VW Safari Borobudur: “Sekolah di Atas Roda” Pengurus Muhammadiyah Semarang
MAGELANG, muhammadiyahsemarangkota.org– Langit Magelang di pengujung November merentangkan kanvas biru yang damai. Udara desa yang segar membelai wajah rombongan peserta capacity building pengurus Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang yang duduk di atas 14 mobil VW Safari Borobudur.
Ini bukan sekadar wisata biasa, namun kelas lapangan yang bergerak. Inilah “Sekolah di atas roda”, dimana jip klasik tanpa atap menjadi kurir pelajaran manajemen ekonomi umat yang berharga.
Suara mesin tua VW yang ditumpangi “siswa sekolah di atas roda” pengurus Muhammadiyah menderu-deru di atas jalan desa yang mulus. Walaupun sudah berumur lebih dari setengah abad, mesin VW Safari yang dulunya dipakai sebagai mobil dinas para camat di Indonesia ini masih kuat memacu kecepatan di lintasan lurus dan cukup lincah menaklukkan jalan berkelok.
Dari Inventaris Dinas Menjadi Ikon Wisata
Di kursi leader iring-iringan, Aldi (29), leader VW Safari Borobudur, menjelaskan bahwa perjalanan ini adalah “Around the Village” bahasa kerennya atau “Tilik Deso”. Tujuannya sederhana namun mendalam: mengenalkan potensi desa wisata agar wisatawan tidak hanya terhenti di gerbang Candi Borobudur.
“Borobudur itu bukan cuma candi. Ternyata, desa-desanya ini juga bisa dijadikan paket wisata yang lengkap,” jelas Aldi.
Ternyata, perjalanan ini menawarkan lebih dari sekadar pemandangan perbukitan. Ia menawarkan sejarah.
Rombongan diajak menyusuri area persawahan yang, konon, dulunya adalah sebuah danau purba. Menurut Aldi, danau itu lenyap akibat bencana besar yang dikenal sebagai Maha Paralaya—dari bahasa Sansekerta yang berarti “banyak orang meninggal.”
Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 900-an, saat tiga gunung aktif di sekitar Borobudur hampir meletus bersamaan. Bencana alam inilah yang disebut-sebut menjadi salah satu penyebab kepindahan Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur.
Melalui cerita itu, perjalanan terasa sarat makna. Borobudur adalah tanah yang menyimpan kisah kebangkitan dari kehancuran. Dan kini, kisah kebangkitan serupa tengah diukir oleh warga lokal.
Armada mobil-mobil yang mereka kendarai ini adalah bagian dari koleksi langka. Menurut Aldi, dari total sekitar 1.200-an unit VW Safari di Indonesia, setengahnya (650 unit) kini terkumpul di Desa Borobudur untuk tujuan wisata. Armada ini dikelola secara profesional, terbukti dari tingkat okupansi.
“Full booked kalau akhir pekan, nggak bisa dadakan kalau mau ikut tour VW Safari di akhir pekan,” terang Aldi, menekankan betapa suksesnya model bisnis ini.
Transformasi yang Membuat Terkesima
Bagi sebagian peserta, perjalanan ini terasa sangat personal. Salah satunya adalah Ayu Faiza dari Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, yang mengaku terkesima melihat perkembangan Borobudur.
Melintasi hamparan persawahan yang membentang luas dengan latar belakang Perbukitan Menoreh yang cantik di kejauhan, Ayu Faiza menyuarakan kekagumannya. “Saya lahir dan tinggal di daerah yang berdekatan dengan desa wisata Borobudur ini. Namun baru kali ini melihat penataannya sudah sedemikian apik, bersih, dan pelaku wisata yang terlatih,” tandas dosen UIN Walisongo Semarang itu . “Desa wisata Borobudur sudah sangat berkembang dibanding waktu saya kecil.”
Rasa takjub ini adalah cerminan dari filosofi Borobudur yang kini telah bergeser dari sekadar tujuan wisata sejarah, menjadi studi kasus pengelolaan pariwisata berbasis komunitas yang berkelanjutan.
VW Safari Borobudur Mengantarkan Berkah
Rute VW Safari dirancang untuk singgah langsung ke jantung produksi ekonomi lokal, salah satunya adalah sentra UMKM pembuatan rengginang dan camilan berbahan singkong. Di sinilah mesin tua VW menjadi lokomotif penggerak kesejahteraan.
VW Safari, yang tarif sewanya dipatok rata Rp 400.000 untuk paket dua jam, menjadi jembatan penghubung yang vital antara wisatawan dan denyut nadi ekonomi desa.
Salah satu ibu rumah tangga yang kini dipekerjakan dalam usaha rengginang, berbagi kisah perubahan hidupnya. Sebelum ada wisata VW Safari, usahanya cenderung sepi.
“Alhamdulillah, sejak adanya wisata VW Safari ini, usaha pembuatan rengginang ramai dikunjungi wisatawan, menjadi salah satu destinasi wisata,” ujarnya dengan senyum. “Jadi kami bisa dapat uang tambahan dari produksi rengginang, dibandingkan sebelumnya lebih banyak di rumah.”
Ujaran itu menggambarkan kesuksesan model kolaborasi yang diterapkan Desa Wisata Borobudur, di mana sebagian uang sewa VW dipotong untuk kas yang kemudian dialirkan untuk menghidupkan dan mengangkat produk UMKM warga sekitarnya.
Membawa Pulang Cetak Biru Harapan
Sekretaris PDM Kota Semarang, Suparno, menegaskan bahwa misi utama kegiatan “sekolah di atas roda” ini adalah konsolidasi dan pembelajaran. Selain membangun keakraban antar-majelis, lembaga dan ortom, PDM secara serius ingin mengamati model manajemen desa wisata ini—mulai dari strategi welcoming wisatawan hingga tata kelola armada.
Perjalanan 12,5 kilometer yang mengitari Candi Pawon, sawah bekas danau purba, UMKM rengginang, hingga Madu Menoreh ini telah tuntas. Para pengurus PDM kembali ke Semarang bukan hanya dengan oleh-oleh madu atau camilan. Mereka membawa cetak biru harapan baru: bahwa dengan kesadaran kolektif dan sentuhan inovasi—seperti mengubah mobil dinas tua menjadi ikon wisata—potensi lokal dapat diubah menjadi roda penggerak kemakmuran bagi masyarakat desa.
Borobudur, dengan segala kearifan lokalnya, telah memberikan pelajaran yang tak ternilai. Setidaknya bagi “siswa sekolah di atas roda”, peserta Capaciity Building PDM Kota Semarang yang belajar ke sana. .
Baca juga:
Belajar dari PDM Magelang: Tolak Mentalitas Ketergantungan Dana
Ketawa, Basah, Kompak! Beginilah Rasanya Capacity Building Ala PDM Kota Semarang