul Qadar demi hiburan duniawi yang fana.

Oleh sebab itu, Allah SWT dengan tegas mengingatkan kita dalam surat QS. Al-Ma’idah ayat 27 yang artinya: “Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.”

Amalan 10 Hari Terakhir Ramadan

Sebelum waktu habis, kita harus segera mengejar amalan 10 hari terakhir Ramadan. Pertama, perbanyaklah istighfar dan segera bertaubat kepada Allah SWT. Sebab, kita tidak pernah tahu apakah amal ibadah kita diterima seutuhnya.

Allah SWT berfirman dalam surat QS. An-Nur ayat 31: وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ( “Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang beriman agar kalian beruntung.”)

Kedua, perbanyaklah memanjatkan doa akhir Ramadan di setiap kesempatan. Khususnya, bacalah doa dari Rasulullah ﷺ di malam-malam ganjil: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي. ( “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlar aku.”)

Ketiga, tingkatkan terus kesungguhan kita dalam beribadah sehari-hari. Jangan sampai semangat ibadah kita justru mengendur di garis akhir.

Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan teladan luar biasa dari Nabi.

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

Artinya; “Rasulullah ﷺ apabila memasuki sepuluh malam terakhir (Ramadan), beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh (dalam ibadah), dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Mari manfaatkan sisa waktu yang sangat berharga ini. Perbaikilah shalat, perbanyak istighfar, baca Al-Qur’an, dan rutinkan sedekah Anda. Semoga kelak bulan mulia ini bersaksi atas segala kebaikan kita.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَصَالِحَ أَعْمَالِنَا اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ هٰذَا آخِرَ عَهْدِنَا بِرَمَضَانَ

“Ya Allah jangan jadikan Ramadan ini sebagai Ramadan terakhir bagi kami.”

Baca juga:

Malam Lailatul Qadar 2026, Momentum Mengubah Takdir dan Peradaban

Kapan Malam Lailatul Qadar 2026, Malam Ganjil Muhammadiyah atau NU?

Bukan Malam Biasa, Inilah Alasan Malam Lailatul Qadar Disebut Malam Paling Kritis

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: