Arsitek Jiwa di Ujung Senja, Jalan Sunyi Pudjo Koesworo Rangkul Kaum Marginal
SEMARANG, Jatengdata.com – Aroma duka masih membekas lekat di udara kawasan Lamper Krajan, Kota Semarang, sehari setelah kepergiannya. Di balik deretan pelayat yang menunduk takzim, tersembunyi sebuah epos tentang seorang insinyur senior yang menolak menyerah pada batas usia. Ketika orang-orang sebayanya memilih bersandar tenang menikmati kemapanan masa pensiun, Pudjo justru mengencangkan tali sepatunya.
Sebagai seorang tokoh Muhammadiyah Semarang, Pudjo memilih menukar kenyamanannya demi menyusuri lorong-lorong dingin penjara. Ia basuh duka warga pesisir, dan hidupkan harapan di gersangnya pinggiran makam Bergota.
Bernama lengkap H. Ir. Pudjo Koesworo Juliarso, M.SA. sang arsitek jiwa ini berpulang pada Ahad (12/7/6) kemarin. Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang ini mengembuskan napas terakhirnya di usia 71 tahun.
Kehilangan Besar Sang Ruh Perjuangan
Kepergian mantan dosen arsitektur ini menyisakan pukulan telak bagi pucuk pimpinan persyarikatan. Ketua PDM Kota Semarang, Dr. KH. Fachrur Rozi, M.Ag., tak mampu menyembunyikan rasa kehilangannya yang mendalam. Di matanya, almarhum adalah pilar moral bagi pergerakan dakwah di ibu kota Jawa Tengah.
“Hari ini kita kembali kehilangan tokoh panutan, senior, pejuang dakwah yang luar biasa, Pak Pudjo yang terus berjuang sampai akhir hayatnya untuk persyarikatan Muhammadiyah,” ucap Fachrur Rozi memberikan kesaksian.
Lebih lanjut, Fachrur Rozi menitipkan pesan tegas kepada seluruh barisan kader. Ia tidak ingin semangat membara almarhum ikut terkubur bersama jasadnya. “Mudah-mudahan menjadi pembelajaran buat kita semuanya. Pentingnya meneladani perjuangan tokoh-tokoh senior agar kita tidak kehilangan roh perjuangan,” tegasnya.
Rencana Spektakuler Sang Arsitek Jiwa
Kesan mendalam juga datang dari Wakil Ketua PDM Kota Semarang, KH. Danusiri, M.Ag. Ia kehilangan sosok rekan seperjuangan yang tak pernah kehabisan ide memajukan umat.
“Baru saja saya menerima kabar yang sangat mengejutkan. Teman saya dan ketua majelis bidang saya, Bapak Ir Pujo Kusworo wafat. Dia adalah pejuang yang sangat gigih,” ungkap Danusiri.
Menurut Danusiri, almarhum memiliki idealisme tinggi agar Muhammadiyah hadir menyentuh ranah sosial paling bawah. Tokoh Muhammadiyah Semarang ini bahkan tengah mengawal sebuah rancangan besar.
“Dia mempunyai rencana yang sebetulnya sangat spektakuler, yaitu ingin bersama-sama dengan PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) membangun kawasan wisata yang lengkap dengan Masjid Cheng Ho di daerah Pantai Utara Semarang,” tutur Danusiri membeberkan visi almarhum.
Namun, yang paling membekas di hati Danusiri adalah keprihatinan almarhum terhadap warga binaan. “Hari demi hari pikirannya adalah bagaimana berdakwah. Terutama di kalangan orang-orang yang terlantar di lembaga pemasyarakatan wanita. Keprihatinannya sangat besar, memikirkan bagaimana seorang ibu akhirnya bisa terpenjara. Karena itulah selalu saja mengunjungi, bagaimana agar mereka itu kembali menjadi manusia normal,” tambahnya.
Dedikasi Pascapensiun dan Jejak Kemanusiaan
Jejak pengorbanan tanpa lelah itu terekam sangat lekat dalam ingatan Bendahara LDK PDM Kota Semarang, Hasan Pardjoyo. Persahabatan mereka terjalin kuat sejak menunaikan ibadah haji bersama dalam satu kloter KBIH Muhammadiyah pada tahun 2006 silam.
Hasan menuturkan, totalitas almarhum menyala terang pada tahun 2016 pascapensiun. Dengan dukungan sang istri yang berprofesi sebagai dokter spesialis jiwa di RS Roemani, almarhum menata langkah dari Masjid At-Taqwa Wonodri hingga menjadi ketua badan pengurus gedung dakwah PDM Kota Semarang pada 2019. Keahlian arsitekturnya benar-benar ia dedikasikan untuk merancang gedung dakwah dan mengkampanyekan konsep green building.
Hasan juga bersaksi betapa luasnya jangkauan kepedulian almarhum. “Beliau aktif menjadi relawan mengawal pengajian, donasi kemanusiaan nasional hingga Palestina, kurban untuk pemberdayaan, hingga sunatan gratis bagi warga tidak mampu,” terang Hasan.
Sang Mentor yang Rela Turun Panggung
Kepiawaiannya menata program dakwah berbanding lurus dengan kerendahan hatinya. Ketua LDK Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. AM Jumai, memberikan kesaksian emosional. Bagi Jumai, sosok Ir H Pudjo Koesworo telah melampaui sekat struktural; beliau adalah figur bapak.
“Bagi saya pribadi, beliau bukan hanya seorang senior di Muhammadiyah, tetapi juga guru, sahabat, dan teladan yang mengajarkan bahwa dakwah harus dilakukan dengan ketulusan, kelembutan, serta memberi ruang kepada kader-kader muda untuk tumbuh,” papar Jumai.
Di bawah komando almarhum, dakwah berkembang pesat menyentuh lintas komunitas, mulai dari Ngaji On The Street, komunitas pesisir, hingga komunitas arsitek lawas. Namun, yang paling membuat Jumai takjub adalah karakter sang arsitek yang rela mundur selangkah demi anak mudanya.
“Di tengah kehidupan organisasi yang terkadang diwarnai persaingan, Pak Pudjo justru menunjukkan ketulusan tanpa rasa iri, dengki, ataupun keinginan menonjolkan diri. Beliau lebih bahagia melihat orang lain maju daripada sekadar mendapatkan pujian,” kenang Jumai haru.
Warisan Terbaik yang Menembus Langit
Jumai juga menambahkan satu lagi bukti kepiawaian tata ruang almarhum. Ketika merenovasi SD Muhammadiyah 1 Semarang, almarhum memberikan sentuhan arsitektur yang indah dan menyatu dengan alam.
Kini, sang arsitek jiwa itu telah merampungkan mahakarya terakhirnya di dunia. Raganya memang telah terkubur di pusara Bergota, namun fondasi keikhlasan yang dibangun oleh sang tokoh Muhammadiyah Semarang ini akan terus hidup.
Almarhum membuktikan bahwa warisan terbaik bukanlah semata gedung pencakar langit, melainkan senyum kaum marginal dan suburnya kader muda yang doanya menembus hingga ke Arasy.
Selamat jalan sang arsitek jiwa. Husnul khatimah.