Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 7 menit baca

Menyoal Ulama Pewaris Nabi: Ini Kriteria Ulama Sejati Menurut Al-Qur’an (Bagian 6 dari 6)

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Menyoal Ulama Pewaris Nabi: Ini Kriteria Ulama Sejati Menurut  Al-Qur’an (Bagian 6 dari 6)

Setelah membahas definisi ulama dari seri kesatu hingga kelima, artikel penutup ini akan mengungkap esensi sesungguhnya dari sosok yang layak disebut ulama sejati. Siapakah sebenarnya mereka?

Hanya Allah yang mampu memberikan penjelasan yang pasti dan benar mengenai hal ini. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, yang menjadi kunci jawaban atas pertanyaan tersebut:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Artinya: “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS Fathir: 28).

Makna praktis dari penggalan ayat innama yakhsyallâha min ‘ibâdihil-‘ulamâ’ adalah bahwa hanya ulama di antara hamba Allah-lah yang memiliki rasa takut kepada-Nya.

Rasa takut kepada Allah ini tidak terhalang oleh keterbatasan indra, meskipun Dia adalah Zat Yang Maha Gaib. Seseorang yang takut kepada Allah, meskipun hanya diberi peringatan, ia tetap gentar terhadap-Nya.

Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:

اِنَّمَا تُنۡذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكۡرَ وَخَشِىَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَيۡبِۚ فَبَشِّرۡهُ بِمَغۡفِرَةٍ وَّاَجۡرٍ كَرِيۡمٍ

Artinya: “Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia” (QS Yasin: 12).

Melalui mafhum mukhalafah (pemahaman sebaliknya) dari diktum yakhsyallâh (takut kepada Allah) atau khasyiarra ḩ mân (takut kepada Allah Yang Maha Pengasih), dapat disimpulkan bahwa: sehebat apa pun ilmunya menurut ukuran manusia, jika ia tidak takut kepada Allah, ia bukanlah ulama sejati.

Ulama Sejati Menurut Al-Ghazali

Menurut Al-Ghazali, orang yang berilmu tinggi tetapi tidak takut kepada Allah hanya disebut wi’âul ‘ilm (wadah ilmu pengetahuan), bukan ulama. Dalam bahasa modern, mereka dapat diibaratkan sebagai ensiklopedia atau kamus hidup yang sarat ilmu, namun tanpa implementasi spiritual.

Jadi, ulama sejati adalah sosok yang memosisikan dirinya sebagai hamba Allah —tentu termasuk sebagai khalifah-Nya di bumi— dan memiliki keluasan ilmu bagaikan ensiklopedia. Mereka tahu dan takut untuk tidak melakukan perbuatan yang buruk atau dilarang oleh Allah dan Rasulullah. Sebaliknya, mereka melakukan kebaikan dengan ikhlas dan sabar, semata-mata mengharapkan rida Allah.

Contoh profil orang yang bertobat dan takut kepada Allah adalah Fudhail bin ‘Iyyad. Dulunya ia adalah seorang preman jagoan yang kejam. Dalam setiap aksinya, sasaran yang disamunnya pasti ludes, bahkan nyawa pun tak segan ia ambil. Menyamun adalah perbuatan yang sangat menyenangkan baginya karena ia bisa merampas milik orang tanpa harus bekerja.

Namun, suatu saat ia bertobat kepada Allah dan meminta maaf kepada siapa pun yang pernah ia begal. Ia menghabiskan hari-harinya dengan taat kepada Allah, banyak menangis menyesali dosa-dosa masa lalunya.

Ketika seseorang memilih untuk berbuat baik dan menahan diri dari perbuatan buruk, itu berarti ia bertindak berdasarkan ilmu yang dimilikinya dan didukung oleh kualitas keilmuan yang mendalam. Para ilmuwan juga menyatakan bahwa baik atau buruknya suatu perbuatan sebenarnya dapat diketahui oleh akal sehat, bahkan tanpa intervensi wahyu.

Tindakan seperti berzina itu buruk dan menikah itu baik; mabuk-mabukan itu buruk dan menolong orang itu baik; mencuri itu buruk dan bekerja mencari nafkah secara terhormat itu baik; jujur itu baik dan dusta itu buruk; korupsi itu buruk dan mengusahakan perdamaian itu baik, secara umum sudah dapat diketahui oleh akal manusia. Pengetahuan ini menjadi lebih terang benderang ketika dijelaskan oleh Allah dan utusan-Nya.

Terkait landasan ilmu, Allah berfirman:

هُوَ الَّذِىۡۤ اَنۡزَلَ عَلَيۡكَ الۡكِتٰبَ مِنۡهُ اٰيٰتٌ مُّحۡكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الۡكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ‌ؕ فَاَمَّا الَّذِيۡنَ فِىۡ قُلُوۡبِهِمۡ زَيۡغٌ فَيَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَهَ مِنۡهُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَةِ وَابۡتِغَآءَ تَاۡوِيۡلِهٖۚ وَمَا يَعۡلَمُ تَاۡوِيۡلَهٗۤ اِلَّا اللّٰهُ ؔ‌ۘ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِى الۡعِلۡمِ يَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ‌ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ

Artinya: “Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal” (QS Ali Imran: 7).

Berdasarkan ayat tersebut, ulama sejati tidak akan mau melakukan hal-hal yang sifatnya masih remang-remang antara baik dan buruk, atau halal dan haram. Mereka tidak akan mencari-cari alasan untuk mengklaim baik terhadap sesuatu yang masih samar.

Sebaliknya, ulama sejati akan mengerahkan pemahamannya di atas landasan iman kepada Kitab Allah, menggunakan kesatuan rasa, indra, rasio, dan intuisi untuk menentukan baik atau buruknya suatu perkara. Setelah itu, barulah ia melakukan yang baik dan menganjurkan orang lain untuk berbuat kebaikan tersebut.

Sebagai contoh nyata, ulama lillahi Ta’ala (demi Allah Ta’ala) akan mengatakan bahwa merokok itu buruk atau haram hukumnya. Mengapa? Karena ia mengetahui bahwa rokok mengandung banyak racun yang membahayakan kesehatan.

Peringatan bahaya merokok telah disampaikan berkali-kali oleh para ahli kesehatan. Dalam rokok, terdapat 250 jenis zat beracun dan 70 jenis zat yang bersifat karsinogenik. Salah satu kandungan rokok adalah gas beracun karbon monoksida yang tidak memiliki rasa dan bau.

Merokok berarti secara sadar memasukkan racun ke dalam tubuh. Di Indonesia, 80% kematian disebabkan oleh merokok (Komnas PT). Sementara itu, Al-Qur’an menyatakan:

وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِۛ وَاَحْسِنُوْاۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: “Janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan. Berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS al-Baqarah: 195).

Mengacu pada ayat ini, merokok—yang berarti memasukkan 250 jenis racun dan 70 zat karsinogenik ke dalam tubuh—dapat diartikan sebagai merencanakan penyakit diri secara sadar. Informasi dari ilmu kesehatan menunjukkan bahwa efek merokok dapat mengakibatkan penyakit jantung, kanker paru-paru, dan penyakit serius lainnya.

Tindakan ini berarti merusak diri secara sadar dan terencana. Ini juga seperti menantang pernyataan Allah bahwa manusia diciptakan dalam sebaik-baiknya bentuk (aḩsani taqwîm). Salah satu indikator aḩsani taqwîm adalah kesehatan jasmani dan rohani.

Oleh karena itu, jika ada orang yang secara umum disebut ulama, tetapi ia adalah perokok berat, secara hakikat ia bukanlah ulama sejati. Ia hanyalah ulama non-ori atau wi’âul ‘ilmi.

(Tamat)

Baca juga:

Menyoal Ulama Pewaris Para Nabi: Siapa Pewaris Nabi Sesungguhnya? (Bagian 1 dari 6)

Menyoal Ulama Pewaris Nabi: Benarkah Ilmuwan dan Sarjana Juga Termasuk ‘Ulama’? (Bagian 2 dari 6)

Menyoal Ulama Pewaris Nabi: Waspada! Ini 3 Tipe Ulama Culas Penjual Agama (Bagian 3 dari 6)

Menyoal Ulama Pewaris Nabi: Benarkah Ulama Bisa Memberi Syafaat pada Hari Kiamat? (Bagian 4 dari 6)

Menyoal Ulama Pewaris Nabi: Ciri Karakter Ulama Egois (Bagian 5 dari 6)

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: