Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 6 menit baca

Soal Shalat Tahajud Berjamaah: Hukum dan Dalil Sahih Pelaksanaannya (Seri 1)

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Komisi Dakwah MUI Kota Semarang, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Soal Shalat Tahajud Berjamaah: Hukum dan Dalil Sahih Pelaksanaannya (Seri 1)
Ilustrasi: Sebuah keluarga melaksanakan shalat malam secara berjamaah. Praktik ibadah komunal ini memiliki rekam jejak sejarah yang kuat sejak masa kenabian, yang kemudian diformalkan pelaksanaannya oleh Khalifah Umar bin Khattab dan terus berkembang melalui ijtihad para ulama. (Visual: AI Generated)

Masyarakat Muslim sering mendiskusikan soal shalat tahajud berjamaah, baik saat mengerjakannya di masjid maupun di rumah bersama keluarga. Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut, kami menyajikan serial artikel khusus.

Tulisan ini merupakan bagian pertama dari beberapa seri pembahasan. Pada seri pembuka ini, kita akan fokus mengkaji landasan hukum dan dalil sahih shalat malam yang bersumber dari praktik Rasulullah SAW.

Mengenal Esensi Shalat Malam

Umat Islam dapat menamai shalat di waktu malam sebagai shalat tahajud dan shalat witir. Jika kita melaksanakannya pada bulan Ramadan, ibadah ini bisa bernama qiyamurramadhan. Ulama masa kini menyebut qiyamurramadhan sebagai shalat tarawih plus witir.

Kita bisa menyebut ibadah ini shalat witir karena jumlah keseluruhan rakaatnya harus ganjil. Sebuah hadis merincikan praktik shalat Nabi SAW tersebut:

وَيُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ فِيهَا إِلَّا فِي الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّ التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ وَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَيَّ فَلَمَّا سَنَّ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخَذَهُ اللَّحْمُ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَنَعَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَنِيعِهِ الْأَوَّلِ فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَيَّ وَكَانَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى صَلَاةً أَحَبَّ أَنْ يُدَاوِمَ عَلَيْهَا

Artinya: Nabi shalat sembilan rakaat tanpa duduk selain pada rakaat kedelapan. Beliau menyebut nama Allah, memuji-Nya dan berdoa. Kemudian, beliau bangkit berdiri dan tidak mengucapkan salam.

Setelah itu, beliau berdiri melanjutkan shalat untuk rakaat kesembilannya. Beliau berdzikir, memuji Allah, dan berdoa memohon petunjuk. Beliau lalu mengucapkan salam dengan nyaring agar kami mendengarnya.

Sesudah salam, beliau shalat dua rakaat sambil duduk. Itulah sebelas rakaat wahai anakku. Ketika Nabi SAW berusia lanjut, beliau berwitir dengan tujuh rakaat dan menutupnya dengan dua rakaat.

Oleh karena itu, total ibadahnya berarti sembilan rakaat. Jika Rasulullah SAW mengerjakan shalat, beliau suka mengerjakannya secara terus-menerus (HR Muslim: 1233).

Merujuk hadis ini, shalat malam sangat identik dengan shalat witir.

Terkadang, Nabi SAW mengalami udzur sehingga tidak shalat malam. Beliau kemudian menggantinya pada siang hari dengan jumlah 12 rakaat. Hadis menjelaskan: وَكَانَ إِذَا غَلَبَهُ نَوْمٌ أَوْ وَجَعٌ عَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ صَلَّى مِنْ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً.

Perbedaan rakaat genap pada siang hari dan ganjil pada malam hari menjadi sangat jelas.

Bukti Praktik Shalat Berjamaah

Selain mengerjakannya sendirian, Nabi SAW memberikan landasan mengenai soal shalat tahajud berjamaah. Suatu malam, sahabat Huzaifah datang mendatangi dan mengikuti shalat beliau. Hadis sahih berikut merekam momen kebersamaan tersebut:

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ لِأُصَلِّيَ بِصَلَاتِهِ فَافْتَتَحَ فَقَرَأَ قِرَاءَةً لَيْسَتْ بِالْخَفِيَّةِ وَلَا بِالرَّفِيعَةِ قِرَاءَةً حَسَنَةً يُرَتِّلُ فِيهَا يُسْمِعُنَا قَالَ ثُمَّ رَكَعَ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ نَحْوًا مِنْ رُكُوعِهِ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ حَتَّى فَرَغَ إِلَى الطَّوْلِ وَعَلَيْهِ سَوَادٌ مِنْ اللَّيْلِ

Artinya: Hudzaifah bin al-Yaman berkata, “Aku mendatangi Rasulullah SAW pada suatu malam untuk mengikuti shalat beliau”. Beliau memulai shalat dan membaca dengan suara pertengahan. Beliau membaca dengan baik secara tartil dan memperdengarkannya kepada kami.

Kemudian beliau memanjangkan gerakan ruku’, berdiri setelah ruku’, sujud, dan duduk diantara dua sujud. Durasinya kurang lebih sama lama dengan posisi berdirinya. Beberapa orang sahabat mengikuti shalat beliau (HR Ahmad: 2232).

Kesimpulan Hukum Shalat Malam

Peristiwa dalam hadis tersebut membuktikan kebolehan pelaksanaan soal shalat tahajud berjamaah. Nabi SAW sama sekali tidak melarang orang untuk memakmumi shalatnya. Beliau membiarkan sahabat mengikuti gerakan ibadahnya dari belakang.

Kajian fiqih menetapkan shalat malam memiliki hukum sunnah. Ibadah ini berstatus tathawwu’ atau kebaikan atas dorongan diri sendiri. Allah SWT berfirman menyebutnya sebagai nafilah (tambahan):

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا

Artinya: Pada sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji (QS al-Isra’ [17]: 79).

Kesimpulannya, umat Islam dapat menyebut shalat malam sebagai tahajud maupun witir. Anda juga boleh melakukannya secara berjamaah tanpa perlu ragu lagi. Wallâhu a’lamu bişawâb.

Baca juga:

Soal Shalat Tahajud Berjamaah: Panduan Jumlah Rakaat dan Rentang Waktunya (Seri 2)

Soal Shalat Tahajud Berjamaah: Sejarah Tarawih dan Praktik Sahabat (Seri 3)

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: