Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 9 menit baca

Menyoal Ulama Pewaris Nabi: Benarkah Ulama Bisa Memberi Syafaat pada Hari Kiamat? (Bagian 4 dari 6)

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Menyoal Ulama Pewaris Nabi: Benarkah Ulama Bisa Memberi Syafaat pada Hari Kiamat? (Bagian 4 dari 6)

Perdebatan mengenai siapa yang berhak memberi syafaat pada Hari Kiamat adalah topik yang tak pernah sepi dibicarakan di tengah umat Islam. Dalam masyarakat, keyakinan bahwa para ulama dan tokoh saleh memiliki otoritas untuk memberikan pertolongan kelak di akhirat telah mengakar kuat.

Namun, seberapa jauh keyakinan ini berlandaskan pada dalil yang kuat, dan bagaimana kita seharusnya memahami konsep syafaat yang seringkali diselimuti misteri samâwiyât (berita-berita langit)?

Memahami Syafaat dalam Perspektif Ghaib

Beriman tentang syafaat pada Hari Kiamat adalah hal yang benar. Namun, realitas di akhirat sangat berbeda dengan dunia saat ini. Mengingat syafaat termasuk berita gaib (samâwiyât) dan merupakan kalâm mutasyabihât (perkataan yang mengandung makna samar), kita harus sangat berhati-hati dalam memahaminya.

Penting untuk mengimani syafaat pada hari kiamat secara global, bahwa ia pasti ada. Sebab, hadis-hadis mengenai syafaat memiliki arah pemahaman yang beraneka macam, menuntut kehati-hatian dalam menafsirkan.

Salah satu hadis riwayat Ibnu Majah menyebutkan bahwa Nabi, ulama, dan syuhada’ termasuk yang akan memberi syafaat.

Berikut adalah teks hadisnya:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْفَعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلَاثَةٌ اَلْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْعُلَمَاءُ ثُمَّ الشُّهَدَاء

(Tiga golongan yang akan memberi syafa’at kelak di hari Kiamat, yaitu: Para Nabi kemudian para ulama dan para syuhada`. HR Ibnu Majah: 4304. M. Nashiruddin al-Albani dan Abu Thahir Zubair ‘Ali Zai mengatakan bahwa hadis ini maudlu’).

Hadis lain yang diriwayatkan Ibnu Majah juga sering dikutip. Hadis ini menyajikan sebuah dialog yang mengesankan, di mana seorang ahli surga memberi syafaat kepada ahli neraka berkat kebaikan yang pernah dilakukan di dunia, seperti memberi minum atau membantu kebutuhan.

Teks hadis tersebut adalah:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصَفُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صُفُوْفًا وَقَالَ اِبْنُ نُمًيْرُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَيَمُرُّ الرَجُلُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عَلَى الرَجُلِ فَيَقُوْلُ يَا فُلَانْ أَمَّا تَذْكُرُ يَوْمَ اِسْتَسْقَيْتَ فَسَقَيْتُكَ شَرْبَةً قَالَ فَيَشْفَعَ لَهُ وَيَمُرُّ الرَجُلَ فَيَقُوْلُ أَمَا تَذْكُرُ يَوْمَ نَاوَلَتُكَ طُهُوْرًا فَيَشْفَعَ لَهُ قَالَ اِبْنُ نُمَيْرُ وَيَقُوْلُ يَا فُلَانْ أَمَا تَذْكُرُ يَوْمَ بَعَثْتَنِيْ فِي حَاجَةٍ كَذَا وَكَذَا فَذَهَبَتْ لَكَ فَيَشْفَعَ لَهُ

Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang-orang akan membuat shaf-shaf pada hari kiamat. Ibnu Numair menyebutkan, yaitu penghuni surga, lalu seorang lelaki dari ahli neraka melewati seorang lelaki (dari ahli surga), kemudian dia berkata: “Wahai fulan, masihkah kamu ingat di hari ketika kamu meminta minum kemudian aku memberimu minuman?” Ibnu Numair melanjutkan, “Maka dia memberi syafaat kepada laki-laki (ahli neraka) tersebut. Dan lewat pula seorang lelaki dan berkata: Masih ingatkah kamu di hari ketika aku memberimu air untuk bersuci? Maka laki-laki itu pun memberi syafaat kepadanya. Ibnu Numair melanjutkan, Lalu (seorang laki-laki) berkata: Wahai fulan, masih ingatkah kamu di hari ketika kamu mengutusku untuk satu kebutuhan seperti ini dan seperti ini, maka aku pergi untukmu? Maka dia pun memberi syafaat kepadanya (HR Ibnu Majah: 3675).

Sayangnya, hadis tentang dialog antara ahli neraka dan ahli surga ini, yang diyakini banyak muslim, ternyata memiliki kelemahan. Bagian narasi dialog tersebut, menurut penelitian, bukan berasal dari ucapan langsung Rasulullah, melainkan narasi dari Ibnu Numair. Oleh karena itu, M. Nashiruddin al-Albani dan Abu Thahir Zubair ‘Ali Zai mengatakan bahwa hadis ini dinilai maudlu’ (palsu).

Syafaat dalam Keyakinan Masyarakat

Keyakinan populer di tengah masyarakat muslim adalah bahwa ulama dan tokoh spiritual dapat memberi syafaat pada hari kiamat kepada komunitasnya di Hari Kiamat. Contohnya, ada yang meyakini pelaksanaan Haul Syekh Abdul Qadir Jaelani akan mendatangkan syafaat dari beliau, atau berharap Syekh Hasyim Asy’ari, dapat memberikan syafaat. Di komunitas tarekat, keyakinan bahwa mursyid (guru spiritual) dapat memberikan syafaat juga sangat kuat.

Hadis panjang lain, yang otentik dan disepakati oleh Bukhari dan Muslim, menunjukkan bahwa para malaikat, nabi, dan orang-orang beriman memang akan memberi syafaat.

Berikut adalah potongannya:

فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ شَفَعَتِ الْمَلَائِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّوْنَ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُوْنَ وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنَ النَّارِ فَيَخْرُجُ مِنْهَا قَوْمًا لَمْ يَعْمَلُوْا خَيْرًا قَطٌّ قَدْ عَادَوْا حَمَمًا فَيُلْقِيْهِمْ فِي نَهَرِ فِي أَفْوَاهُ الْجَنَّةِ يُقَالُ لَهَ نَهْرُ الْحَيَاةِ

Artinya: Allah lantas berfirman: Para Malaikat, Nabi dan orang-orang yang beriman telah memberi syafaat, sekarang yang belum memberikan syafaat adalah Dzat Yang Maha Pengasih. Kemudian Allah menggenggam satu genggaman dari dalam neraka, dari dalam tersebut Allah mengeluarkan suatu kaum yang sama sekali tidak melakukan kebaikan, dan mereka pun sudah berbentuk seperti arang hitam. Allah kemudian melemparkan mereka ke dalam sungai di depan surga yang disebut dengan sungai kehidupan (HR Bukhari: 6886, Muslim: 269, Ahmad: 10703).

Aksi para Malaikat, para Nabi, dan orang-orang mukmin dalam memberi syafaat ini adalah benar. Akan tetapi, posisinya sudah berada di fase akhir-akhir proses pengadilan, yaitu setelah manusia terbagi menjadi dua golongan: penghuni surga dan penghuni neraka.

Proses pemberian syafaat selanjutnya berlaku, dimulai dari mereka yang beriman terhadap saudaranya sesama mukmin. Syafaat paling akhir, bahkan datang langsung dari Allah SWT untuk orang yang sama sekali tidak beramal saleh sedikit pun. Jadi, hadis ini menyiratkan, pada akhirnya tidak ada manusia yang kekal di neraka.

Syafaat Hanya Milik Rasulullah

Namun, hadis Bukhari dan Muslim yang sangat panjang mengisahkan bahwa di Padang Mahsyar, setiap orang akan sibuk dengan urusannya masing-masing, sebagaimana firman Allah:

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ

Artinya: Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya (QS. ‘Abasa: 33-36).

Dalam kondisi kepanikan, manusia sibuk mencari pertolongan, hingga akhirnya mereka mendatangi Nabi Adam, kemudian Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa secara berurutan. Sayangnya, semua nabi tersebut menyatakan ketidakmampuan untuk memberi syafaat, dan mengarahkan umat manusia untuk menuju kepada Nabi Muhammad SAW.

Barulah ketika tiba di hadapan Nabi Muhammad SAW, ada peluang seseorang memperoleh syafaat atas dasar izin Allah dan antrian, atau tidak memperolehnya. (HR Bukhari: 4116, 6080, 6861, Muslim: 284). Hanya beliau yang memiliki otoritas untuk memberikan Syafaat al-Uzhma (teragung) atas izin Allah (HR Ahmad: 2606, Darimi: 2358, Muslim: 810, Bukhari: 323, 419).

Pengakuan Rasulullah SAW terkait otoritas ini tertuang dalam sabdanya:

لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ فَأُرِيدُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ أَخْتَبِيَ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

(Setiap Nabi mempunyai doa yang telah dikabulkan, sedang aku insya Allah terus akan menyimpan doaku sebagai syafaat untuk umatku di hari kiamat nanti – HR Bukhari: 6920).

Golongan yang Terhalang dari Syafaat

Meskipun demikian, Rasulullah juga menyebutkan golongan orang-orang yang tidak akan memperoleh syafaatnya:

  • Musyrikūn: Orang-orang yang menyekutukan Allah (HR Ahmad: 2606).
  • Koruptor: Orang-orang yang mengambil harta secara tidak benar. Bahkan terhadap koruptor, Nabi bersabda, “Ojo ketemu-ketemu (لَا أُلْفِيَنَّ يَجِيءُ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ) dengan koruptor kambing, sapi, unta, atau apa saja.” Beliau menambahkan, “فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا قَدْ بَلَّغْتُ (Aku berkata: Aku sedikit pun tidak punya kekuasaan atasmu karena aku dahulu sudah menyampaikan – HR Bukhari: 1314).”
  • Pengubah Syariat: Orang yang menambah (iḩdaṡ), merubah (taghyir), dan mengganti (tabdîl) syariat Nabi Muhammad. Mereka tidak akan memperoleh jatah minum dari telaga (HR Bukhari: 6097, 6528, Muslim: 367, 4243, 4247, Ibnu Majah: 4296, Malik: 53).

Kesimpulan Akhir

Syafaat adalah realitas akhirat yang pasti ada. Namun, fokus utama kita di dunia ini bukanlah sibuk mencari “calon pemberi syafaat,” melainkan bagaimana mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk kehidupan akhirat. Ini berarti menjauhi larangan, melaksanakan perintah, serta menjaga keimanan dan keikhlasan dalam beramal.

(Bersambung)

Baca juga:

Menyoal Ulama Pewaris Para Nabi: Siapa Pewaris Nabi Sesungguhnya? (Bagian 1 dari 6)

Menyoal Ulama Pewaris Nabi: Benarkah Ilmuwan dan Sarjana Juga Termasuk ‘Ulama’? (Bagian 2 dari 6)

Menyoal Ulama Pewaris Nabi: Waspada! Ini 3 Tipe Ulama Culas Penjual Agama (Bagian 3 dari 6)

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: